
Ririn yang tidak ikut pergi ke kampung Nia pun merasa kesepian, meskipun seharian menghabiskan waktunya di rumah sakit, faktanya rumah pak Cakra masih sepi karena rombongan itu memang belum kembali..
Tak berselang lama ada yang mengetuk pintu ,dengan cepat bibi membukanya ,sedangkan Ririn masih bersantai sambil nonton tv.
''Siapa Bi, teriak Ririn, namun tak ada jawaban dari Bibi,
''Aku ,jawab suara besar, siapa lagi kalau bukan sang kekasih yang sudah berdiri tepat di sebelahnya.
''Kamu, ngapain ke sini,?'' Tanya nya pada Zero, karena tak biasanya Zero datang ke rumah ,hanya untuk main saja.
Ririn hanya biasa saja melihat Zero, menurut Ririn, Zero itu terlalu serius tak seperti Refan yang suka bercanda,.
dan Ririn pun ikut menyikapinya dengan nada yang serius.
''Apa kamu nggak suka kalau aku kesini?'', kali ini pertanyaan Zero membuat Ririn terpaku, takut Zero tersinggung.
Ririn menggeleng, ''Bukan gitu ,maksudku kamu kan pasti baru pulang dari rumah sakit, dan kamu pasti capek,untuk apa ke sini, kan bisa lain waktu. Ririn ramah.
''Papa yang bilang kalau kamu dirumah sendirian, karena om Cakra dan yang lain pergi ke rumah Nia. ucapnya masih dengan posisinya yang berdiri karena Ririn pun tak menyuruhnya duduk.
''Kita jalan yuk...!''ajaknya tiba tiba membuat Ririn menghentikan ngunyah cemilan yang sudah masuk ke dalam mulutnya, matanya terbelalak, lidahnya kaku bahkan untuk menelan ludah pun sangat sulit.
''Kamu beneran?'', ucapnya dengan nada terkejut ,masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Zero. .
Sedangkan Zero mengangguk.
Aku pikir selama kita pacaran kamu nggak akan pernah mengajakku jalan ,karena kamu terlalu serius, batinnya.
Setelah mendapat anggukan dari Zero, Ririn berlalu ke kamarnya untuk mengganti baju.
Ririn melihat wajahnya di depan cermin,
dan sedikit memakai make up, karena selama ini pun Ririn cuek dengan wajahnya yang sudah terlihat cantik.
''Aku suka dengan laki laki yang romantis seperti kak Refan ,dan aku harap kamu juga bisa romantis seperti kakak. ucapnya sebelum meninggalkan kamar nya.
__ADS_1
Zero melajukan mobilnya, karena belum ada tujuan ,akhirnya Zero angkat suara.
''Kamu pingin ke mana,?'' suara itu mengagetkan Ririn kembali, dari lamunannya,.
''Aku juga nggak tau, aku fikir kamu sudah tau kemana tujuan kita, ucapnya perlahan.
''Ririn sayang, panggil Zero membuat Ririn seketika itu menoleh padanya.
''Aku juga belum tau, selama ini aku nggak pernah keluar, meskipun libur aku juga punya kerjaan lain.
Ririn mengangguk kesenangan karena sudah mendapat panggilan sayang.
''Gi mana kalau kita nonton saja,?'' kata Ririn barang kali Zero mau.
''Terserah kamu saja, aku mengajakmu, dan aku akan membuatmu senang, kalau menurutmu di tempat itu kamu nyaman, kita nonton, akhirnya Zero melajukan mobilnya ke bioskop untuk nonton.
Setelah mobil terparkir, Zero membuka pintu mobil untuk Ririn, dengan senang hati Ririn tersenyum dan keluar.
''Kamu suka nonton apa,?'' tanya nya pada Ririn,
''Romantis, ucapnya seketika, karena memang itu yang selalu Ririn suka.
Ternyata aku salah, dia juga romantis, mungkin karena kesibukannya jadi dia jarang sekali untuk bersantai, batin Ririn.
Setelah masuk dan mendapatkan tempat duduk ,Zero dan Ririn pun mulai menikmati film yang di putar.
''Kenapa kamu nggak menolak ajakan ku, apa kamu juga suka film romantis juga, di sela sela nontonnya masih saja Ririn mengeluarkan pertanyaannya.
Zero tersenyum kecil,''Suka nggak suka yang penting kamu menyukainya, sudah ,lebih baik kamu nikmati filmnya, nanti keburu selesai, perintahnya dengan cepat Ririn pun kembali menghadap layar.
Film apapun aku nggak suka Rin ,tapi mulai sekarang aku akan mulai menyukai apapun yang kamu sukai, mungkin aku memang bukan laki laki yang bisa romantis seperti yang kamu harapkan, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin supaya kamu tetap merasa nyaman di sampingku, batinnya.
Di tengah tengah film yang terputar, tiba tiba saja Ririn menangis tersedu sedu membuat Zero bingung,
''Kau kenapa?'' tanyanya, sambil mengelap air matanya di pipi Ririn dengan tisu.
__ADS_1
Ririn tak menjawab malah menunjuk ke arah layar, Zero pun mengikuti kemana jari telunjuk Ririn mengarah.
Setelah melihat beberapa menit, Zero tertawa keras hingga orang di sampingnya ikut memperhatikannya.
''Maaf, ucapnya sambil menangkupkan kedua tangannya karena membuat keributan.
''Kenapa kamu tertawa ,semua orang pada sedih, tapi kamu malah terlihat bahagia.
''Sorry, kirain kamu kenapa, tapi setelah aku lihat adegan itu aku ingin tertawa.ucapnya pelan di telinga Ririn.
Zero melihat adegan drama yang meninggalkan istri demi selingkuhannya yang lebih kaya, dan Zero fikir itu hanya ada di film, bukan di kisah nyata maka dari itulah Zero tertawa.
''Apa kamu akan seperti itu juga, ?''Ririn memastikan.
Zero meraih tangan Ririn dan meletakkan makanan yang di pegangnya dari tadi ,menggenggam erat dengan kedua tangannya, sambil mendekatkan wajahnya.
''Kamu lihat mataku baik baik, perintahnya, Ririn pun menurut melihat mata lebar Zero,
''Selama ini aku belum pernah dekat dengan wanita, karena menurutku mereka itu sangat merepotkan dan manja, dan aku sangat menikmati pekerjaanku dan kesendirianku, tapi semenjak aku kenal denganmu ,aku mengerti bahwa tak semua wanita itu seperti yang ku kira, ternyata kamu melengkapi hidupku, dan kamu nggak usah baper, itu cuma film, sini !''meraih kepala Ririn menaruh di pundaknya.
Ririn merasa nyaman saat kepalanya bersandar di pundak Zero, bahkan kali ini Ririn tak menikmati film, malah terhanyut dengan dirinya sendiri karena sikap Zero yang sangat romantis hingga beberapa jam film telah usai pun Ririn tak sadar kalau semua orang sudah berhamburan keluar, ruangan yang gelap itu kini sudah mulai sepi, tapi tak ada tanda tanda Ririn untuk mengangkat kepalanya ,karena terbawa oleh dunia mimpi.
Apa Ririn tidur, batin Zero.
Karena di tunggu lama tak ada pergerakan, akhirnya Zero mengelus lengan Ririn.
''Ririn, bangun, filmnya sudah selesai, tapi masih belum ada tanggapan dari Ririn .
Zero menghela nafas panjang dan menghembuskannya kasar,
Bagaimana ini ,apa aku harus membiarkannya, tapi ini kan sudah malam, dan nggak baik kalau aku mengajak dia pulang kemalaman ,nanti kak Refan bisa marah, batinnya ,sedikit resah.
Mencoba mengulangi
''Ririn sayang, kita pulang, filmnya sudah selesai,ucapnya kembali tepat di telinga Ririn yang membuat sang empu terkejut, Sontak Ririn mengangkat kepalanya dan menoleh mencari penghuni bioskop, karena sudah tak menemukan satu pun orang di sekelilingnya, akhirnya Ririn menoleh melihat Zero yang sudah menampakkan senyum nya.
__ADS_1
''Maaf, aku ketiduran, kata nya ragu.
''Tidak apa apa, kita pulang!'', Zero langsung menggandeng tangan Ririn keluar dari bioskop.