KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 166.Membujuk


__ADS_3

''Pak Jono, aku tidak jadi ke kantor, teriak Refan pada sang supir, karena sebelum Mike berangkat mengantar Mr Wilson ,Refan pun siap ke kantor, namun karena melihat Sahila saat ini Refan mengurungkan niatnya.


Sahila masuk ke dalam kamar,meskipun dalam hatinya sudah tidak sesedih tadi, tapi tetap saja, itu masih terbayang dalam pikirannya.


Sahila memilih untuk membaringkan badannya menarik selimutnya dan meringkuk membelakangi pintu.


Setelah memerintah pak Jono ,Refan pun langsung menyusul sang istri berharap Sahila sudah tidak memikirkan sesuatu yang mungkin akan berdampak buruk pada diri dan janinnya.


''Sayang, apa kamu masih marah padaku, ?''ucapnya ikut membaringkan tubuhnya, merangkul pinggang Sahila dari belakang dan mengelus perut buncitnya.


Sahila masih saja diam.


Sungguh nasib, menghadapi istri ngambek lebih susah dari pada mengerjakan seribu proyek batin Refan.


Refan pun diam sebentar mencari kata kata untuk membujuk Sahila agar tak mendiamkannya lagi.


Akhirnya otak cerdas Refan teringat kalau Sindi saat ini baru saja melahirkan, mungkin itu akan menjadi senjata untuk nya.


''Sayang... ucap Refan mulai merayu. ''Katanya kamu mau nengok Sindi dan bayinya, apa nggak sebaiknya kita berangkat sekarang, mumpung mas lagi nggak kerja, ucapnya kembali dengan pelan tepat di telinga Sahila sambil menyunggar rambut Sahila yang sedikit berantakan.


Sahila masih saja diam,.


Cara apa lagi ya, biasanya dia paling antusias kalau soal bayi, kenapa sekarang tidak meresponku, apa dia benar benar marah padaku. batinnya kembali.


Refan ikut diam menatap langit langit kamarnya berharap ada cara lagi yang sangat jitu untuk membuat Sahila kembali tersenyum.


''Sayang, kita jalan jalan ya, kita belanja, apa kamu nggak mau beli perhiasan yang limitied edition, mas dengar minggu ini ada pengeluaran terbaru, ucapnya kembali,


Ha... ha.. ha... sogokan macam apa itu ,apa dia pikir aku matre bisa di sogok pakai perhiasan, Sahila semakin jengkel.


Sahila membalikkan badannya melihat Refan,


Sedangkan Refan langsung menyambutnya dengan senyuman.


''Apa mas kira aku suka dengan perhiasan, lihat saja yang di lemari itu nggak pernah aku pakai sama sekali, kalau untuk nengok Sindy kita tunggu pulang saja biar lebih santai, kalau di rumah sakit aku nggak bisa gendong babynya, apa mas memang nggak punya cara lain selain itu,?''Sahila menuntut.


Apa lagi ya, batinnya sambil mengetuk ngetuk jarinya di pipi.

__ADS_1


''Emmm.... kalau gitu kita VC Ibu saja deh, semenjak kamu hamil kan belum pernah lihat ibu langsung, kamu cuma bicara lewat telepon saja, jadi sekarang kita VC saja, meskipun jauh kan kamu bisa lihat Ibu, tiba tiba otak Refan mengingat sang mertua, demi membuat anaknya tersenyum.


Bukan antusias Sahila malah tertawa seperti mengejek, Sedangkan Refan malah heran dengan sikap istrinya kali ini, sebentar ngambek sebentar tertawa sebentar nangis.


''Mas, mas...bukan saatnya ngelawak sayang, mana bisa kita VC, ponsel ibu kan masih jadul, jadi percuma, mau sampai seharian penuh pun wajah ibu tidak akan terlihat, masih dengan tawanya.


Oh iya.. ya dia kan belum tau kalau aku sudah megganti ponsel ibu dengan yang lebih bagus,.


Karena tanpa sepengatahuan Sahila ,Refan mengirim anak buah ke rumah Ibu mertuanya untuk merenovasi rumah dan yang lain termasuk memberi ponsel yang lebih canggih.


''Hadiahnya apa kalau sampai wajah Ibu nampak?'', Kini Refan mulai santai karena sudah melihat Sahila tertawa itu sudah cukup puas.


''Apa ya, ucap Sahila masih memikirkan apa yang akan di ucapkannya.


''Terserah, minta apapun aku akan menurutinya, mendengar ucapan Sahila ,Refan langsung saja mengeluarkan ponsel miliknya dan mulai menggeser mencari no kontak mertuanya.


Setelah mendapat, Refan mulai menghubungkannya, ''Cium dulu!'' perintahnya.


Dengan cepat Sahila mencium Refan, meskipun sedikit cemberut,.


Sahila tak bisa berkata apa apa, bahkan dirinya saat ini menutup mulutnya yang dari tadi menganga karena terkejut.


Air matanya mulai membanjiri karena terharu melihat wajah ibunya,


Hai, Ini Ibu, kenapa kamu malah menangis, ucap Bu Nur, (Ibu Sahila)


''Aku nggak mimpi kan,?'' Sahila masih saja belum mempercayainya.


Sahila melihat Refan yang menggeleng. ''Kamu tidak beemimpi ,ini nyata. bisiknya.


''Ibu, aku kangen, tapi aku tidak bisa ke sana karena sekarang perutku sudah besar, aku sering lelah kalau duduk lama lama. ucapnya sambil menangis.


Ibu tau, lagi pula Ibu juga pernah mengalami seperti kamu, jadi nggak apa apa, nanti kalau kamu melahirkan pasti ibu akan ke sana, ucap sang Ibu dari balik telepon.


''Ibu dari kapan punya ponsel canggih seperti itu? ''Sahila kembali bertanya sambil melihat sang suami yang ada di sampingnya


Refan hanya tersenyum simpul,

__ADS_1


Sudah agak lama, tapi Ibu lupa tepatnya kapan, ini pemberian suamimu, awalnya ibu juga menolak, karena orang utusan suamimu itu memaksa dan mengajari Ibu jadi terpaksa Ibu menerimanya,.


Kini pandangan Sahila mengarah pada dinding yang ada di belakang sang Ibu terlihat lebih cerah, bahkan hiasan dinding yang nampak pun terlihat lebih bagus dan mahal.


''Ibu lagi ada dimana sekarang,.?'


Pertanyaan Sahila membuat hati Refan cekikikan, namun kali ini Refan memilih berbaring membiarkan istri dan mertuanya itu ngobrol.


Di rumah, memangnya kenapa, Ibu lagi bersih bersih, e.. tiba tiba posel ibu bunyi, jadi ibu mengangkatnya.


Sahila lebih heran lagi mendengar ucapan sang Ibu.


''Ibu tolong perlihatkan ruangan rumah Ibu, saking penasarannya Sahila langsung menanyakannya.


Bu Nur memutar ponselnya, layarnya memperlihatkan seluruh ruangan yang sudah di sulap, dekorasi rumahnya pun sudah nampak beda, serta kursi yang dulu sudah tua kini semua di ganti baru ,serta hiasan dindingnya itu bukan lukisan kecil ,melainkan lukisan lukisan besar yang pastinya sangat mahal.


Aku tau ini pasti ulah mas Refan, siapa lagi coba yang berani merubah rumahku kecuali dia,


Sambil menoleh ke arah Refan yang sudah pura pura memejamkan matanya,


Setelah keduanya melepas rindu lewat internet, Sahila memutuskan ponselnya menyangga tubuhnya dengan satu tangannya melihat wajah Refan dari dekat dan langsung melayangkan bibirnya tepat di telinga Refan.


''Kamu memang paling bisa membujukku, dan terima kasih untuk semuanya, bahkan kamu sudah membuatku senang hari ini, ucapnya,


Dalam hati Refan saat ini merasa menang, karena kali ini Sahila pasti akan memberikan hadiah apapun yang di mintanya.


Refan membuka mata dan tersenyum melihat wajah Sahila yang dekat dengannya.


Pasti mintanya itu, itu ,itu, hafal aku, batin Sahila.


''Jangan berfikir mesum, aku nggak minta itu kok, Refan duduk menghadap Sahila yang kini ikut duduk, mereka berhadapan, Refan memegang kedua tangan Sahila dan menggenggamnya.


''Mas hanya minta kamu untuk memaafkan semua kesalahan mas waktu itu, andai saja waktu bisa di putar, mas akan mengawali pertemuan kita dengan sangat baik, dan mas tidak akan menyakiti kamu, seperti yang dulu aku lakukan, dengan cepat jari Sahila menutup bibir Refan sebelum mengatakan semuanya yang memang terasa menyakitkan.


''Tidak usah di bahas lagi ,aku sudah melupakan semuanya, mas jangan merasa bersalah terus, tadi aku cuma terbawa suasana saja, ucapnya terswnyum mengelus pipi Refan dengan satu tangannya.


''Terima kasih .kata Refan sambil mencium kening Sahila dengan lembut dan lama.

__ADS_1


__ADS_2