
Setelah selesai kuliah ,Sahila melihat Sindi keluar terlebih dahulu, Sahila segera membereskan bukunya dan berlari mengejar Sindi.
Sampai di lorong kampus ,Sahila melihat punggung Sindi keluar dari kampus.
''Sindi, tunggu.... !!'' teriak Sahila membuat Sindi menoleh.
Namun saat Sindi tau Sahila yang memanggilnya, Sindi melanjutkan jalannya bahkan lebih cepat,.
Akhirnya mau tidak mau Sahila harus mengejar Sindi sampai di luar kampus,
Sahila clingak clinguk mencari sosok yang di cari.
Setelah melihat ke segala arah, akhirnya sosok yang di cari di seberang jalan.
Saking antusiasnya Sahila pun tak menoleh arah kanan kiri, dengan bersamaan jalannya Sahila ada mobil melaju sangat kencang,
Sindi yang melihatnya pun jadi panik antara menolong dan diam.
''Sahila... awas.... teriak Sindi.
Brak..... Namun kecelakaan pun tak bisa di hindari, Sahila terpental di pinggir jalan, sedangkan mobil yang menabrak pun berbelok dan menabrak pembatas jalan.
Sindi berlari ke arah Sahila yang kini sudah di penuhi darah,
Sindi mengangkat kepala Sahila dan di pangkunya ,
''Sahila bangun, teriak Sindi sambil melihat Sahila yang tak sadarkan diri,
Sindi menangis sejadi jadinya membuat semua orang ikut panik.
Sedangkan Rendy yang melihat kerumunan dari kejauhan pun menjadi bertanya tanya.
''Pak ada apa di sana, kok rame sekali, tanya Rendy pada orang yang lewat.
''Ada kecelakaan mas, sepertinya maha siswa kampus sini,
Tanpa fikir panjang Rendy langsung berlari ke tempat kejadian, Rendy membelah kerumunan dan betapa terkejutnya melihat Sindi sedang menangis,
''Sindi, Sahila kenapa, kenapa dia jadi begini?''tanya Rendy sambil berjongkok,
''Ren, cepat bawa Sahila ke rumah sakit, cepet!''
Sindi sambil menangis.
Rendy langsung pergi mengambil mobil untuk mengantar Sahila ke rumah sakit.
Setelah tiba, Sahila langsung di bawa ke ruangan ICU untuk di tindak lanjuti.
Di luar ruangan Sindi masih dengan tangisnya,
''Kamu yang tenang Sin, aku yakin Sahila nggak kenapa napa.
''Semua ini salah ku Ren, kalau saja aku mau mendengarkan penjelasan Sahila, mungkin kejadiannya nggak akan seperti ini,
__ADS_1
''Sudahlah, jangan nyalahin diri sendiri, kita doakan saja, semoga semuanya baik baik saja,
''Ren, aku takut, kalau dia kenapa napa, aku harus bilang apa sama keluarganya?''
''Kalau gitu kita hubungi saja papanya, mana tas, Sahila?tanya Rendy.
Sindy menunjuk di bangku di mana tas Sahila berada.
Rendy membuka tas Sahila dan mendapati ponsel Sahila hancur.
''Ini gi mana Sin ponsel Sahila rusak, kita harus gi mana nih. ucap Rendy bingung.
Akhirnya Rendy mengambil sim card dan memindahkan ke ponselnya,
Rendy terkejut melihat nama yang tertera hanya nama papa dan Ibu.
Tanpa pikir panjang, Rendy menghubungi nomor papa.
Tak lama ponsel Rendy langsung tersambung .
Tanpa basa basi Rendy langsung mengatakan kejadian yang menimpa Sahila.
-----------------------
Pak Cakra yang mendapat kabar langsung panik, pak Cakra menghubungi anak buahnya untuk menyiapkan pesawat, karena sekarang juga pak Cakra akan kembali ke Indonesia.
Pak Cakra menghampiri Refan dan memeluk nya.
''Fan, papa nggak bisa nginep lagi di sini, ada urusan penting dan papa harus pulang sekarang,
''Wan ,Don, kita harus pulang, Pak Cakra langsung menghampiri Iwan dan Doni yang sedang mengobrol menikmati pesta.
Meskipun bingung Iwan dan Doni langsung mengikuti pak Cakra pergi ,tanpa pamit kepada Refan.
''Ada masalah apa ini ,kok kelihatannya om Cakra panik, tanya Doni pada Iwan.
Iwan hanya mengangkat kedua bahunya,
Sedangkan Refan pun bingung dengan papanya yang tiba tiba saja pulang, namun dalam benak Refan terselip, mungkin papanya memang tak mau melihat Kania.
Di dalam pesawat Pak Cakra masih dengan kepanikannya dan beberapa kali menghubungi seseorang.
Setelah beberapa jam ,Pesawat yang mereka tumpangi tiba di bandara,
Mobil pun tiba dan pak Cakra langsung masuk bersama Doni dan Iwan.
''Pak kita ke rumah sakit, kata pak Cakra kepada pak supir yang membuat Doni serta Iwan tercengang.
Dengan keberaniannya Iwan mulai bertanya,
''Om, siapa yang sakit, kok om kelihatannya panik?'' tanya Iwan ragu ragu.
''Sahila kecelakaan, dan sekarang dia di rumah sakit, jawaban yang membuat Iwan serta Doni terpaku.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit Iwan dan Doni serta pak Cakra langsung masuk dan mencari ruangan Sahila.
Pak Cakra melihat Sindi dan Rendy di depan ruangan Sahila, wajah Sindi memucat melihat laki laki paruh baya menghampirinya,
''Kalian siapa,? ''tanya pak Cakra serius, yang membuat Rendy tegang.
''Sa... saya temannya Sahila Om, tadi saya yang bawa Sahila ke sini.
Pak Cakra mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
''Terus gi mana kedaannya Sahila,?''tanya pak Cakra kembali.
''Maaf Om ,dokter tidak mengatakannya pada kami, kata dokter menunggu keluarganya. jawab Rendy.
Sedangkan Doni dan Iwan hanya diam tanpa kata.
------------------------------
Setelah selesai resepsi, Refan dan Kania kini sudah berada di kamar hotel,
''Sayang aku capek, kata Kania manja.
''Ya udah sekarang kamu mandi dulu, setelah itu aku pijitin kamu,
Kania masuk ke kamar mandi ,sedangkan Refan berusaha menghubungi Iwan,
Namun sayang ponsel Iwan maupun Doni tak bisa di hubungi,
''Sial, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa papa buru buru pulang, kalau memang papa nggak suka dengan Kania, papa kan bisa nginap di resort dan tak harus pulang, gumam Refan.
Kania yang baru keluar dari kamar mandi melihat Refan pun mengernyitkan dahinya.
Pasalnya Refan seperti orang yang sedang kebingungan.
''Sayang kamu kenapa, kok kelihatannya bingung gitu?'' tanya Kania sambil membelai pipi Refan,
''Aku nggak apa apa kok, katanya kamu capek, mendingan kamu tidur aja dulu, aku mau mandi dulu,
Kania mengangguk.
Refan kini berada di kamar mandi, namun pikiran Refan saat ini sedang kacau, seperti ada yang mengganjal, namun Refan juga bingung, mestinya ini adalah malam pertama bagi dirinya dan Kania, namun Refan seperti enggan untuk melakukannya, padahal cintanya Refan untuk Kania masih begitu besar,
''Kenapa dengan diriku ya Tuhan, kenapa belakangan ini sepertinya ada yang aneh, tapi apa, di dalam kamar mandi Refan hanya bergumam dengan guyuran air sower
''Refan kenapa sih, kenapa dari tadi dia seperti bingung gitu, apa yang sebenarnya di fikirkan, apa dia tau kalau aku sudah tidak perawan, apa dia akan meninggalkan aku ,tapi nggak mungkin, dia kan cinta mati sama aku, pasti dia akan menerima aku apa adanya, batin Kania menerka,
Setelah kurang lebih satu jam, Refan keluar dari kamar mandi dan sudah mendapati Kania sudah tertidur pulas,
Refan tersenyum kecil sambil melihat Kania yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.
Refan ikut merebahkan badannya di ranjang dan memakai selimutnya. malam yang seharusnya jadi malam panjang namun terlewatkan dengan begitu saja.
------------------
__ADS_1
Sedangkan di rumah sakit pak Cakra Iwan serta Doni masih setia menunggu Sahila ,Sedangkan Rendy dan Sindi pulang ke rumah masing masing,