KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 234. Cerita peyem


__ADS_3

Jalan jalan macam apa ini, Mungkin kata itulah yang ada di hati Sahila saat ini karena yang di inginkannya berkumpul bersama yang lain, justru Refan mengajaknya hanya berdua ,bahkan Kyara pun ikut dengan mobil yang di tumpangi Ririn.


Beberapa kali suap foto itu terkirim dari grup macan ke ponselnya semakin membuat Sahila menjerit jerit ingin meloncat dari mobilnya.


''Mas, kita susul yang lain ya?'', rengekan Sahila sambil menggoyang goyangkan lengan Refan yang sedang sibuk menyetir.


Refan hanya diam saja tak mau menuruti istrinya,karena Refan memang hanya ingin berdua dan tak mau melihat keributan dari yang lain.


Tiba lah mereka melewati sebuah pasar tradisional,


Sahila melihat ke arah pasar, berbagai jualan pun di pamerkan, karena memang jiwa kampungnya masih melekat, banyak yang dia sukai termasuk kuliner yang berbahan dari kampung.


Mengingat waktu kecil yang selalu senang jika di ajak ke pasar sang ibu untuk menemaninya belanja.


''Mas tau kalau pasar adalah tempat kesukaanku dari kecil?'', berkata, ya seperti bertanya dengan teka tekinya.


Refan menggeleng, ''Waktu itu kan kita belum bersama, jadi mas ya nggak tau lah,


Sahila menepuk jidatnya dan tersenyum.


''Mas aku pingin itu, ucapnya lagi sambil menunjuk ke arah besek yang berjejer di dekat jalan, Refan memelankan mobilnya dan melihat ke arah sesuatu yang di tunjuk Sahila.


''Apa itu?'', tanya nya penasaran,.


''Peyem...jawab Sahila singkat.


Hem.... Refan mengangguk dan meminggirkan mobilnya..


''Kamu menyukainya?'', Tanya Refan lagi melihat istrinya yang sudah tidak mengalihkan pandangannya dari makanan yang bernama peyem ,


''Cerita tentang peyem sampai membuatku menangis gara gara nggak kebagian mas, karena semua sudah di habiskan temanku, aku sanpai merengek minta di belikan sama ayah,


Karena penjualnya tidak ada ,aku marah dan tidak mau makan sampai sehari ,


Refan mendengar cerita istrinya yang terdengar sedikit mengenaskan karena tak bisa makan kesukaannya.

__ADS_1


''Sekarang kamu beli sebanyak banyaknya, sebagai ganti waktu itu ucapnya sambil mengusap kepala Sahila.


Dengan antusias Sahila turun dan mendekati penjual berbagai kuliner dari yang ringan sampai yang berat.


Sahila melihat lihat, namun yang disukai hanya peyem dan pisang tanduk.


''Mas ,aku mau ini juga ya, teriaknya pada Refan yang mematung di luar kedai, sambil memegang pisang yang tergantung.


Refan hanya bisa mengangguk tak mau protes dengan keinginan sang istri saat ini.


Memilih beberapa besek peyem dan berbagai varian cemilan dan memasukkannya ke mobil.


''Sudah?'',kalau mau lagi ambil saja, tawar Refan saat melihat Sahila keluar dari kedai.


Sahila mengangguk dan tersenyum.


''Ayo kita jalan lagi ,siapa tau ada lagi makanan yang aku suka, ucapnya lagi, membuat Refan menggeleng.


''Itu saja belum kamu makan mau yang lain lagi, memang muat tuh perut ,candanya sambil membukakan pintu mobil untuk Sahila.


''Kalau nggak habis bagian kamu yang menghabiskan dong mas, Sahila menimpali membuat Refan tertawa .


Hanya butuh kesederhanaan untuk mencintai kamu sayang, dan tak perlu uang banyak untuk membuatmu bahagia. lirih hati Refan.


Satu tangan Refan kini menggenggam tangan Sahila.


''Apa kamu tidak ingin sesuatu yang lebih mahal, tanya nya mulai sombong dengan kekayaannya.


Sahila menggeleng, ''Untuk apa barang mahal, toh aku sudah tidak butuh apa apa lagi sekarang dan untuk selamanya yang aku butuhkan hanya kamu mas, dengan kamu di sampingku saja itu sudah membuatku bahagia, lagi pula kalau bukan menuruti sahabat, aku juga enggan untuk membeli sesuatu yang mahal , ucapnya sambil menepuk nepuk punggung tangan Refan yang masih menggenggamnya.


Setelah beberapa menit, tak sengaja Sahila melihat mobil Mike dan Ririn yang sudah menyalipnya.


''Mas kejar, itu kan mobil Ririn dan Tuan Mike. ucapnya antusias.


Oh.. No... mas hanya ingin berdua saja, ribet kalau sama mereka yang ada telinga mas ini terbakar, ucapnya santai, meskipun berulang ulang Sahila cemberut ,Refan tak menghiraukannya.

__ADS_1


Ini mah namanya percuma juga, katanya ingin membuatku happy nyatanya membuatku jengkel nih kalau kayak gini.


Setelah beberapa menit berlalu dari pertemuannya dengan mobil Mike, Refan menghentikan mobilnya, dan melihat wajah Sahila yang cemberut.


''Kita turun ,inilah tempat kita berlibur, lagi lagi Refan merasa kalau dirinya tak punya salah dengan Sahila yang mengajaknya berdua saja.


Dengan terpaksa Sahila ikut turun dan mengikuti Refan, berjalan menuju sebuah taman yang sangat indah, meskipun sepi sekali pengunjung namun itu sudah membuat Sahila menarik bibirnya berbentuk senyuman manis.


''Ini indah sekali mas, ucapnya sambil melihat ke segala penjuru.


''Tapi lebih indah lagi kalau bersamamu, Refan menggandeng tangan sahila dan mendudukkannya di kursi bawah pohon yang lebat.


Angin sepoi sepoi menerpa rambut Sahila yang terurai hingga menutupi sebagian wajahnya, udaranya yang sejuk membuat hati ikut terbawa suasana.


Sahila menyandarkan kepalanya tepat di pundak Refan.


''Apa kamu bahagia menjalani tumah tangga denganku?'', pertanyaan Refan menggugah otak Sahila yang berhenti sejenak untuk berfikir.


''Kamu tidak usah menanyakan hal yang aneh seperti itu mas, kalau aku tidak bahagia pasti kita sudah tidak bersama dan pasti aku sudah pulang ke kampung.


Jawaban Sahila membuat wajah Refan tak bisa di artikan, ada rasa terharu mengingat perjuangan sang istri, ada rasa bahagia melihat istrinya bahagia, dan ada rasa sedikit kecewa karena pernah ada luka yang di tanam di hati Sahila.


Apakah memang cintaku selama ini bisa menghapus luka yang pernah aku berikan. batinnya.


Tanpa di sadari, tiba tiba saja Sahila menguap dan dengan perlahan memejamkan matanya,


Refan yang terhanyut suasana tidak menyadari kalau istrinya itu kini sudah terlelap bahkan suasana pagi menjelang siang itu tidak terlalu panas karena matahari yang tertutup mendung.


''Sayang, panggilnya, namun tak ada sahutan,.


Refan merangkul dan mengelus lengannya, namun Sahila masih saja tak bergeming.


''Sayang, panggilnya lagi.


Refan sedikit terkejut saat tak ada pergerakan sama sekali dari sang istri.

__ADS_1


Namun Refan bernafas lega saat mendengar hembusan nafas yang halus Sahila, itu berarti tertidur dan mungkin itu efek obat yang di berikan Zero setelah sarapan pagi.


''Jika waktu bisa di putar kembali, aku tidak akan pernah jatuh cinta pada wanita lain selain dirimu, hanya waktu yang bisa memisahkan dan mempertemukan kita, aku memang menyesali saat aku menyakitimu, tapi aku akan lebih menyesal lagi jika aku tidak tau kenyataannya bahwa kau adalah bidadari kecilku, bocah cilik yang berhasil membuatku tersenyum, dan sekarang kamu sudah berubah menjadi gadis ,bukan gadis, wanita yang membuat hatiku terpikat, terima kasih atas waktu yang kau berikan untukku, ucapnya pelan sambil menyelipkan rambut Sahila yang menutupi pipinya.


__ADS_2