
Pagi yang buta, Refan masih saja setia di balik selimut ,enggan untuk membuka matanya,menatap kembali dunia yang akan mewarnai harinya dengan kesibukan.
Sahila yang melihat suaminya itu langsung menghampirinya menyunggar rambut Refan yang menutupi jidatnya.
Kenapa perasaanku nggak enak sih, mas Refan mau pergi, tapi kenapa aku malah merasa resah, batinnya.
''Mas, bangun!'', ucapnya pelan di telinga Refan.
Karena mendengar suara yang sangat khas itu Refan menggeliat dan pelan pelan membuka matanya
menarik tubuh Sahila hingga jatuh ke pelukannya.
''Jam berapa?'', tanya Refan dengan suara serak khas bangun tidur.
Sahila melihat jam yang ternyata memang masih pagi dan belum waktu ke kantor.
''Masih pagi sih, tapi kan kamu harus siap siap, terus barang bawaanmu di cek lagi, jangan sampai lupa ,ucapnya masih dalam mode pelukan sambil berbaring.
Setelah beberapa waktu hening sejenak ,akhirnya Refan angkat bicara.
''Baiklah, tapi kasih morning kiss dulu ,ucapnya memanyunkan bibirnya.
Dengan cepat Sahila memenuhi permintaan Refan.
''Oh.. iya mas lupa, ucapnya berbalik sebelum masuk kamar mandi.
''Apa?'', tanya Sahila melihat Refan masih memikirkan kata kata yang akan di luncurkannya.
''Nggak jadi deh ,nanti saja, ucap Refan kembali dan langsung masuk kamar mandi, sedangkan Sahila yang merasa di gantung malah semakin penasaran dengan apa yang akan di katakan Refan.
Sahila menyiapkan semua baju dan jas Refan seperti biasa masuk kantor, dan memang rencananya Refan langsung berangkat dari kantor ke tempat tujuan.
Setelah menunggu beberapa menit, Refan keluar dengan memakai handuk yang melilit di perutnya.
''Mas mau bilang apa?'', tanya Sahila makin penasaran.
''Mas ,ganti baju dulu dong ,masa iya ngomong mas nggak pakai baju, nanti kalau tiba tiba ada yang masuk dan tergoda dengan tubuh mas yang seksi gi mana? '' Refan mencoba menggoda sang istri.
Sahila memakaikan kemeja dan yang lain dengan telaten, meskipun harus meladeni tingkah Refan yang selalu menciumya.
''Mas, hati hati ya, kalau sudah sampai mas telepon aku, ucapnya membetulkan dasi Refan.
__ADS_1
Refan beralih nenatap wajah Sahila dengan intens ,wajah yang sudah membuat nya bahagia.
''Kamu jaga diri, jangan ke mana mana, kalau butuh sesuatu, suruh saja pelayan di rumah ini, dan kalau kamu butuh teman ,telepon Ririn, dan satu lagi ,tunggu mas, jangan pernah berfikir macam macam, dan mas akan secepatnya kembali.
Sahila diam mendengar semua ucapan Refan dengan setia dan sesekali mengangguk.
Kok aku lebih merasa nggak enak, padahal mas Refan kan cuma sebentar perginya, batinnya menerka.
''Senyum dong, suruhnya sambil memeluk Sahila.
Masih dalam posisi berpelukan,
Sahila mengusap air matanya yang tiba tiba saja menetes karena tak mau Refan melihatnya.
Berusaha setegar apapun dirimu, mas tau kalau kamu saat ini sangat sedih ,tapi jangan kira hanya kamu yang sedih, mas bahkan lebih tersiksa karena harus menjauh dari kamu , batin Refan.
''Ayo kita turun, ajak Refan berpura pura tersenyum di depan Sahila ,berharap Sahila ikut tersenyum.
Refan menghampiri Kyara yang masih terlelap.
Merangkakkan kakinya dan mencium pipi Kyara dengan lembut.
''Anak papa yang pintar ya, papa mau pergi sebentar, dan tunggu papa, jangan nyusahin mama, bisiknya, namun si kecil itu masih saja tak bergeming.
Refan kembali memeluk Sahila saat di depan pintu utama, ''Mas berangkat dulu ya, ingat ,jangan pernah kemana mana, kalau bosen panggil Zero dan Ririn saja suruh mereka ke sini, pamit terakhir kalinya.
Kini bahkan Sahila sudah tak bisa menyembunyikan kesedihannya, dan menangis di depan Refan.
Sedang Refan langsung mencium kening Sahila dengan lama.
''Sudah, kalau kamu kayak gini ,mas akan semakin berat untuk meninggalkan kamu dan Kyara ,dan mas malah nggak tenang nantinya, Refan mencoba memberi pengertian.
Akhirnya dengan sekuat tenaganya dan ketabahannya Sahila menampakkan senyumnya .
Da..da... . ucap Refan sambil melambaikan tangannya,
''Hati hati di jalan, teriak Sahila saat mobil yang di tumpanginya mulai berjalan.
Melihat majikan nya ,bibi merasa kasihan dan mendekatinya.
''Nona, pasti aden akan baik baik saja, jangan bersedih lagi, tiba tiba ucapan bibi mengangetkan Sahila dari belakang.
__ADS_1
Di perjalanan, Refan masih saja mengingat wajah Sahila yang terakhir kali,saat meneteskan air mata untuk dirinya.
Aku akan jauh lebih merindukanmu, dan aku akan secepatnya kembali untuk mu dan anak kita, batinnya sambil melihat sebuah foto Sahila dan Kyara.
Refan yang tak mau membuang waktu langsung saja menuju kantor dan bertemu dengan Viola.
''Gi mana Vi?'', tanya Refan, saat melihat Viola yang sudah menyambutnya di depan pintu utama perusahaan.
''Kata pak Dirga kita tidak usah menemuinya pak, dia menyuruh kita langsung datang untuk menyesuaikan lokasi yang akan di ambil, dan pak Dirga menitipkan pada saya, untuk mengatakan pada bapak kalau lokasinya akan pindah sedikit jauh dari lokasi awal,ujar Viola mengikuti langkah Refan masuk ke kantor.
Refan yang meresapi pun hanya mengangguk,
''Tapi kamu sudah persiapkan semuanya, apapun yang kita butuhkan di sana,.
''Sudah pak.'' jawab lagi Viola dari belakang.
''Oke, kalau begitu kita berangkat sekarang saja, lebih cepat lebih baik, ucapnya membereskan berkas yang akan di bawanya.
Apa dia nggak bisa sepenuhnya percaya padaku kalau tempat yang aku pilih itu yang paling strategis, ngapain juga di pindah, batin Refan menggerutu.
''Pak, maaf ,penerbangan yang saya pesan mundur sampai jam tiga sore, ucap Viola mendadak membuat Refan mengernyit.
''Apa ,nggak bisa gitu dong ,apa kamu nggak pesan yang kelas bisnis, tanya Refan sudah menampakkan raut wajah marah.
''Sudah pak, tapi memang semua penerbangan di undur karena cuacanya yang buruk, ucap Viola menjelaskan.
''Ya sudah lewat laut saja, ucapnya kembali.
Dengan cepat Viola membeli tiket perjalanan lewat air.
Untung saja anda orang kaya pak, bisa membeli apa saja dalam sekejap, kalau tidak, ah.. malas juga bekerja dengan orang yang nggak sabaran kayak bapak, batin Viola sedikit menggerutu karena melihat wajah Refan yang nggak bersahabat.
Setelah menunggu beberapa jam ,Kini semua sudah siap, begitu juga dengan Refan yang akan menyebrangi laut .
Refan tersenyum saat tiba di sebuah pelabuhan mengingat bulan madunya bersama Sahila, dan menghabiskannya hanya di pantai dan laut.
Apa lagi saat dirinya mulai memasuki pintu kapal laut yang sangat besar itu.
Mengingat semua yang di lakukannya bersama sang istri.
Naik jetsky, kapal pesiar ,dan itu yang membuatnya tersenyum.
__ADS_1
Andai saja saat ini aku bersamamu dan anak kita ,pasti aku akan jauh lebih bahagia menyebrangi lautan ini, batinnya sebelum benar benar duduk di tempat nya.