
Tidak ada yang menyangka kalau hari ini akan kedatangan tamu istimewa, apa lagi seorang Sahila itu selalu menganggap kalau fikiran dan hati suaminya itu selalu saja misterius memunculkan ide ide yang selalu membuatnya bahagia, awal pertemuan yang sangat mengejutkan itu pun berakhir dengan hal yang sangat mengejutkan pula, bagimana tidak, semenjak menikah, Sahila tak pernah merasakan yang namanya sakit hati seperti di awal pertemuan keduanya ,dan itu menjadi Nilai tersenderi bagi seorang Sahila untuk Refan.
''Ibu.. teriaknya smabil berlari dan memeluk wanita paruh baya yang masih menenteng tas yang berisikan baju,.
Sahila yang tak bisa membendung kebahagiaannya dengan tawa pun langsung mencurahkannya dengan air mata kebahagiaan.
Di selingi dengan saling cemburu kecil menjadi penyedap cinta dalam rumah tangga karena cabe yang pedas selalu di tumpas Refan dan Mike.
Tak pernah ada pelakor yang bisa berdiri di tengah cinta keduanya,
Meskipun sifatnya yang kurang tegas, bukan berarti Sahila itu wanita yang lemah, yang bisa di tindas, hanya saja dia itu mengerti akan kodrat wanita memang setinggi apapun tetaplah dia itu bagian dari tulang rusuk seorang pria.
''Jangan menangis, pinta sang Ibu dengan membalas pelukan anak perempuan satu satunya, harta yang di tinggalkan suaminya.
Meskipun Bu Nur tak bisa membesarkan Sahila dengan harta yang berlimpah ,namun kenyataannya Bu Nur bisa membesarkan Sahila menjadi wanita yang sukses dengan sikapnya, sukses membuat laki laki yang sombong bisa bertekuk lutut mencintainya ,bahkan, bisa membuat hari harinya itu menjadi ratu.
''Kamu sudah bersuami, masa iya masih menangis di pelukan Ibu, ucap sang Ibu bercanda karena Sahila masih belum juga merenggangkan pelukannya.
Tak bersuara sama sekali, hanya punggungnya yang bergetar menandakan kalau Sahila masih menangis, Bahkan bayangan seseorang yang di sayanginya juga mungkin terlintas saat ini.
Refan pun masih mematung di belakangnya ,tak mau mengganggu sang istri untuk melepas rindu.
''Mas cemburu, kenapa kamu memeluk ibu terus?'', ucap Refan dari belakang saat Bu Nur mengedipkan satu matanya.
Karena bu Nur tau pasti Sahila tidak akan berhenti menangis jika tidak terlepas dari pelukannya.
Melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Refan, karena Sahila belum bisa berdiri sendiri tanpa sandaran.
''Sudah dong, Ibu datang, bukannya kamu bahagia kenapa menangis, Mengatakannya sambil mengelus punggung sang istri,.
__ADS_1
''Kita duduk ya!'', ajaknya,Sedangkan sang Ibu langsung masuk ke kamar Kyara.
''Kenapa mas nggak bilang kalau mau menjemput Ibu?'', ucapnya menyalahkan sambil mengelap ingusnya dengan kemeja Refan.
''Kenapa jadi jorok sih istriku ini, sambil menyengirkan hidungnya melihat bajunya yang kini sudah basah karena ulah Sahila.
''Biarin, kamu yang bikin aku kesel, sedikit berteriak sambil memukul dada Refan yang kini berada di sampingnya.
''Besok besok kalau mau memukul mas makan yang banyak ya, biar terasa nih tangan, masa lembek amat kaya kapas, mengejek.
''Mas itu bingung, gi mana sih cara membuat kamu bahagia, selama ini kamu tak pernah berbelanja dengan uang hasil kerjaku, dan aku juga nggak pernah mendengar kamu meminta sesuatu dariku, apa sesedehana inikah dirimu, ungkapan yang berbentuk tanda tanya.
Sahila menopangkan kepalanya di pundaknya ,keduanya sama sama menilik ke arah depan .
''Semewah apapun kehidupanku, dan seelegan apapun penampilanku ,itu tak akan merubahku, seglamour apapun perhiasan yang aku pakai itu tidak akan merubah diriku untuk menjadi wanita yang simple dan sederhana, diriku ini menjadi bagian dari hidupku ,jika kesederhanaanku itu berubah maka jangan sebut aku Sahila, untuk semua kekayaanmu, aku minta maaf, bukan aku tak menyukainya mas, aku hanya ingin hidup dengan keinginanku sendiri, dan aku memang tidak suka berlebihan, tapi jika kamu menginginkan itu semua, aku akan mencoba, tapi jangan paksa jika aku tidak bisa ya,pintanya dengan menangkupkan kedua tangannya.
Karena Sahila yakin akan sangat sulit mengubah dirinya menjadi seperti layaknya orang kaya lainnya.
''Apa kamu menyesal karena aku pernah membuatmu sakit hati? '', tanya Refan mengungkit masa lalu.
''Itukan hanya masa lalu mas, dan aku sudah melupakan itu semua, kamu sudah menebusnya dengan kebaikanmu selama ini, dan jangan di bahas lagi tentang itu.
''Tapi itu tidak sekali sayang, bahkan berkali kali aku menyakiti dan menghinamu.
''Maksud kamu?'', tiba tiba suara Bu Nur dari belakang menyahut dengan berjalan mendekat.
Refan dan Sahila terpaku dengan saling pandang.
''Maksud kamu apa berkali kali, bukankah cuma sekali saat kalian bertemu di rumah?''.
__ADS_1
Bu Nur pun mengulangi meminta penjelasan.
Gawat ,kenapa bisa mas Refan mengucapkan itu, dan ibu tidak akan mudah memaafkan orang yang sudah menyakitiku .batin Sahila takut.
Karena Sahila tau watak yang ada pada Ibunya ,jika ada yang membuatnya menangis, Bu Nur itu tak akan tinggal diam meskipun terbilang orang yang sabar.
Apa yang harus aku katakan, gi mana kalau Ibu marah padaku, batinnya.
Seakan Bibir Refan keluh untuk mengucapkan satu huruf pun, melihat wajah Ibu mertuanya yang mulai terlihat serius.
Menatap wajah Sahila adalah satu satunya sumber kekuatan baginya saat ini,
Sahila menggeleng pelan berharap Refan tidak menceritakan semuanya,tidak menceritakan kejadian dimana dirinya menghina Sahila tanpa sepengetahuan Ibunya.
Tangan Sahila kini meraba tangan Refan menggenggamnya sangat erat.
''Tidak, mas akan tetap menceritakan semuanya kepada Ibu, apapun nantinya, itu resiko yang harus mas tanggung, mencoba membuat Sahila tenang, karena Sahila kini mulai berderu air mata kembali.
Refan menatap sang Ibu yang juga menatapnya.
''Refan minta maaf Bu, tanpa sepengetahuan Ibu, Refan berkali kali menyakiti hati Sahila, bahkan Refan pernah menuduhnya wanita murahan dan kesini hanya karena harta papa, dan itu memang Refan lakukan di depan umum, tapi Refan menyesal Bu, dan Refan sudah berjanji pada Diri Refan sendiri, akan menebusnya dengan menjaganya dengan nyawa Refan sendiri, sambil berlutut di depan Bu Nur.
Bu Nur masih saja diam sambil menatap Sahila yang kini berderai air mata duduk di belakang Refan.
''Bu... ucapan Sahila berhenti saat Refan mengangkat lima jarinya berharap istrinya itu tidak membelanya.
Kenapa kamu mengatakan itu semua di depan Ibu Mas, kalau Ibu benar benar marah sama kamu gi mana, batin Sahila semakin takut.
''Apa kamu yakin jika almarhum ayah Sahila tau semua ini, dia akan merestui kamu menjadi suami putrinya, ucap Sang Ibu dengan ketegasan sebagai mertua.
__ADS_1
Refan menggeleng tanpa kata dengan wajah masih menunduk.