KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 231. Tanda cinta


__ADS_3

Sahila terperanga melihat Vila di depannya yang sangat mewah, apa lagi saat Refan mengatakan bahwa itu adalah sebuah hadiah untuknya,karena sudah menjadi istri dan Ibu yang selalu ada untuknya, ,menemaninya di saat susah dan senang, bahkan kini di ujung matanya Sahila sudah mengeluarkan bulir bulir air mata yang menetes membasahi pipinya.


Refan diam membiarkan apa yang saat ini menyelimuti hati istrinya, meskipun dalam hati Sahila tak pernah mengharapkan imbalan, namun sebagai seorang suami Refan hanya ingin membahagiakan seoarng istri dengan apa yang dia miliki.


Sahila menengok ke arah Refan tang masih duduk di tempat kemudi.


Menyuruh Ana untuk masuk ke dalam terlebih dahulu dan membiarkan Sahila mengungkapkan isi hatinya.


Mungkin kata terima kasih saja tak cukup untuk sebuah hadiah yang sangat besar dan istimewa,.


''Tanda apa ini?'', justru itu yang terukir dari mulut Sahila untuk Refan saat ini.


''Tanda cinta, Cinta yang selama ini kamu berikan untukku, sedangkan aku tak bisa membalas, meskipun aku bilang kalau cintaku itu lebih besar, tapi kenyataanya kaulah di sini yang selalu membuatku bahagia.ucapnya mengelus kepala Sahila yang kini sudah bersandar di pundaknya.


''Terima kasih untuk semuanya, ucapnya singkat.


Karena tak mau membuang waktu dan ingin melihat isi dari vila itu, Refan pun menggandeng tangan Sahila dengan erat menuju pintu utama.


Betapa terkejutnya saat melihat di dalamnya yang sudah sangat ramai,


''Ini nih nyonya nya baru datang, orang yang menyambut pertama kali adalah Ririn sang sepupu.


''Aku telat ya, maaf, ucapnya pada semuanya sambil menagkupkan tangannya.


''Mana ada sih ratu telat, celetuk Sindi kemudian.


Sahila terlihat malu malu sambil melihat para sahabatnya satu persatu.


Yang laki laki semua diam tak mau ikut campur, sedangkan Refan pun ikut bergabung dengan para suami yang lain.


Saling mengobrol satu sama lain sebelum Sahila memutari Vila hadiah dari suaminya.


Karena perjalanan yang sedikit melelahkan Refan pun mengajak Sahila untuk ke kamarnya, tak peduli dengan yang lain.


Sahila melihat semua sahabatnya yang mengangguk pelan.


Di sebuah kamar paling mewah dan luas di lantai dua Sahila masuk dan melihat setiap sudut kamar itu, ada rasa tak percaya untuk ukuran gadis kampung bisa menempati tempat mewah seperti sekarang ini.


Refan memeluk istrinya dari belakang, dan menempelkan dagunya di pundak sang istri.


''Apa kamu suka?'', tanya nya pelan.


Sahila mengangguk, Refan yang belum melepaskan pelukannya pun sedikit mendorong Sahila untuk terus maju ke depan menuju balkon.

__ADS_1


Terlihat pemandangan yang sangat indah nampak di depan mata, daun daun yang menari kerena terpaan angin membuat udara semakin sejuk , Sahila menghirup udara segar, ini pertama kali baginya menikmati indahnya pemandangan puncak.


''Maaf ,karena mas tidak mengajakmu ke tempat yang jauh, kasihan Kyara masih kecil ,dan sebenarnya ini hanya sekedar refresing saja ,tapi mas harap kamu suka dengan tempatnya.


Sahila mengangguk, ''Di manapun tempatnya, asal ada kamu aku suka, ucapnya membuat Refan bergelak tawa.


''Sekarang istriku ini sudah mulai pintar menggombal ya,.


''Kakak ipar, tiba tiba saja teriakan Ririn membuat Refan dan Sahila melihat ke arah bawah kolam renang.


Melihat Ririn yang sudah memakai bikini dan siap untuk berenang.


Refan berdecak, ''Itu tu, dari kecil sampai sekarang sukanya renang, ucap Refan yang memang sudah hafal dengan hobi sepupunya.


''Turun dong kak,kita renang, ajaknya sambil berteriak.


Sahila hanya melihat dan tak memberi komentar apapun.


''Kamu hati hati Rin ,umur kandungan kamu masih muda, jangan ceroboh, Refan menasehati.


Tak menjawab ,Ririn hanya melingkarkan jari jempol dan telunjuknya.


''Mas kita turun yuk!'', ajak Sahila menarik tangan Refan.


Sesampaimya, Sahila melihat Ririn sudah nyebur ke dalam kolam renang yang di susul Sindi.


Mereka hebat sekali renangnya, batinnya.


Sambil melihat Sindi dan Ririn yang sudah bolak balik dengan gaya renangnya masing masing.


Kini Sahila beralih ke wajah Nia dan Nesya yang sedang duduk santai.


''Kalian nggak ikut?'', tanya nya,


Keduanya menggeleng dan mendekati Sahila.


''Mana bisa sih Sa,kamu ingat kan ,waktu kita kecil ,ucap Nesya berbisik, takut terdengar yang lain malu,


Sahila ingat saat keduanya main di empang dan hampir tenggelam, saat itu juga Sahila maupun Nesya tak berani main air lagi,untungnya masih ada tetangganya yang lewat, kalau tidak, mungkin keduanya tidak akan tertolong.


Sahila mengangguk ,kemudian tertawa, kini tinggal Nia yang belum memberi alasan kenapa tidak ikut renang.


''Kamu?'', Sahila melihat wajah Nia yang mengerutkan alisnya.

__ADS_1


''Aku juga nggak bisa Nona, beberapa kali aku sudah mencoba, tapi tetap saja nggak bisa, bahkan waktu itu aku pernah nekad nyemplung ke kolam ikan milik tetangga, sampai orangnya marah, karena ikannya langsung saja mati setelahnya,


Bahkan pernyataan dari Nia lebih membuat ketiganya terpingkal pingkal.


''Kamu lebih parah Nia, kalau aku dan Nesya cuma berbau lumpur yang sedikit menjijikkan, tapi tak sampai membunuh ikan,


''Wah,kenapa kita bisa sama ya?'', Kemudian ketiganya tertawa kembali.


Refan yang melihat ketiga wanita yang berada di dekat kolam renang itu berjalan dengan gontainya menghampirinya.


''Sayang, ini, ucapnya sambil menyodorkan baju rennag.


Sahila hanya memandang saja baju yang kini masih ada di tangan Refan tanpa ingin menyentuhnya sedikit pun.


Sahila menggeleng.


''Lho kenapa, bukannya kamu mau renang?'', tanya Refan penasaran.


''Tidak ,aku cuma mengingat masa kecil yang lucu saja ,ucapnya mendorong kembali tangan Refan yang masih menggenggam baju renang untuknya.


Refan mengangguk anggukkan kepalanya.


''Kakak ipar, ayo kita renang, lagi lagi suara Ririn dari kolam renang mengejutkannya.


''Ayo dong, masa kalian kalah sih sama kita, Sindi menimpali.


''Woy ....bukannya kalah ,kita nggak ada yang bisa renang .ucap Sahila berteriak.


Justru ucapan Sahila membuat Refan menyeringai dan menyuruh Nia dan Nesya untuk kembali pada suaminya masing masing.


Refan kembali mendekat ,bahkan kini wajahnya tepat di samping telinga Sahila.


''Mas bisa ajarin kamu kok, ayo!''ucapnya pelan.


Namun tetap saja Sahila menggeleng, ''Maaf ,tapi aku memang tidak bisa sama sekali, nanti ngerepotin mas, alasan.


Refan bukan laki laki yang mudah menyerah pun terus saja membujuk Sahila agar mau di ajarinya.


''Tapi mas, ucapnya yang langsung di bungkam dengan tangan Refan.


''Tidak usah tapi tapian sayang, mas akan ajari kamu sampai bisa, bahkan mas akan melatihmu, sampai kamu mahir,


Gi mana ini aku kan nggak suka, lagi pula aku kan malu pakai baju ginian, ucapnya sambil menjewer baju renang yang terlewat seksi nya.

__ADS_1


__ADS_2