KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 186. Hitam di atas putih


__ADS_3

Selama satu minggu Ririn dan Zero menikmati bulan madunya , dan menghilangkan sejenak pekerjaan yang akan di jalaninya nanti, kini waktunya untuk kembali ke rumah, meskipun sesekali Mike dan Refan menjahilinya dengan pesan pesan yang meledek, namun keduanya tak menggubris itu, bagi mereka itu hanya angin lalu, dan tak perlu di hiraukan, karena itu memang sikap dari keduanya ,yang memang suka menggoda Ririn ,apa lagi status nya saat ini adalah pengantin baru, pasti ada aja yang di tanyakan meskipun itu pertanyaan yang konyol dan tak pantas.


Seakan dunia milik berdua, di saat bumi itu sangat memihak keduanya, bagaimana tidak selama bulan madu sedikit pun tak ada rintangan sama sekali, dan mereka bisa melakukan apapun yang di inginkan.


Meskipun begitu, Ririn tetap waspada pada ponselnya, mengingat Sahila yang sudah hamil tua, meski belum sampai perkiraan, baginya berjaga lebih baik.


Keduanya pun menjadi pasangan yang saat ini akan menjalani hidup barunya sebagai pasangan suami istri, dan akan menjalani rumah tangga yang di idam idamkannya.


Kepulangan Ririn memang langsung ke rumah pak Cakra, namun itu hanya sekedar mampir dan mengambil semua baju bajunya


''Kakak ipar, kita tidak tinggal satu rumah lagi, aku pasti akan selalu merindukan kakak, apa lagi sebentar lagi keponakanku ini lahir, ucapnya terbata sambil memeluk Sahila.


Sahila hanya bisa menepuk nepuk bahu Ririn supaya tidak terlalu terbawa suasana.


''Hai, kita itu masih dekat, jangan gini dong ,kamu nggak malu apa di lihat Zero, masa iya bu dokter jadi cengeng, Sahila menenangkan kesedihan Ririn.


''Tapi kakak harus langsung hubungi aku ya, saat kakak merasa sakit perut atau mungkin ada yang aneh gitu, Ririn pun langsung memberi tau pada Sahila tanda tanda wanita yang mau melahirkan.


Sahila mengangguk anggukkan kepalanya memahami setiap kata dari Ririn.


Setelah berpamitan pada Semua, Ririn dan Zero keluar dari rumah pak Cakra ,ada rasa berat untuk melangkahkan kaki nya keluar dari rumah itu, namun itulah hidup, dan tak tau kedepannya ada pertemuan pasti juga ada perpisahan. .


''Akhirnya Ririn milik Zero juga ya mas, dan kita pasti akan jarang bertemu dengannya, ucap sahila sambil menyenderkan kepalanya di pundak Refan.


Sedangkan Refan hanya mengangguk dan mengelus lengan sang istri.


Refan pun masih merasa tak percaya,kalau akhirnya adik sepupunya itu benar benar sudah menjadi milik orang.


Di perjalanan, Ririn belum mengeluarkan satu patah kata pun, meskipun dirinya sudah bersama Zero di mobil itu, tapi Hatinya masih tertinggal mengenang kebersamaannya dengan keluarga pak Cakra.

__ADS_1


''Kenapa kamu diam sih, apa kamu ingin balik ke sana, pertanyaan Zero membuatnya gelagapan, takut Zero tersinggung dengan sikapnya saat ini yang masih memikirkan rumah pak Cakra.


''Tidak, sambil tersenyum manis menghadap sang suami.


''Maaf ya mas, aku hanya ingat sama kakak ipar saja, rasanya baru saja kemarin aku bertemu dengannya, dan sekarang tiba tiba saja kita berpisah lagi, ucapnya jujur,


''Hai... kamu nggak dengar apa kata kakak ipar ,kita ini tinggalnya masih dekat sayang ,dan kita pasti akan sering mengunjunginya, lagi pula kasihan papa, beliau pasti kesepian, masa iya kita tinggal di rumah Om Cakra terus, dengan bujukan dari Zero, Akhirnya Ririn pun sudah bisa tersenyum tak secemberut tadi.


Beda dengan Ririn yang mendapat bujukan dari Zero, kini Sahila lah yang harus membujuk sang suami, mengenai hadiah,


Ya Refan menuntut hadiah jika masakannya itu enak, tapi nyatanya Sahila belum memberikannya apapun, dan itu membuatnya terus merayu sang istri.


Awalnya Sahila terus saja menghindar, tapi bukan Refan namanya kalau tak bisa mendapat kesempatan untuk mendekatinya.


''Ayolah sayang, mana hadiahnya, itulah yang selalu di ucapkan Refan untuk Sahila, kemana pun Sahila melangkah, di situlah Refan pun berada karena selalu membuntutinya.


Pasalnya Sahila memang tak mau memberi hadiah pada sang suami karena yang di minta itu sangat merugikannya,.


''Apa, pertanyaan Refan semakin penasaran, namun tetap saja menjulurkan tangannya dan Sahila pun langsung mencium punggung tangannya,.


''Hadiah yang mas minta, akan aku berikan nanti ,dan tak tanggung tanggung, mas akan menerima semaumu, entah apa yang di maksud Sahila, namun Refan merasa sangat senang ,itu terbukti dangan senyuman lebar yang terukir dari sudut bibirnya.


''Deal, ucap Refan langsung dan merangkul pundak sang istri,karena merasa puas dengan apa yang di dapatkannya.


Masuk jebakan lagi, tapi ya sudah deh, itu kan masih lama, lagi pula apa salahnya membuat suami senang, itu kan pahala juga, batinnya.


''Kalau perlu kita bulan madu lagi ya?'' bisik Refan, yang membuat Sahila kesal.


''Sudah dong, jangan di bahas dulu., Ucap Sahila karena merasa geli dengan perjanjiannya dengan sang suami.

__ADS_1


Tak lama keduanya berbincang, Mike pun datang menghampiri mereka.


''Kayaknya ada yang baru saja dapat hadiah ni, celetuk Mike melihat Refan yang terus tersenyum.


Melirik sang sekretaris sinis yang mulai menggodanya.


''Terus hadiahku mana, Mike pun ikut menengadahkan tangannya di depan Sahila.


Sahila mengerutkan alisnya dan melirik ke arah Nia yang sedang membawa minuman,.


''Minta Nia dong, masa semua aku yang kasih hadiah, Sahila mengatakannya sambil melihat Nia.


''Hadiah apa?'', Nia mengangkat kedua bahunya.


Bingung mau nagsih apa untuk sang kekasih,.


Akhirnya setelah beefikir ,Nia menemukan ide yang mungkin akan di sukai Mike.


''Sini, ucap Nia pada Mike yang masih mematung, dengan cepat Mike pun menghampiri sang kekasih.


Dengan Cepat Nia membisiki Mike tepat di telinga, yang membuat Mike merasa geli.


Namun setelah itu Mike pun langsung kegirangan dan mengangkat tangannya ,entah apa itu, yang pastinya Mike pun merasa senang seperti Refan.


Benar benar mereka ini aneh, batin Sahila sambil geleng geleng kepala.


''Apa hadiahmu bos, tanya Mike tanpa menggunakan akhlaknya sebagai bawahan.


Dengan cepat Refan pun langsung menjawab, ''Hitam di atas putih, ucapan itu malah membuat Mike dan Nia bingung dan kemudian tertawa lepas. Apalagi Refan mengucapaknnya dengan nada malas dan memainkan ponselnya.

__ADS_1


''Kalian jangan tertawa dulu ya, nanti akan aku buktikan kalau Hadiah hitam di atas putih itu lebih nikmat dari hadiah yang Nia berikan untuk kamu, ucap Refan lantang,karena tak mau kalau Mike meledeknya.


Karena semakin kesal dengan pembicaraan sang suami yang mulai ngelantur ,Sahila memilih untuk meninggalkannya berjalan menuju kamarnya, berharap Refan tidak mengikutinya kali ini.


__ADS_2