KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 97.Baby Aldo


__ADS_3

Hati yang bahagia adalah salah satu warna hidup yang pasti di rasakan setiap insan, meskipun berbeda auranya, namun semua itu tak bisa di sembunyikan.


Sepulang dari Bali, Sahila menyibukkan diri dengan merapikan semua baju baby yang akan di bawa ke rumah Nesya.


Refan hanya melihatnya sambil santai menikmati kopi hitamnya, karena Sahila tak mau kalau Refan ikut campur.


''Kelihatannya kamu terlalu sibuk, sampai kau melupakan aku, candanya sambil melingkarkan tangannya ke perut rata Sahila.


Namun dengan cepat Sahila berbalik,


''Aku tidak akan melupakanmu sayang, lagi pula aku kan selalu ada di sampingmu, aku cuma nyiapin ini semua, ucapnya sambil menunjuk barang barang yang sudah rapi .


''Sayang ,hari ini mas ada rapat penting, kamu ke rumah Nesya sama pak Jono ya, atau nggak kamu tunggu mas pulang aja!'',


''Mas, pekerjaan mas itu sangat penting, meskipun aku nunggu mas pulang nanti, mas juga pasti capek ,biar aku di antar pak Jono saja, lagi pula aku kan cuma ke rumah Nesya,


Masih dengan posisinya yang berpelukan.


Ada sedikit tak tega dalam hati Refan untuk membiarkan Sahila pergi sendiri, karena kalau sudah menyangkut tentang bayi ,pasti Sahila akan mengingat dirinya yang belum juga bisa mengandung.


Dan itu sangat menyakitkan menurut Refan.


Semua hartanya dan kasih sayangnya pun seperti tak bisa mengobati dan tak bisa membayar apa yang di inginkan Sahila.


Refan meraup kedua pipi Sahila dan memandangnya begitu lekat.


''Mas bukan mengingatkan, tapi mas hanya ingin meminta kamu, Nanti kalau sampai rumah Nesya, mas nggak mau ada air mata, dan mas nggak mau kamu sedih, ataupun berpikir yang aneh, kalau kamu ingin menangis, ingatlah dan yakinlah kalau kamu juga bisa seperti Nesya, kamu bisa menjadi seorang Ibu, ucapan Refan itu sangat serius membuat Sahila berbata dan mengangguk.

__ADS_1


''Terima kasih, mas selalu menjadi orang pertama yang selalu membuatku tersenyum, aku pasti akan mengingat semua kata kata mas, aku akan bahagia, aku pasti bisa menjadi seorang Ibu. ucap Sahila berusaha sekuat mungkin untuk tidak menitihkan air matanya,.


Setelah Refan berangkat ke kantor, dengan cepat Sahila juga turun dari kamarnya,.


''Kakak ipar mau kemana? ''dan itu apa 'tanya Ririn melihat Sahila begitu banyak membawa paper bag.


''Oh.... ini aku mau ke rumah Nesya, yang aku ceritain kemarin, dia baru saja melahirkan, dan ini baju untuk anaknya,apa kamu nggak ke rumah sakit;?'', tanya Sahila balik.


''Belum berangkat, bentar lagi, ucap Ririn santai.


Setelah perjalanan beberapa menit, kini mobil pak Jono sampai di depan rumah Doni dan Nesya.


Sahila melihat rumah itu dari dalam mobil, entah apa yang di pikirkan.


Sahila berjalan dengan pelan, namun pikirannya masih saja teringat kata kata Refan,


Sahila terus melangkahkan kakinya,


''Pagi Bi, Nesya nya ada?''. ucap Sahila saat sang Bibi membuka pintu .


''Ada Non ,silahkan masuk,!''


Setelah Sahila masuk, Sahila tak sengaja melihat Doni yang sedang menggendong sang buah hati, Doni terlihat begitu senang ,senyumnya menujukkan sebuah pancaran kebahagiaan seorang ayah, sedangkan Nesya melihat Doni pun ikut tersenyum, melihat sang suami.


''Hai, Sa, ucap Nesya dari jauh membuat Sahila terbuyar dari lamunanya.


Sahila mendekati Nesya dan juga Doni.

__ADS_1


Bertemu sang sahabat adalah momen yang menyenangkan, apa lagi setelah berumah tangga, itupun yang di alami Sahila saat ini, saling menanyakan kabar dan saling curhat satu sama lain, saling memberikan masukan dan saling menceritakan pengalaman yang berbeda dari pernikahan itu sudah biasa, namun kali ini ada yang berbeda saat Doni menanyakan pertanyaan yang membuat Sahila berubah total .


''Namanya siapa Nes, uh.. keponakan aunty cakep banget sih, ucapnya sambil mengambil alih bayinya dari tangan Doni.


''Panggil saja baby Aldo Sa, namanya terlalu panjang, sampai keluarga dari kampung juga bingung, jadi aku putuskan memberi tau nama itu saja. ucap Nesya sedikit jengkel karena sang suami memberi nama yang terlalu panjang.


''Bener tu Nes, untuk apa nama panjang, kalau yang di panggil cuma sedikit, lagian baby Aldo pasti juga suka nama itu.


''Kalian ini memang nggak ada bedanya ya, dari dulu sampai sekarang, tetap aja kompak ,ucap Doni seketika mendengar kedua sahabat itu ngobrol.


''Oh iya Sa, kamu kapan ,kalian kan menikah sudah hampir setahun, masa di tunda terus sih, apa Refan nggak pingin punya anak? ''pertanyaan Doni kali ini bagaikan hantaman batu yang sangat besar untuk Sahila.


Sahila tersenyum, namun dalam otaknya memikirkan jawaban apa yang akan di berikan untuk Doni ,karena pertanyaan Doni kali ini sedikit membuatmya gugup,.


''Sahila mengangkat kedua bahunya, Aku dan mas Refan hanya ingin menikmati masa kami untuk berdua dulu, sebelum kami di sibukkan anak, ucap Sahila seketika, karena hanya itu yang terlintas dalam pikirnya saat ini.


''O.... Tapi, bukankah Refan dari dulu sudah menginginkan anak, aku pernah dengar kalau dia menikah dengan Kania ,dia akan menyuruh Kania untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga untuk mengurus anaknya, bahkan Refan juga pernah bilang tak akan menundanya, ucap Doni kembali mengingat kata kata Refan yang selalu di luncurkan sewaktu mereka masih sama sama bersama.


Bahkan pertayanan Doni kali ini bagaikan runtuhan bukit, ingin rasanya Sahila lenyap dari muka bumi, untuk tidak mendengarkan apapun yamg menyangkut tentang Refan,


Bisa di bilang sahila sangat egois, namun apa daya, karena posisinya seorang istri membuatnya hanya ingin memiliki Refan seutuhnya .


Sahila hanya menjawab dengan senyuman kecilnya, mulutnya seakan terkunci, dan matanya merah, karena membendung air matanya, mengetahui kenyataan pahit itu,


Apa memang sebenarnya mas Refan begitu menginginkan seorang bayi, tapi kenapa dia menutupinya dariku, bahkan dia sering bilang padaku, kalau aku tidak boleh memikirkannya, tapi dia sendiri sempat bilang pada kak Doni kalau dia ingin langsung mempunyai anak saat menikah dengan Kania, atau jangan jangan mas Refan sudah membohongiku, apa dia memang tak menginginkan anak dariku, karena dia tidak mencintaiku, makanya dia sering menolak kalau aku ajak


periksa, lagi lagi, takdir macam apa ini Ya Tuhan, kenapa Engkau selalu saja memberi diriku ujian seberat ini, seakan Engkau selalu mengutukku dengan semua masalah yang aku hadapi, batin Sahila menerka nerka.

__ADS_1


Masih dalam diamnya sambil menggendong Baby Aldo yang sedikit membuatnya tenang,Sahila sedikit merasakan ada kedamaian pada wajah makhluk lemah di pangkuannya itu.


__ADS_2