KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 59.Di kamar


__ADS_3

Sahila benar benar di perlakukan seperti tuan putri kali ini, bagaimana tidak, setelah dirinya keluar dari kamar mandi ,Sahila sudah di suguhkan berbagai menu makanan yang di pesan oleh Refan,


Sahila berjalan pelan menuju laki laki sombong yang kini menjadi suaminya itu, tanpa fikir panjang ucapan terima kasih langsung di luncurkan untuk Refan,


''Kenapa harus berterima kasih, ini tugasku, pokoknya aku janji, akan membuatmu selalu merasa nyaman saat di dekatku, ucap Refan sambil menenggelamkan kepalanya di perut Sahila, karena saat ini Sahila berdiri di depannya,Sedangkan Refan sedang duduk di ranjang.


Refan langsung menggandeng tangan kecil Sahila,menuju meja yang kini di penuhi makanan.


Sahila melihat satu persatau makanan yang tersaji, namun tak ada satu pun yang di suka.


Bagaimana tidak, makanan itu semua serba mentah, menurut Refan itu sangat cocok untuk udara yang dingin, tapi menurut Sahila itu belum di masak dan nggak layak di makan, dan baunya pasti amis.


Kenapa makanannya seperti ini, ini kan bukan seleraku, tapi kalau aku bilang sama mas Refan nggak enak. batin Sahila.


''Kamu kenapa, apa kamu nggak suka dengan makanannya, kalau nggak suka biar aku ganti ,dan kamu pilih sendiri,


Karena Refan bertanya, Akhirnya Sahila mengangguk dan berkata jujur,


''Maaf, aku nggak pernah makan seperti ini, lagian ini kan mentah, ucap nya polos sambil menekan nekan Sashimi dengan sendok.


Refan mengangkat kedua alisnya, lalu melihat lagi makanan yang ada di meja, ternyata benar ,itu makanan jepang, dan mungkin sahila hanya orang kampung tak pernah memakannya.


Refan langsung berdiri, dan menghampiri Sahila yang berada di kursi depannya.


''Baiklah, aku akan memesan makanan kesukaanmu, sekarang kamu catat makanan apa saja yang ingin kamu makan hari ini!'' ucap nya sambil mencari buku catatan.


''Tapi kamu nggak marah kan?''. Sahila dengan ragu takut Refan memarahinya.


''Sayang, aku nggak marah, malah aku minta maaf karena tidak tau makanan kesukaanmu?'', tadinya aku pikir kamu suka dengan semua ini, tapi kalau memang nggak suka aku akan pesankan yang lain.


Akhirnya Refan memanggil pelayan hotel dan memesan makanan yang di pesan Sahila.


Makanan yang di pesan Sahila memang sederhana, tapi Sahila begitu menikmatinya membuat Refan heran.

__ADS_1


''Sayang, apa kamu suka makanannya?'', ucap Refan di sela sela makannya.


Sahila hanya mengangguk, karena mulutnya penuh,


Sangat aneh, tapi nggak apa apa deh yang penting dia menyukainya, nanti kalau di rumah, aku akan pastikan ada makanan itu setiap hari, batin Refan


Setelah sarapan selesai ,Sahila dan Refan berjalan menuju ranjang nya, mata Sahila terbelalak melihat ada noda merah di atas spray putihnya.


''Mas apa kamu terluka, ini apa?'' sambil melihat lekat noda darahnya.


Refan tertawa sangat keras melihat reaksi Sahila yang begitu lugu.


''Teruslah tertawa ,kamu bisa membedakan nggak sih, aku serius, mana yang terluka, sambil memutari badan besar Refan.


Refan meraih tangan Sahila dan meletakkan di dada bidangnya.


''Di dalam sini yang terluka,meski aku yang berkali kali menyakitimu, tapi nyatanya sekarang aku yang terluka,aku sangat menyesal, andai saja waktu bisa di putar, aku tidak akan mengucapkan kata kata kasarku itu padamu, apa kamu sudah memaafkanku, ?''


Sahila mengangguk.


''Kamu lihat itu, sambil menunjuk noda darah,


Sahila mengangguk.


''Itulah yang membuatku menangis semalam, dan aku janji tidak akan menyakiti mu lagi, dan ingat ini baik baik, kalau sampai aku melakukannya kamu boleh mengutukku semaumu, dan itu bukan lukaku, tapi lukamu yang aku renggut semalam.


''Apa, sampai berdarah, kenapa aku nggak tau,


sambil garuk garuk kepalanya yang tidak gatal,


Refan tersenyum dan melihat wajah Sahila yang penuh kebingungan.


''Apa sekarang masih sakit, apa perlu aku belikan obat,?''

__ADS_1


Sahila menggeleng.


Refan langsung menarik semua spray dan selimut dan memanggil pelayan untuk menggantinya.


Hari ini kamu pingin kemana?'' tanya Refan yang kini santai dengan duduknya.


''Emm..... kalau kita di kamar gimana, aku lagi nggak pingin keman mana?''Mas, aku kangen sama Sindi, kalau kita pulang nanti, aku langsung mau kuliah, kelamaan bolos nggak enak, ucapnya sambil merengek dan memainkan kancing baju Refan


Refan hanya diam memikirkan jawaban apa yang akan diberikan pada Sahila ,dalam hati kecilnya terselip agar Sahila tak melanjutkan kuliahnya, tapi di sisi lain takut Sahila tersinggung akan keputusannya, Refan hanya takut kejadian yang dulu terulang lagi.


Wanita berkarir pasti akan terbiasa hidup di luar ,dan akan terbiasa berjalan dengan laki laki manapun, meskipun Sahila tidak mungkin seperti Kania, namun ketakutan itu tetap ada.


''Sayang apa boleh aku mengatakan pendapatku?'', tapi kalau kamu nggak setuju nggak apa apa,


''Maksud kamu, kini mereka saling berhadapan.


''Aku lebih suka kamu di rumah, dan hanya menungguku pulang kerja, bukan maksud aku melarang mu untuk kuliah atau berkarir, tapi aku.......belum juga meneruskan, Sahila sudah tersenyum dan menatapnya.


''Kalau mas nggak mengizinkanku nggak apa apa, aku akan berhenti kuliah, lagian aku kuliah kan karena papa yang nyuruh, tapi sekarang aku akan menuruti semua apa kata kamu, jika ini yang terbaik menurut mas, nggak apa apa, aku ikut saja.


''Sekarang aku adalah laki laki yang paling beruntung di dunia ini, memiliki istri sepertimu, jangan pernah pergi, aku tidak akan sanggup jika harus kehilangan dirimu untuk yang kedua kali, terima kasih atas pengertianmu, sambil mencium kening Sahila.


Akhirnya seharian penuh kedua insan ini menghabiskan waktunya hanya di kamar, meski begitu, Sahila tetap terhibur dengan cerita cerita konyol Refan.


Tak ada lagi jarak dan ruang yang memisahkan keduanya, Saling mengalah dan saling menghargai, itulah yang di inginkan Refan dalam pernikahan,wanita yang bisa menurut apa pun perintahnya, dan selalu berada di sampingnya saat dirinya membutuhkan, disaat dirinya lelah dengan pekerjaan, ada tempat untuk bersandar, dan saling berbagi.


Sedangkan Sahila hanya butuh orang yang benar benar menerima dirinya apa adanya, meskipun masa lalunya sangat kelam dengan Refan ,namun dengan berjalannya waktu ,Sahila berharap akan berubah manis, seperti apa yang di harapkannya,dan itu mulai di rasakannya.


Bulan madu yang di harapkan Refan pun berjalan mulus selama dua hari ini ,meskipun Sahila tidak mau jalan jalan justru itulah yang semakin mendekatkan di antara keduanya, saling bertukar fikiran dan saling memberikan pendapat tentang rumah tangga yang akan di jalaninya, di dalam kamar yang luas, mereka hanya berdua dan saling bermesraan,dan ini adalah masa pacaran halal bagi mereka.


''Sayang, besok kamu mau jalan kemana?'' tanya Refan sambil mengelus rambut Sahila yang kini tidur di pangkuannya.


''Laut, jawab Sahila singkat.

__ADS_1


''Tak inginkah kamu melihat wisata yang lain selain laut?'', tanya Refan memastikan, berharap Sahila menjawab nya dengan yang lain.


__ADS_2