KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 216. Tak ada kabar


__ADS_3

Setelah kepergian Refan, tak ada yang bisa di lakukan Sahila selain naik ke kamarnya istirahat , turun kadang juga sekedar ke taman belakang , ke dapur dan sesekali menonton tv sambil menggendong Kyara ,meskipun begitu, Sahila ingat dengan semua pesan Refan yang memang menyuruhnya untuk tetap di rumah dan semua itu di patuhinya ,Sahila pun tak bisa lepas dari ponsel.


Apa lagi ini sudah mulai sore, Sahila makin melihat layar ponsel ,berharap suaminya akan segera memberi kabar.


Kok mas Refan belum ngasih kabar ya, apa dia belum sampai ke tempat tujuan, atau sudah sibuk bekerja, batinnya menerka.


''Nona kesepian, ucap bibi sambil membawakan teh untuk Sahila.


Sahila mengangguk, ''Iya Bi, papa nggak ada, Mas Refan juga nggak ada, belum lagi Nia sudah pergi ke luar negeri, rasanya sangat hampa, ini lagi mas Refan nggak menghubungiku, Sahila jengkel sambil melihat ponselnya.


''Yang sabar nona, ini cuma sementara kok, lagi pula ada bibi di sini, jadi Nona jangan khawatir, kalau nanti malam nona takut tidur sendiri bangunin saja bibi ya?'', pesan bibi sebelum kembali ke dapur.


Sahila hanya mengangguk saja.


Dan menghabiskan waktu sorenya itu di depan tv.


Sahila berpindah ke kamar setelah makan malam yang lagi lagi di temani sang pembantu, serta yang lain seperti pak Jono pun ikut masuk kedalam hanya untuk memastikan nona nya itu baik baik saja.


Lagi lagi hanya ponsel yang menjadi benda terpenting saat ini,


Karena sedikit bosan dan melihat Kyara yang sudah terlelap, Sahila beranjak dari ranjangnya menuju balkon kamar.


Melihat bulan yamg tertutup mendung membuat nya tersenyum paksa,


''Ternyata rembulan malam ini juga redup seperti hatiku, andai saja dia bisa menyampaikan rinduku pada suamiku, pasti saat ini aku akan berteriak, gumamnya sambil mendongak dan fokus menatap langit yang gelap.


Tanpa sepengetahuannya ,Pak Satpam yang berjaga pun melihat kegundahan Sahila dari pos depan.


Kembali melihat ponsel yang di genggamnya dari tadi,seakan tertutup rapat ,bahkan tak ada satu pesan atau telepon pun dari Refan untuknya.


''Ini kan sudah malam, apa sebaiknya aku telepon mas Refan saja, gumamnya lagi.


Namun itu di urungkannya mengingat jam sudah malam dan mungkin saja Refan sudah istirahat setelah melakukan perjalanan jauh.


Sahila kembali masuk ke dalam kamarnya melihat foto pernikahan yang terpampang di tembok kamarnya,


''Meskipun awal pertemuan kita tidak baik, tapi aku tidak menyesali dengan semua yang sudah terjadi ,malah aku merasa sangat bahagia bisa mendampingi hidupmu, ucap Sahila terbata sambil tersenyum melihat gambar Refan yang tersenyum kecil.


Setelah bicara dengan foto, Sahila kembali ke ranjang dan membaringkan tubuhnya, lagi lagi Sahila melihat benda pipih yang kini berada di atas nakas.

__ADS_1


''Mas, apa kamu nggak tau kalau aku kangen, kenapa sih kamu nggak menghubungiku, sesibuk apa dirimu, ucapnya semakin jengkel namun ada rasa pilu di dalam hatinya.


Dan tak terasa Sahila memejamkan matanya untuk yang pertama kalinya tanpa sang suami semenjak kelahiran Kyara di sisinya.


Sesekali para pelayan itu naik ke lantai atas hanya untuk melihat Sahila dan Kyara, mereka semua memastikan kalau majikannya itu pun baik baik saja.


Malam tanpa Refan pun di lalui Sahila tanpa dekapan suami tercintanya,.


.


.


.


.


.


Sahila mulai mengerjap ngerjapkan matanya dan melihat jam ,dan ternyata sudah menjelang pagi, hal yang pertama di lihatnya adalah ponsel yang ada di nakas, Meraihnya meskipun belum sadar sepenuhnya,membukanya ,berharap ada sesuatu yang membuatnya semangat untuk menjalankan hari ini ,


''Mas Refan belum ngasih kabar juga, kenapa sih,gumamnya kecil sambil cemberut, Kini pandangannya beralih pada putri kecilnya yang juga masih tidur .


Karena sudah mengingat sehari semalam tak memberi kabar ,akhirnya Sahila nekad menghubungi Refan lebih dulu.


''Apa mas Refan memang mematikan ponselnya dan masih tidur, menerka dalam hati.


''Tapi nggak biasanya mas Refan mematikan ponselnya, apa lagi saat dia jauh dariku, gumamnya kembali.


Sekali lagi Sahila mencoba menghubungi Refan untuk yang kedua kali, namun nihil ,tetap sama tidak aktif,


''Mungkin mas Refan masih tidur, nanti aku coba lagi deh,


Akhirnya Sahila menyerah dan pergi ke kamar mandi .


Setelah Sahila selesai ,dirinya langsung menggendong Kyara untuk turun dan menemui sang bibi yang sudah bergulat di dapur.


''Bi, apa semalam ada yang menghubungi telepon rumah?'', tanyanya.


Bibi tersenyum dan menghampiri Sahila.

__ADS_1


''Maksud Non dari aden?'', tanya sang bibi kembali.


Sahila mengangguk.


''Tidak ada, tapi Non nggak perlu khawatir, aden pasti baik baik saja, ucap bibi menenangkan.


''Tapi semenjak kemarin mas Refan tidak memberi kabar Bi,aku jadi khawatir, Sahila mulai mengeraskan suara,ada rasa bergejolak dalam hatinya saat ini.


''Bibi tau perasaan non, tapi gi mana ,Bibi juga nggak bisa bantu, apa sebaiknya Nona ngasih kabar Tuan Cakra,.


Dengan cepat Sahila menggeleng, karena Refan pergi pun baru sehari dan Sahila takut merepotkan pak Cakra,apa lagi kepergian pak Cakra mencari suasana baru.


Dan Sahila tidak mau menghebohkan semua orang.


''Tidak usah Bi, mungkin saja mas Refan memang lagi sibuk dan fokus dengan kerjaannya supaya cepat selesai.


Ucap Sahila langsung kembali ke sofa.


Tak berselang lama ,Sahila di kejutkan dengan ponsel yang ada di mejanya itu berdering.


Belum juga melihatnya ,senyuman sudah terukir dari bibirnya.


Dengan cepat Sahila meraihnya dan melihat, namun wajah yang ceria kembali masam setelah nama sang sahabat yang nampak.


Tapi Sahila masih terlihat antusias menerima panggilan telepon itu karena mereka pun juga sudah lama tidak saling bertemu dan ngobrol.


''Halo Sin, apa kabar? '', tanya Sahila mengawali pembicaraan.


Baik Sa, kamu sendiri gi mana, kayaknya lupa nih sama aku, mentang mentang jadi nyonya, ucap Sindi di seberang telepon.


Sahila tersenyum renyah, mendengar omongan Sindi.


''Nggak kok ,sama saja, lagian gimana kita mau ketemu coba, pasti kamu juga sibuk dengan Alvin, nanti saja kita ketemuan sama Nesya juga ,ucap Sahila dengan santainya.


*Kenapa nanti, sekarang juga nggak apa apa, Lagian mas Iwan nggak sibuk kok, bisa ngantar aku, ucap Sindi kembali.


Iya Sa, aku juga pingin ketemu suamimu nih, masih sama nggak ya seperti dulu ,Iwan menimpali*.


Sahila kembali tetawa,'' Beda lah kak, sekarang mas Refan semakin dewasa dan bijak, maaf ya Sin kalau sekarang aku yang nggak bisa, soalnya mas Refan keluar kota, dan dia berpesan kalau aku nggak boleh keluar sendirian,

__ADS_1


O... gitu ya, ya sudah deh nggak apa apa lain kali saja, tapi janji ya, kita jalan bertiga, ucap Sindi memastikan.


''Iya, kamu tunggu saja, nanti aku kasih kabar kalau mas Refan sudah pulang ya. ucapan Sahila yang terakhir sebelum memutuskan sambungannya.


__ADS_2