KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 217. Mencari tahu


__ADS_3

Sudah empat hari Sahila semakin tak bisa membendung air matanya yang sudah menumpuk di pelupuk matanya ,pundak sang bibi yang saat ini menjadi tempat untuk bersandar itu pun semakin kasihan pada Sahila , sekali pun Refan tak memberi kabar padanya, meskipun hanya pesan.


''Ini gi mana pak, apa kita harus menghubungi tuan Cakra?'', tanya bibi pada pak Jono yang berdiri di sampingnya.


Belum juga pak Jono menjawab ,Sahila sudah mengangkat tangannya, ''Jangan pak, Kasihan papa, aku tidak mau papa terbebani dengan masalah ini, lagi pula mungkin di tempat mas Refan nggak ada signal .ucap Sahila di dalam isakannya.


Karena Sahila pun pernah mengingat kalau tempat yang akan di kunjungi Refan itu adalah sebuah pulau yang baru di buka.


''Tapi Non, ini menyangkut aden, pasti tuan Cakra juga nggak merasa keberatan kok, Bibi meyakin kan supaya Sahila menyetujui apa yang akan di lakukan pak Jono.


Namun Sahila tetap menggeleng.


''Bukannya aku nggak khawatir dengan mas Refan Bi, tapi ini juga baru empat hari, aku tidak mau gegabah, mungkin saja memang tak ada signal ,jadi mas Refan tak bisa menghubungiku, lagi pula mas Refan juga bilang kalau mungkin akan sedikit lama , ucap Sahila menjelaskan pada Bibi dan pak Jono.


Melihat pelayannya itu, Sahila menghela nafas panjang.


Sebenarnya aku juga sudah merindukannya bi, tapi aku takut kalau memang mas Refan benar benar sibuk dan aku tak mau membuat semua orang panik, batinnya.


Kembali melihat ponsel dan mencari nama seseorang yang mungkin bisa membantu kesusahannya saat ini,


''Apa aku hubungi Zero saja, supaya dia mencari tau apa yang sebenarnya terjadi dengan mas Refan, gumamnya.


''Tapi Zero kan seorang dokter ,pasti lah dia sibuk sekali , dan aku nggak mau mengganggunya, atau aku coba datang ke kantor saja ya, barang kali ada yang tau tentang kepergian mas Refan, dan siapa tau aku bisa mendapat petunjuk dari sana, gumamnya lagi.


Sahila menggeleng lagi ,mengingat semua ucapan Refan yang melarangnya untuk keluar rumah,.


Sahila kembali melihat Kyara yang tengah menggeliat, dan bangun dari tidurnya.


''Anak mama bangun ya, haus? '',ucapnya sambil menyiapkan susu untuk Kyara.


Belum juga selesai ,Kyara sudah mulai menangis.


''Sayang, tunggu ya, ucap Sahila mempercepat kegiatannya.


''Anak mama pinter ya, Sahila mengelus kening bayi kecilnya.


Namun tiba tiba saja Kyara kembali menangis ,tak seperti biasanya yang selalu diam setelah minum susu,tapi ini malah menangis semakin kencang membuat bibi langsung naik ke lantai atas.

__ADS_1


Sahila mencoba menggendong dan menenangkannya, memperlihatkannya berbagai mainan, namun percuma Kyara tak lekas diam ,malah makin terisak,.


''Sini Non, biar bibi coba, Sang bibi mengambil alih Kyara dari tangan Sahila.


Masih juga sama, Kyara tak mau diam,.


''Non, mungkin saja Nona kecil kangen sama papanya, ucapan Bibi malah membuat Sahila menangis.


Bibi yang merasa nggak enak langsung menghampiri Sahila yang duduk di pinggiran ranjang.


''Maaf non ,bukannya bibi mengingatkan non pada Aden, tapi seorang anak itu batinnya lebih kental dengan orang yang di sayangi, dan mungkin ini pertanda kalau Den Refan juga merindukan kalian, tapi itu cuma firasat bibi saja, ucap Bibi kembali dan masih menggendong Kyara.


Setelah meresapi ucapan sang bibi, Sahila langsung mendekati Kyara yang masih menangis.


''Sayang diam ya, sebentar lagi papa pasti pulang, dan papa nggak suka kalau princesnya ini rewel, ucapnya sambil mengelus pipi Kyara, dan entah kenapa, setelah Sahila mengatakan itu ,Kyara langsung saja diam dan memejamkan matanya.


Akhirnya Sahila tersenyum dan mencium pipi Kyara.


''Anak pinter.


Karena tak mau larut, Sahila langsung meraih ponselnya dan mengambil tasnya,.


''Bi, tolong jaga Kyara ya, aku mau ke kantor mas Refan sebentar saja, mungkin di sana aku mendapat petunjuk, ucapnya pamit pada pembantunya.


Bibi pun langsung mengangguk dan mengucapkan hati hati pada Sahila.


Setelah sampai di depan rumah, Sahila memanggil pak Jono untuk menyiapkan mobil.


''Nona mau ke mana?'', tanya pak Jono saat Sahila masuk ke dalam mobil.


''Ke kantor mas Refan pak, aku akan mencari tau ,mungkin saja ada staf yang tau kepergian mas Refan. ucapnya jelas.


Di perjalanan Sahila hanya melihat luar jendela dan sesekali menyeka air matanya,.


Sebenarnya ada apa sih mas, kenapa kamu nggak ada kabar, batinnya.


Setelah beberapa menit ,mobil pak Jono pun terparkir di depan gedung yang menjulang tinggi.

__ADS_1


Tak mau membuang waktu, Sahila langsung masuk ke dalam.


''Siang Bu, sapa salah satu karyawan,


Sahila mengangguk dan bertanya tujuannya datang adalah untuk menemui kepala staf kantor.


Setelah di angguki karyawan, Sahila langsung menuju ruangan Refan.


Setelah menunggu sesaat, ada seorang laki laki yang datang, yang tak lain adalah kepala staf.


''Siang bu, maaf ,apa ada yang bisa saya bantu ?'', tanya nya pada Sahila dengan ramah.


Sahila sedikit bingung mau memulai dari mana, akhirnya Sahila memutuskan untuk ke inti saja.


''Sekarang kan mas Refan pergi keluar kota, apa kamu tau siapa rekan bisnis mas Refan dalam proyek yang di kunjungi sekarang? '', tanya Sahila.


''Maaf Bu, rekan bisnis pak Refan banyak, dan itu yang di mana ya, masalahnya saya tidak terlalu faham, tapi saya punya catatan di mana saja pak Refan membangun semua proyeknya, ucap staf dengan jelas.


Sahila diam karena tak tau di mana tempat yang di tuju Refan saat ini.


''Apa mas Refan tidak mengatakan proyek mana yang dia datangi saat ini ?'', tanya Sahila kembali.


''Tidak Bu, untuk urusan itu hanya pak Refan dan sekretaris yang tau, dan kami sebagai karyawan hanya mengurus semua urusan yang masuk ke kantor, lagi lagi ucapan Staf membuat Sahila kembali termangu.


''Baiklah kalau begitu kamu silahkan bekerja kembali!'', ucapnya.


''Permisi bu, ucap staf dan langsung keluar dari ruangan Refan.


Sahila masih duduk di sofa dan melihat kursi yang selalu di tempati suaminya, terbayang wajah Refan saat tertawa dan saat marah pada Mike.


''Semoga kamu cepat kembali mas ,bukan cuma aku yang rindu tapi anak kita juga rindu sama kamu, gumamnya sebelum keluar dari ruangan Refan.


Karena tak membuahkan hasil, Sahila memutuskan untuk kembali pulang kerumah,


Masih sama, dalam perjalanan Sahila hanya diam dan melihat luar,


Pak Jono yang melihatnya pun ikut sedih, dalam pernikahan Refan dan Sahila baru kali ini melihat Sahila yang sangat larut dalam kesedihan.

__ADS_1


Semoga den Refan cepat pulang dan Nona tersenyum lagi. batin pak Jono.


__ADS_2