
Setelah beberapa hari Mike menjalani hari harinya hanya berdua dengan Nia, tak pernah sekali pun ada pertengkaran meskipun kecil, karena bagi keduanya memang tak ada alasan untuk itu, kini Mike malah sesekali mengernyitkan dahinya saat melihat tingkah sang istri, bagaimana tidak, siapapun akan terkejut melihat tingkah Nia akhir akhir ini dari segi makan dan berperi laku, bahkan Mike tak di perbolehkan ke kantor dan meminta hanya untuk menemaninya.
''Pokoknya mas saat ini nggak boleh masuk kantor,'' ucapnya uring uringan sambil bersembunyi di balik lengan Mike.
''Tapi sayang.....,'' belum juga melanjutkan omongannya sudah terpotong.
''Pilih kantor apa pilih aku?'' ucapan Nia membuat Mike langsung diam meski dalam hatinya merasa jengkel dengan sang istri yang manjanya nggak ketulungan.
Ini pasti kesambet dari mall, batinnya sambil mengelus lengan Nia.
Karena dirinya merasa kalau Nia itu manjanya sepulang dari mall.
Mike mencoba mencari tau apa yang sedang menyelimuti istrinya kali ini.
''Sayang memang kenapa sih kamu nggak mau mas tinggal?'' Kini pertanyaan itu lolos dari mulut Mike.
Nia menggeleng.
''Aku juga nggak tau, pokoknya aku tidak ingin jauh darimu, sambil meringsut semakin dekat.
Mike merangkul pinggang Nia yang kini terbilang berubah.
Kok Nia terlihat semakin gendut ya, apa karena beberapa hari ini dia banyak makan. batinnya menerka.
Melihat ponsel yang berdering membuat Mike langsung saja meraihnya, tertera nama Nona yang membuatnya antusias untuk mengangkatnya.
Tuan Mike, Nia kenapa? ucap Sahila seketika, karena Sahila sudah mendapat kabar dari Refan kalau Mike tidak masuk kantor karena Nia yang tak mau di tinggalkan.
Mike melihat kepala Nia yang kini di sandarkan di pahanya.
''Tidak tau Nona, kayaknya Nia saat ini memang lagi pingin di manja deh,'' Jawab Mike yang tak merasa malu.
Jangan jangan..... Nia hamil, dan itu salah satu ngidam, biasanya wanita memang berbeda beda saat menjalani hamil mudanya, mungkin sekarang Nia itu mulai ngidam, tapi aku hanya menyangka saja, lebih baik tuan Mike periksakan Nia, siapa tau dugaanku itu benar, ucapan Sahila membuat Mike langsung terpaku sekaligus tersenyum.
''Baik Nona, aku akan periksakan dia,'' jawab Mike langsung menutup teleponnya.
Apa benar Nia hamil, batinnya melihat Nia yang kini sudah memejamkan matanya di pangkuannya.
__ADS_1
Mike mengerutkan alisnya mengingat sebuah artikel yang pernah di bacanya tentang tanda tanda ibu hamil.
''Perasaan Nia tidak pernah muntah atau mual, juga tidak punya keinginan yang aneh aneh, malah semua makanan di lahapnya dan tak menghiraukan aku, apa memang dia itu benar benar hamil, tapi kalau di biarin makan terus akan segede apa nanti, apa dia akan berubah jumbo, gumam Mike yang masih setia duduk sambil memangku Nia. Bahkan dalam bayangan Mike sekarang adalah wanita yang berbadan besar dan sulit untuk berjalan yang membuatnya bergidik ngeri.
''Sayang, ayo bangun, ini masih pagi kok kamu sudah tidur sih, nggak baik untuk kesehatan kamu, apa lagi barusan kamu habis makan banyak,'' ucapnya sambil menepuk pipi Nia.
Karena merasa terganggu, Nia langsung saja membuka matanya dengan perlahan dan melihat wajah Mike yang tersenyum.
Nia mengangkat kepalanya dan kini duduk bersanding dengan Mike namun masih saja menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.
''Tapi kok akhir akhir ini aku merasa malas untuk melakukan apa apa ya mas,'' ucapnya sambil menguap.
Mike yang memang sedikit merasa aneh pun hanya bisa menghela nafas.
''Kita ke rumah sakit, ucap Mike tanpa basa basi, membuat Nia membulatkan matanya seketika. ''Siapa yang sakit?'' Nia penasaran dengan omongan suaminya yang tiba tiba saja mengajaknya ke rumah sakit.
Mike menggeleng.
''Kamu yang akan periksa,'' sambil menyungutkan kepalanya.
''Aku nggak sakit, aku cuma malas saja, Nia masih membantah.
Meskipun merasa membingungkan, Nia tetap mengikuti Mike.
Di dalam perjalanan, Nia hanya bisa diam sambil melihat ke arah wajah sang suami yang terlihat senang.
Mau ngapain ke rumah sakit, tapi kenapa dia terlihat bahagia, batinnya.
Setelah beberapa menit perjalanan, Mike lagi lagi langsung menggandeng tangan Nia masuk ke dalam rumah sakit, karena sudah beberapa kali berkunjung, dirinya pun sudah hafal ruangan yang di tujunya.
Belum juga mengetuk pintu yang tertutup, Nia menghentikan langkahnya membuat Mike ikut berhenti dan menoleh.
Dokter kandungan, siapa yang hamil, batinnya bertanya tanya.
''Ayo sayang, kita masuk, mas tadi sudah memberi tau Ririn katanya kita langsung masuk saja, ucap Mike menjelaskan karena sebelum pergi sudah membuat janji dengan Sang dokter.
Terpaksa Nia membiarkan sang suami yang kini tepat di depan pintu untuk mengetuknya. setelah mengetuk pintu beberapa kali, Dokter Ririn pun menyahut dan menyuruh keduanya untuk masuk.
__ADS_1
Ririn melihat tubuh Nia yang kini memang terlihat lebih gemuk, dan itu baru di sadarinya.
''Apa.... ucapan Ririn terpotong.
''Periksa saja, setelah itu baru kita ngobrol, Kini Mike yang menguasai suara Ririn dan tak memberi kesempatan Nia maupun Ririn untuk sekedar menyapa.
Nia yamg belum tau maksud Mike hanya diam saat Ririn mulai menyikap baju bagian perutnya.
Ini lagi maksudnya apa, aku kan nggak hamil, batin Nia semakin kesal, tapi masih diam dan tidak mau berbuat sesuatu yang membuat Mike marah.
Setelah di periksa beberapa saat, Ririn tersenyum dan melihat wajah Nia yang masih berbaring.
''Selamat ya, kamu hamil.'' ucapnya membuat Nia terbelalak.
''Apa Dok, Hamil?'' mengucapkannya dengan nada terkejut.
Sedangkan wajah Mike terlihat santai dan tersenyum puas sambil memegang dagunya dengan jari telunjuk dan jempolnya.
Spontan Ririn dan Nia berpelukan.
''Aku nggak nyangka kalau akan secepat ini.'' ucap Nia masih merangkul Ririn.
''Apa mas bilang, bibit mas ini premium, yang pastinya akan cepat tumbuh, celetuk Mike di depan Ririn dan Nia.
Ririn yang mendengar ucapan narsis dari sahabatnya itu pun tertawa keras.
Sedangkan Nia yang kini berwajah malu hanya bisa menunduk dan melirik Ririn.
Apa sih mas Mike, malu maluin saja, masa membahas bibit premium disini, batin Nia kesal.
Nia yang teringat kalau Ririn sedang hamil pun langsung memegang perutnya.
''Jabang bayi jangan kaget ya, semoga kamu nggak narsis seperti pria di depanmu ini. ucapnya sambil mengelus perut Ririn yang masih rata.
''E.. e.. e... apaan maksud kamu, memangnya kenapa kalau mirip mas, kan tampan, lagi pula hidung mas juga mancung, terus mana yang cacat, ucapnya serius di depan Nia dan Ririn.
''Yang cacat itu pikiran mas yang selalu sok percaya diri dan narsis, Nia berkata sambil menurunkan kakinya dari ranjangnya dan menggandeng Ririn keluar menuju ruangannya dan meninggalkan Mike yang masih mematung.
__ADS_1
''Kenapa malah dia yang marah, aku kan hanya berkata jujur, lagi pula apa salahnya mirip denganku, membingungkan, dengan terpaksa Mike mengikuti Nia yang berjalan kembali ke ruangan Ririn.