KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 224. Grup Macan (mama cantik)


__ADS_3

''Mike kamu langsung pulang saja, kasihan Nia pasti dia butuh kamu, dan kalau kamu ingin cuti nggak apa apa, dan sekarang kamu nggak usah antar aku, tadi aku sudah di jemput pak Jono, ucap Refan saat keduanya di depan gedung perusahaan dan ternyata pak Jono pun sudah siap .


Mike mengangguk dan melajukan mobilnya setelah mobil Refan berlalu.


Seperti hari hari biasa, saat Refan pulang kerja di sambut oleh sang istri, namun kali ini ada yang beda dengan sikap Sahila yang selalu melihat ponselnya dan sedikit cuwek pada Refan.


Apa dia menyukai ponsel barunya, batin Refan melihat tingkah sang istri yang sesekali tersenyum sendiri.


''Sayang tolong dong, ambilin handuk!'' Teriak Refan dari balik kamar mandi.


''Bentar mas,'' jawab Sahila dengan teriak pula, karena ke asyikannya Sahila lupa dan membuat Refan kembali berteriak.


''Sayang, cepetan dong mas kedinginan nih,'' ucap Refan kembali membuat Sahila langsung beranjak.


''Nih, Sahila sambil menyodorkan handuk di depan pintu yang sedikit terbuka.


Setelah Refan keluar dan mengganti baju nya dengan baju santai, Refan kembali ke ruangan kerjanya untuk menyelesaikan kerjaannya sebelum bersantai dengan keluarga kecilnya, namun sebelum nya Refan pun pamit pada Sahila.


''Sayang, mas ke ruangan kerja dulu ya, pamitnya dengan lembut, sedangkan Sahila hanya mengangguk tanpa menoleh, membuat Refan mengerutkan alisnya.


Kenapa sih dia, perasaan kok dari tadi matanya nggak geser dari layar ponsel ada apa, batinnya sambil menyungutkan kepalanya ke arah ponsel Sahila.


Sahila yang sadar akan tingkah sang suami pun mendongakkan kepalanya, ''Kenapa mas?'' tanya Sahila.


Dengan cepat Refan menyunggar rambutnya dan berdiri tegak.


''Nggak, ucapnya dengan nada gengsi lalu berlalu meninggalkan Sahila yang tetap sibuk dengan ponsel barunya.


Di ruang kerjanya, Refan malah jadi tak fokus gara gara melihat Sahila yang senyum sambil melihat ponsel.


Apa dia main selingkuh di belakangku, ah tapi nggak mungkin, itu bukan dia banget, tapi apa, batinnya memikirkan hal yang negatif.


''Dari pada penasaran mendingan nanti aku buka kalau pas dia lagi tidur saja, gumamnya sambil mengetuk ngetukkan pulpennya di atas meja.


''Mas, makan malam yuk! '' tiba tiba suara Sahila mengejutkannya yang sedang melamun.


Ingat makan juga, aku kira lupa semuanya, bicara dalam hati.


Refan mengangguk dan beranjak berjalan menuju pintu.

__ADS_1


Melihat Sahila tersenyum Refan pun ikut tersenyum.


''Kyara kok nggak di ajak?'' tanya nya.


''Sudah tidur, sekarang itu makin hari makin lincah saja, kadang aku sampai kuwalahan lo, apa lagi saat bibi sibuk, ucap Sahila sambil berjalan menuju meja makan.


''Kalau kamu memang merasa kelelahan, mas akan mencari orang untuk membantumu menjaga Kyara,'' Kata Refan yang langsung di tolak oleh Sahila.


''Nggak apa apa mas, lagi pula aku senang kok, dan ini pengalaman pertama aku menjadi seorang ibu, nanti juga terbiasa,'' jawabnya santai.


Makan malam berjalan dengan hening, Refan maupun Sahila tak mengeluarkan sepatah kata pun, namun mata Refan tak luput memandang sang istri yang terlihat cerah.


Setelah makan, keduanya pun pindah ke ruang keluarga sebelum tidur.


''Mas, waktu kamu ke luar kota, aku sempat ngobrol sama Sindi lewat telepon. ucapnya sambil bergelayut di lengan Refan.


''Terus, ucap Refan berharap Sahila melanjutkan nya lagi.


''Dia ngajakin jalan bareng Nesya juga,'' Sahila menjelaskan.


''Terus?'' Refan berkata lagi.


Refan diam seperti memikirkan sesuatu.


''Boleh saja, tapi harus sama mas ya, kata Refan membuat Sahila berdecak.


''Loh, kenapa, memangnya mas nggak boleh ikut?'' tanya Refan mulai serius.


''Ya tergantung, kalau suami mereka pada ikut ya mas boleh ikut, tapi kalau suami mereka nggak ikut ya mas jangan ikut dong, kan aku malu, masa di kawal sendiri, nanti di bilang manja lagi.''


''Oke, kalau gitu sekarang kita tidur dulu, mas ngantuk, Refan menarik tangan Sahila dan keduanya pun berjalan menuju kamar.


Lagi lagi Refan menonton Sahila yang tersenyum sambil menatap ponsel.


Sebenarnya apa sih yang membuatnya sesenang itu, batinnya lagi.


Karena tak mau istrinya curiga, Refan langsung saja membaringkan tubuhnya di samping Sahila dan memeluk kaki Sahila yang masih selonjoran.


Awas saja kalau kamu tidur ya, aku akan cari tau apa yang membuatmu sampai mengacuhkanku dari tadi, batinnya lalu memejamkan matanya.

__ADS_1


Setelah kurang lebih satu jam, Sahila pun mulai menguap dan menaruh ponselnya dan membaringkan tubuhnya.


''Cuma pencet pencet lelah juga ya, tapi asyik sih, kenapa nggak dari dulu kita ngobrol seperti ini, gumamnya.


Dengan pelan Sahila memejamkan matanya dan beralih ke dunia mimpi.


Refan yang dari tadi masih sadar benar pun langsung membuka matanya, dengan perlahan mengintip mata sang istri yang memang sudah terpejam, dan Refan yang tidak mau ketahuan pun meniup mata Sahila.


Ternyata gampang banget ya kamu molornya, membatin.


Karena saking penasarannya, Refan beranjak dan berjalan dengan pelan menuju nakas samping Sahila dan mengambil ponsel milik istrinya.


Refan yang lebih berhati hati lagi membuka layar ponselnya di sofa karena sedikit jauh dari ranjang mereka.


''Pasti chat, gumamnya setelah menyaring ucapan Sahila sebelum tidur.


Refan langsung saja membuka sebuah aplikasi chat dan mata Refan terbelalak melihat profil dengan gambar kepala macan.


dan Refan membaca sampingnya,


Group ''Macan ''mama cantik '' grup apaan ini, ucapnya sebelum membuka info dari group itu.


Namun Refan malah tersenyum senyum seperti Sahila saat melihat isi grupnya.


yang ternyata, Sindi, Nesya, Ririn Dan Nia,


''Macam apa ini, apa mereka mau beradu kecantikan, buat grup kok macan, mama cantik, Nada menghina, apa nggak ada nama lain apa? Refan malah jadi jengkel sendiri.


Apa lagi membuka chatingan yang belum di hapus oleh Sahila.


''Ini lagi, kenapa yang di bahas malah kebaikan suami, harusnya mah ketampanan suami, pasti aku yang menang, sedikit narsis, kalau gini kan aku kalah dari mereka, ucapnya semakin jengkel mengingat semua sahabat dan sekretarisnya itu tak pernah berbuat salah pada pasangan masing masing dan hanya dirinya yang pernah membuat kesalahan dengan Sahila, dan Refan merasa itulah keburukannya.


Refan terus menggeser sampai bagian paling bawah yang ternyata itu pesannya Sahila yang terkirim.


Suamiku juga baik ya, nggak pernah memarahiku, dan dia juga setia, nggak pernah main serong dan yang terpenting dia mencintaiku, itulah pesan Sahila yang membuat Refan tersenyum dan kembali menutup ponsel milik Sahila dan menaruh kembali di tempatnya.


''Terima kasih sayang, mama cantik, papa nggak salah menjodohkan aku denganmu, hanya saja aku terlambat menyadari itu semua, bisiknya di telinga Sahila.


Karena sudah lega dengan penasarannya, kini Refan kembali membaringkan tubuhnya di samping Sahila dan memeluknya erat sebagai gulingnya.

__ADS_1


__ADS_2