
Saat rapat berlangsung tiba tiba saja Refan keluar dari ruangan tanpa meninggalkan pesan apapun ,setelah mendapatkan telepon entah dari siapa, dengan cepat Mike menggantikan posisinya, untung saja semua klien memahami, dan tak banyak protes dengan sikap Refan, akhirnya Mike menyelesaikan tugas Refan dengan sangat sempurna.
Mike bingung dengan sikap bos nya kali ini, tak biasa meninggalkan rapat penting seperti ini, beberapa kali Mike menelponnya pun Refan tak mengangkat meskipun tersambumg.
Mike hanya bisa mondar mandir di ruangannya memikirkan apa yang terjadi sebenarnya.
''Ada apa dengan bos, kalau nggak penting ,tidak mungkin dia terlihat resah seperti itu, apa terjadi sesuatu dengan Nona, gumam Mike,
Sedang di perjalanan Refan tak peduli lagi dengan keselamatannya, Refan melajukan mobilnya sekencang kencangnya, pikirannya pun penuh di penuhi penyesalan karena sudah meninggalkan Sahila.
Setibanya, Refan berlari ke kamar dan di dalam sudah ada Bibi yang merawat Sahila.
''Ya, saat rapat berlangsung Refan mendapat telepon dari Bibi kalau Sahila pingsan,
''Refan mendekati Tubuh mungil itu dan memeluknya, rasa bersalah menyelimuti hatinya.
''Maafkan mas, mas nggak tau kalau kejadiananya seperti ini, Sayang bangunlah, andai saja mas tau kalau kamu akan seperti ini mas tidak akan berangkat ke kantor, ucapnya di dalam tangisnya, Refan tak bisa membendung air matanya yang sudah berada di telupuk mata.
Sahila tergulai lemas dan memejamkan matanya, wajahnya yang pucat itu membuat Refan semakin takut,.
Refan terus saja mengelus pucuk kepala Sahila berharap akan segera sadar.
''Maafkan Bibi den, sebenarnya non Sahila tidak mau makan dari pagi, dan saat Bibi lihat ke sini Non Sahila mengeluh, katanya pusing ,dan tak lama jatuh pingsan, Bibi pun takut mengucapkannya, takut Refan akan marah padanya.
''Ini semua memang salahku Bi,aku sudah meninggalkannya, padahal tadi pagi dia sudah bilang kalau aku tidak boleh ke kantor, tapi aku memaksa untuk pergi.
''Sayang, ayo bangunlah! ''.hanya itu yang bisa di ucapkan Refan saat ini, otaknya pun tak bisa memikirkan apa apa selain melihat wanita di depannya itu sadarkan diri.
''Mike, panggil dokter keluarga, istriku pingsan. ucapnya dari telepon setelah melihat Sahila tak juga sadarkan diri,
Kalau sampai terjadi apa apa denganmu, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, batinnya sambil menciumi wajah pucat Sahila .
Tak berapa lama Mike datang dengan membawa dokter pribadi keluarga pak Cakra,
__ADS_1
''Permisi, ucap Dokter Zero tiba tiba dari depan pintu bersama Mike,.
Refan beranjak dan menyuruh sang dokter untuk memeriksa Sahila.
''Dok, istri ku pingsan tolong periksa dia, aku nggak mau terjadi apa apa dengannya, ucap Refan khawatir,.
Dengan cepat dokter Zero menghampiri Sahila yang terbaring di atas ranjang.
Setelah menjalani pemeriksaan ,Kini dokter Zero tersenyum dan dan menghampiri Refan,.
''Tuan tidak perlu khawatir ,Nona baik baik saja, dan ada kabar baik yang perlu anda tau, Nona hamil, tapi lebih tepatnya sebaiknya tuan periksakan lagi ke dokter kandungan, ucapa dokter membuat Refan menangis seketika, meskipun belum di periksa langsung oleh dokter kandungan, Refan merasa ucapan itu bagiakan hujan di musim kemarau panjang ,di mana orang kehausan akan air, dan di situlah dahaga itu terobati,.
Dengan spontan Refan memeluk dokter muda itu.
''Mike suruh Ririn pulang, ucapnya terbata .
Berulang kali Refan mengucapkan terima kasih nya untuk dokter Zero.
''Tunggu sampai Ririn memeriksanya, aku tidak mau kalau semua ini salah, aku akan pastikan ucapanmu itu benar, dan kenapa bukan dokter Hasan yang ke sini?''. Refan heran karena yang dia tau dokter pribadi pak Cakra adalah dokter Hasan.
Dokter Zero tersenyum,.
''Beliau ayah saya, .....''Jangan formal ,aku tidak suka ,sahut Refan.
''Baiklah, beliau ayah ku dan beliau sudah menyerahkan semua tanggung jawabnya padaku, sekarang beliau hanya bertugas di rumah sakit saja, ucap Zero singkat.
Setelah suasana hening menunggu dokter Ririn datang, Tiba tiba saja Sahila merintih kesakitan .
''Aduh.... kenapa sakit begini, keluh Sahila sambil memegang kepalanya yang terasa pusing,
Dengan cepat Refan berlari menghampirinya.
''Sayang kamu sudah sadar, ucap Refan yang membuat Sahila bingung,
__ADS_1
''Sadar, memangnya aku kenapa, Bukankah..... ucapan Sahila tiba tiba berhenti karena sudah mengingat bahwa benar dirinya habis jatuh dan pingsan.
''Maaf, aku merepotkan kalian ,ucapnya pelan sambil melihat orang di sekelilingnya satu persatu.
''Kakak ipar kenapa?''. Ririn sambil melangkah dnegan cepat.
Ririn memeriksa Sahila dengan teliti, karena sudah tau sifat kakaknya kalau dirinya sampai salah sedikit saja pasti akan fatal akibatnya.
''Selamat ya kakak ipar.'' ucap Ririn tiba tiba sambil memeluk Sahila yang masih berbaring.
''Selamat untuk apa.?'' Sahila masih aja bingung karena memang belum ada yang mengucapkan kalau dirinya hamil .
''Sayang, ucap Refan dan langsung memberi pelukan hangat, ''Kamu hamil.'' bisik Refan dengan pelan tepat di telinga Sahila yang membuat Sang empu langsung menitihkan air matanya,.
Sahila meraup kedua pipi Refan, ekspresi wajahnya bercampur aduk, ''Mas ucapakanlah sekali lagi supaya aku percaya kalau semua ini bukan mimpi!''. ucap Sahila masih dengan matanya yang di genangi air mata .
Refan mengangguk, ''Kamu benar benar hamil, dan semua ini tidak mimpi, ini nyata, sekali lagi Refan meyakinkan Sahila dan kembali memeluknya.
Rasa haru menyelimuti seluruh ruangan tak terutama dokter Zero, Bahkan Ririn dan Mike yang mengenal mereka lama pun ikut mengeluarkan air mata cuma cuma, sedangkan sang Bibi bersyukur atas anugerah indah yang sudah di nanti nantikan majikannya sejak lama itu.
Terima kasih Tuhan, akhirnya Engkau menjawab semua doa doaku dan suamiku, aku benar benar tidak menyangka kalau semua ini benar benar terjadi pada diriku, batin Sahila.
Akhirnya Nona hamil juga, kesabaran nona selama ini sudah membuahkan hasil, dan sebentar lagi nona akan sempurna menjadi istri dan ibu,batin Mike ikut bahagia,
Sedangkan Refan hanya bisa memberinya ciuman yang tak terhitung, bahkan Refan sudah tak memperdulikan semua orang yang mengelilinginya saat ini,
Pasangan yang sangat romantis, itulah batin dokter Zero.
''Sekarang kamu sudah hamil ,dan kamu akan menjadi seorang Ibu, aku nggak mau ada kesedihan lagi di wajah kamu, di sini akan tumbuh buah hati kita, aku akan menjaga kalian meskipun nyawaku taruhannya , ucap Refan sambil mengelus perut rata Sahila.
Sahila memegang tangan Refan yang masih meraba perut ratanya. ''Kehadirannya akan membuat cinta kita lebih kuat,hanya maut yang bisa memisahkan kita, dan aku juga akan menjaganya seperti mas menjagaku ucapnya dengan lembut,
Itulah sisi Sahila yang tak bisa di lupakan oleh Refan, kelembutannya membuat siapapun gampang luluh jika mendengar kata katanya.
__ADS_1