KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 154. Bosan


__ADS_3

Tak ada yang aneh di hari ini, meskipun Pak Cakra sakit ,keadaan rumah cukup tenang, bahkan lebih tenang dari biasanya ,karena perhatian Refan kali ini membuat semuanya terharu termasuk sang istri, orang yang sangat sombong ,keras kepala, dan angkuh ,dan sekarang di tambah satu lagi pencemburu itu menyimpan seribu kasih sayang, merawat sang papa dengan telaten dan sabar, itulah kelebihan di balik diri Refan yang telah tersembunyi selama ini.


Sahila sedikit heran dengan tingkah sang suami yang terus menyuruhnya duduk dan santai ,tak boleh ikut andil untuk mengurus pak Cakra.


''Mas, bahkan panggilan itu pun di jawab dengan jari yang sudah mendarat di bibirnya.


''Khusus hari ini semua tugas di rumah ini hanya mas Dan Bibi saja yang mengerjakan, ujarnya dnegan santai.


Meskipun Sahila sudah merasa bosan berada di kursi, namun itu di tahannya dengan sesekali berbaring di sofa dan sesekali hanya berjalan di dapur.


''Nona baik baik saja kan? '', tanya Nia sedikit heran dengan sikap Nona nya yang hanya mondar mandir saja.


Akhirnya Sahila menarik tangan Nia dan mengajaknya di teras belakang, mendudukkannya selama satu jam tanpa bergerak,.


''Bagaimana rasanya, tanya nya seperti tak punya salah,.


''Bosan, jawab Nia singkat membuat Sahila tersenyum.


''Itulah yang aku rasakan dari tadi Nia, tapi mas Refan tak mau mgerti juga, kali ini wajah sahila sedikit puas karena berbagi rasa bosan dengan Nia temannya.


Itu tandanya tuan Refan sangat mencintai Nona dan tak memperbolehkan nona kesulitan, batin Nia.


Setelah mengetes Nia, kini Sahila kembali Masuk yang di ikuti Nia dari belakang.


Tiba tiba saja ,mereka berpapasan dengan Refan yang keluar dari kamar pak Cakra, melihat Refan dengan banyak keringat membuatnya menghampiri sang suami.


''Capek, ucap sahila singkat, karena hanya itulah kata yang pantas di ucapkan saat ini.


Namun Refan menggeleng dan tersenyum.


''Nggak capek, lagi pula ini sekarang akan jadi tugasku, Kini Refan terlihat semangat meskipun dahi dan pipinya sudah di penuhi dengan peluh.


Sahila menggandeng tangan kekar itu ,menggiringnya ke arah meja makan.


Sedangkan Refan tak bisa menolak ajakan istrinya kali ini, Refan hanya bisa menurut.

__ADS_1


''Kenapa ke sini?'' tanya Refan singkat sekali,


Namun Sahila tak menggubris pertanyaan dari Refan.


''Tunggulah satu jam lagi mas, itulah suara dari Sahila yang sedikit keras, karena posisinya saat ini berada di dapur,


Setelah beberapa menit, Refan mulai mengubah posisinya karena merasa panas duduk lama lama, sedangkan di depannya pun tak ada apa apa yang harus di makan, atau pun di lakukan, sesekali Refan hanya bisa melihat jam yang melingkar di tangannya dan melihat sang istri yang sedang berbincang dengan Bibi dan Nia.


Memangnya aku disini disuruh ngapain, ini sudah hampir satu jam, tapi dia tak menyiapkan makanan atau yang lain, terus apa gunanya aku disini. batinnya menerka.


Setelah di kira cukup membosankan, Refan mulai menaruh kepalanya di meja dengan tangannya yang di gunakan bantal.


''Sayang, masih lamakah mas harus nunggu disini?'', ucapnya.


''Bentar lagi, sahutan dari Sahila seketika.


Kali ini Refan menggoyang goyangkan kakinya dan memejamkan matanya, berharap menghilangkan kebosanan,


Tak berselang lama Sahila menghampirinya dan memegang punggungnya.


''Apa yang mas rasakan sekarang?'', pertanyaan yang sedikit tak masuk akal dari Sahila membuat Refan mengerutkan alisnya.


Namun itu sudah membuat sahila merasa bahagia.


Refan melihat istrinya itu dengan pikiran yang sudah ke sana kemari, memikirkan bagaimana bisa Sahila bisa tertawa hanya mendengar suaranya saja, padahal kalau di lihat lihat tidak ada yang lucu, itulah yang ada di pikiran Refan.


''Itulah yang aku rasakan dari pagi, bisiknya.


O... ceritanya balas dendam. batin Refan.


Masih dalam posisinya di meja makan, Sahila ikut duduk di samping Refan, melihat sang suami yang terlihat lelah ,karena mengurus pak Cakra sendirian,.


''Sepertinya mas capek, apa mas nggak mau istirahat, kali ini ucapan sahila mulai serius.


Refan meggeleng, karena hari ini Refan akan stand bay menunggu pak Cakra, kalau kalau pak Cakra membutuhkan bantuannya.

__ADS_1


''Hari ini aku akan berjaga sepenuhnya, ucapnya santai, namun Sahila mengerucutkan bibirnya.


''Kenapa ?''tanya Refan melihat sang istri yang terlihat cemberut, bahkan itu di tujukan padanya.


''Apa aku nggak boleh ikut mengurus papa?'', dengan cepat Sahila mengajukan pertanyaannya.


Refan mencari kata kata yang tepat untuk di katakan pada Sahila, bagaimana cara menjelaskannya, akhirnya ide ide brilian dari seorang Refan itu muncul ,meskipun belum tentu membuat Sahila tak cemberut, tapi Refan mencoba mengatakannya.


''Hari ini untuk kamu dan anak kita libur, dan sekarang tugas papa untuk melayani kalian, itulah kata yang meluncur dari Mulut Refan, sambil mengelus perut Sahila yang sudah mulai besar itu.


Dalam hati Sahila memang sangat senang melihat perhatian Refan yang sangat besar padanya, namun masih saja Sahila tak terima,karena Refan membuat nya seharian ini menjadi orang yang tak berguna dan itu sangat membosankan baginya.


Setelah beberapa saat keheningan itu muncul dari keduanya, tiba tiba saja pintu utama terbuka.


''Om Hasan, kata Refan pertama kali, melihat mantan dokter pribadi sang papa.


Sahila dan Refan menghampiri Dokter Hasan ,mereka bersalaman dan mempersilahkan Dokter Hasan untuk duduk.


''Katanya Pak Cakra sakit, di mana dia.?'' pertanyaan pertama yang muncul dari seorang dokter itu.


''Ada di kamar, jawaban Refan singkat, namun tepat, Refan pun juga tak banyak bicara melihat lawannya kali ini adalah orang yang lebih tua.


''Apa perlu Refan antar ke kamar papa Om?'', Refan mencoba menawarkan, barang kali Dokter Hasan ingin bertemu dengan pak Cakra.


Benar saja, Refan mendapat jawaban yang tak mengecewakan, apa lagi kalau bukan anggukan dari Dokter Hasan.


Keduanya berjalan menuju kamar pak Cakra, dan Refan pun langsung membuka pintu,


Tanpa kata, Refan mempersilahkan masuk, karena pak Cakra masih berjaga sambil melihat ponselnya.


''Makanya kamu itu harus seperti aku,santai ,celetuk Dokter Hasan pada sang sahabat yang masih setia bekerja di kantor itu.


Pak Cakra tertawa melihat sahabatnya yang terlihat menyalahkan itu.


Pak Cakra berdecak melihat sang sahabat yang dari dulu selalu saja sinis padanya kalau soal pekerjaan, karena beda profesi, itulah yang membuat keduanya jarang bertemu, bahkan hari libur pun mereka juga tak bisa bertemu dengan kesibukan masing masing .

__ADS_1


Akhirnya pak Cakra menghabiskan hari pertama pensiunnya itu hanya dengan bercanda dan bernostalgia dengan sahabat lamanya, dan itu salah aatu obat untuk pak Cakra.


''Mungkin kalau Wilson disini, dia akan lebih kocak lagi, ucapan terakhir pak Cakra yang membuat keduanya tertawa ,


__ADS_2