
Memang fakta kebahagiaan tidak dapat di ukur dari materi, namun kebahagiaan itu di rasakan saat hati kita mendapatkan apa yang kita inginkan.
Meskipun harta yang begitu melimpah dan kasih sayang yang begitu besar dari sang suami, Sahila masih merasa ada yang kurang dalam hidupnya, dan itu yang membuatnya galau saat ini, pikirannya selalu melayang layang memikirkan hal yang memang belum pernah terjadi dalam hidupnya, apalagi kalau bukan soal hamil.
Memang terlihat tak begitu penting bagi Refan, namun itu hal yang sangat di banggakan bagi seorang wanita.
Baginya tak akan menjadi sempurna bila belum mengandung.
''Lagi mikirin apa?'' ucapan Refan membuyarkan lamunan Sahila,
Sahila memandang jauh ke depan ,sejauh hatinya saat ini yang sedang berkhayal.
''Mas, selama ini aku tidak pernah minta sesuatu yang mahal ataupun yang sulit, apa sekarang aku boleh meminta sesuatu darimu, ucapan sahila lembut namun ada keseriusan di wajahnya.
Refan mengangguk tanda mengizinkan sahila untuk bicara.
''Kita ke dokter, hanya itu yang aku inginkan, pliiisss, kali ini saja, aku mohon, Sahila menangkupkan kedua tangannya di depan Refan mengharap sesuatu yang sangat mudah namun bagi Refan itu hal yang berat,.
Refan menghela nafas panjangnya, dan kini matanya menatap Sahila dengan penuh arti,
''Kita ke dokter, tapi kalau kenyataanya kamu belum bisa hamil jangan sedih, jangan di buat masalah sepele ini menjadi besar,
Sahila langsung mengangguk dengan cepat, wajahnya langsung ceria .
Setelah semua siap baik jiwa maupun raganya Refan meminta izin pada pak Cakra akan niatnya pergi.
''Papa doakan semoga apa yang kalian harapkan cepat terwujud, namun kita hanya berusaha dan berdoa semua itu kita kembalikan pada Tuhan.
Setelah mendapat restu dari pak Cakra ,Refan dan Sahila berlalu, dan tujuannya kali ini benar benar membuat Sahila senang.
Jalanan yang begitu ramai tak jadi penghalang bagi Refan untuk menerobos kendaraan yang berhalu lalang, laju mobil yang begitu cepat membuat mereka sampai ke tempat tujuan dengan kilat,
Refan dan Sahila menyusuri lorong rumah sakit mencari ruangan yang di tunjuk resepsionis.
Setelah mengetuk pintu, Refan sangat terkejut melihat Siapa yang ada di dalam,.
__ADS_1
''Ririn, kenapa kamu disini, bukankah kamu tugas di luar negeri?'',
Wajah Refan bingung melihat sepupu jauhnya berada diruangan yang di tujunya.
''Masih ingat dengan namaku setelah dua kali menikah nggak mengundangku?'', ucap Dokter Ririn dengan sinis,
''Ayolah jangan marah, waktu itu aku sudah mengundang om ,dan aku kira kamu masih tinggal bersama mereka, karena pernikahanku itu mendadak,
''Apa yang kedua ini mendadak juga? '', ucap Ririn dan langsung membuat Refan mengangguk. sedangkan Sahila hanya diam melihat perdebatan kedua orang di depannya itu.
''What... Ririn kaget saat Refan mengangguk.
''Apa kamu sudah miskin sampai tak bisa merayakan pernikahanmu yang kedua, apa Kania sudah menghabiskan hartamu yang se antero dunia itu?'',. celetuk Ririn karena tak melihat pernikahan Refan dari media.
''Sembarangan saja, sudah jangan di bahas, malas aku, lagian ini bukannya mauku,tapi kamu lihat kan orang yang ada di sampingku ini, dia nggak mau acara yang mewah,
Refan menyudutkan Sahila saat Ririn menyalahkannya.
''Kenapa kakak ipar begitu bodoh, habiskan saja hartanya ,aku juga ingin melihatnya miskin, biar nggak sombong lagi, celetuk Ririn membuat Refan mengeratkan giginya
''Baiklah, Kakak ipar, maaf kalau kakak ipar merasa terganggu, kenalin aku Ririn ,apa yang perlu aku bantu?''
''Aku Sahila, suara lembut Sahila membuat mata Ririn membulat dengan sempurna.
''Ini beneran istri kakak?'' tanya Ririn menghadap Refan.
''Kenapa, apa ada yang salah?'', ucap Refan dengan santainya,
Seketika Ririn langsung saja tertawa demgan kerasnya.
Sedangkan Refan mengarahkan wajahnya pada langit langit ruangan itu ,mendongak ke atas adalah cara satu satunya menghindari Ejekan Ririn kali ini.
''Apa kamu bisa diam, apa ini terlalu lucu bagimu, sampai kau begitu bahagia?''. Refan menatap Ririn dengan tajam.
''Tidak ,tidak ,aku minta maaf, Sebenarnya kakak tidak cocok dengan kakak ipar yang begitu lembut, tapi sudahlah, aku tau pasti ini kerjaan om Cakra, dan aku harap kakak tidak sering sering memarahi kakak ipar,
__ADS_1
Sekali lagi Refan diam tidak memperdulikan ucapan sepupunya yang sok tau itu.
''Kakak ipar, ada yang perlu aku bantu, kenapa kalian datang ke dokter kandungan,?''
Sahila tersenyum, ''Aku mau periksa, aku dan mas Refan menikah sudah hampir enam bulan tapi aku belum hamil juga,
Ririn hanya mengangguk anggukkan kepalanya mendengar perkataan Sahila.
''Baiklah, kalian harus periksa, dan kali ini kamu dulu kak, setelah itu nanti kakak ipar.
''Kenapa aku ikut periksa, bukankah yang hamil itu perempuan, kenapa laki laki juga di periksa?''.
''Kakak itu bodoh apa lemot, meskipun yang hamil kakak ipar, tapi kakak juga harus periksa, kakak pikir kalau wanita tidak bisa hamil kesalahan hanya ada padanya ?''terkadang juga laki laki yang menyebabkan wanita tidak bisa hamil, makanya jangan pintar berbisnis saja, sekali kali belajar tentang yang lain!'' ucapnya Serius, membuat Refan berdecak kesal, karena selama di ruangan itu Ririn selalu saja mencari cari kesalahannya.
''Hai, apa kamu sendiri yang akan memeriksaku ?''ucap Refan saat melihat Ririn mengikutinya dari belakang.
''Ayolah kak ,jangan membuatku kesal, di luar masih banyak yang membutuhkan ku.
''Mas cepatlah, jangan membuat dokter Ririn lama, ucapan Sahila langsung membuat Refan mengikuti apa yang di perintah Ririn .
''Kakak ipar punya jimat apa sampai membuat kakak luluh, ucapnya asal,
''Sudahlah Rin ,aku capek kalau harus meladenimu, cepat periksa, Refan yang sudah lelah berdebat dengan sepupu perempuannya itu.
Setelah Refan selesai di periksa ,kini giliran Sahila yang masuk ke dalam ruangan pemeriksaan, ada rasa takut dalam hati Sahila saat ini, meskipun Refan menemani dan berdiri di sampingnya, ketakutan itu tak bisa hilang begitu saja, Refan semakin mengeratkan genggaman tangannya saat melihat Sahila mulai berkeringat.
Kali ini untuk pemeriksaan Sahila membutuhkan waktu yang sedikit lama,
Dokter Ririn dan beberapa suster begitu serius membuat Sahila semakin gugup.
''Kakak ipar tenang lah, jangan gugup, tarik nafas dan buanglah, ucapnya membuat Sahila sedikit rileks.
Setelah melewati pemeriksaan, Ririn dan Sahila serta Refan kembali ke ruangannya, tapi kali ini ada yang aneh dari wajah Ririn,Ririn tak seceria tadi saat Refan dan Sahila datang, bahkan wajahnya tak menampakkan senyuman sekali pun.
''Maaf kak dan kakak ipar, dengan berat hati aku akan tetap mengatakan ini, tapi aku harap kalian jangan berkecil hati dulu, dan terutama kalian harus sabar, ucap Ririn membuat Refan sedikit bingung.
__ADS_1
Kira kira apa ya yang akan di katakan Dokter Ririn, Author selalu saja kepo.....