KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 46.Cincin


__ADS_3

''My little friend'' itulah nama baru di ponsel Sahila saat ini, Sahila sedikit bingung kenapa Refan menggunakan nama itu, Sahila berdiri di balkon kamarnya sambil membolak balikkan benda pipih itu, sedangkan Refan dari balkon kamarnya


yang tak melihat Sahila pun langsung melempar sesuatu dan langsung jatuh di rerumputan.


Sahila menoleh, ternyata Refan masih mematung dan kini pandangannya jauh ke atas langit yang gelap.


Dengan kejahilannya Sahila menekan tombol dan mengirim pesan.


✉️


''Lagi mikirin apa, kelihatannya kok galau sekali, kalau mau cerita aku siap untuk mendengarnya.


pesan singkat Sahila yang tak sengaja langsung terkirim, sebenarnya Sahila masih ragu untuk itu, tapi semua sudah terlanjur,.


Refan langsung membuka pesan dari Sahila dan langsung menoleh, namun Orang yang di cari tak kelihatan, karena Sahila sedikit mundur.


''Aku tau kamu ada di situ, kenapa jam segini belum tidur? ''


''Aku nggak bisa tidur, dan aku terbiasa di sini sampai larut, kenapa kamu menulis kata itu di ponselku? tanya Sahila pelan, namun pendengaran Refan masih tajam dan langsung menyahutnya.


''Karena aku fikir hanya kata itu yang pantas untuk kita sekarang, aku nggak tau, mau memakai apa, aku hanya teringat itu saja, dan maafkan aku karena aku mengingkari janjiku untuk menjemputmu.


''Kamu sudah ingat semuanya? ''Sahila memastikan ucapan Refan, dan kini Sahila menampakkan dirinya tepat di samping Refan ,meskipun terhalang tembok dan pagar ,Refan masih melihat jelas senyum Sahila.


Refan mengangguk, ''tapi sekarang aku sudah terlambat untuk menjemputmu, karena sudah ada pria lain yang akan menjagamu dan mendampingimu nanti, dan aku sangat berharap kamu bahagia dengannya. ucap Refan asal.


''Maksud kamu kak Iwan? ''


Refan mengangguk.


Sahila bingung dengan ucapan Refan,

__ADS_1


Kenapa mas Refan bilang begitu, apa maksudnya, apa dia nggak tau kalau selama ini aku menolak kak Iwan, dan apa mas tau aku sebenarnya menunggu saat ini, tapi aku nggak mau bilang dulu, aku akan memastikan bahwa kamu memang sungguh sungguh dengan ucapan mu itu, batin Sahila.


Sahila tersenyum dan kini pandangannya jauh kedepan,


''Aku memang nggak akan tau masa depanku, tapi aku berharap aku akan mendapatkan laki laki yang tulus mencintai aku apa adanya, siapa pun itu, jika memang jodohku aku pasti akan menerimanya dengan tangan terbuka. dan aku berharap kamu juga berfikir begitu, jangan menilai orang dari luarnya saja, siapa pun nantinya seseorang yang ada di dalam hatimu, itu tulus karena cinta bukan karena balas budi atau sebuah janji, tapi rasa cinta, karena sekuat apapun wanita, dia tetaplah orang yang sangat rapuh menghadapi semua masalah, apalagi sendirian, ucapnya tanpa sadar air mata Sahila menetes mengingat semua yang terjadi padanya dan Refan.


''Aku memang di butakan oleh cinta semu, aku selalu menganggap bahwa orang yang aku cintai akan memcintaiku, duniaku gelap, dan aku mendapat ruang yang lebih gelap lagi, karena aku menolak lilin yang akan menerangiku, karena aku pikir dalam kegelapan sekalipun aku masih bisa melihat karena ada orang yang akan menuntunku, tapi aku salah, saat orang itu meninggalkan aku, aku baru menyadari bahwa lilin adalah satu satunya cahaya untukku melihat ,baik itu baik ataupun buruk, Aku juga belajar darimu, meskipun kamu rapuh, tapi kamu mencoba untuk berdiri dengan tegak, menghadapi semua masalahmu sendiri, keduanya saling pandang dan saling meneteskan air mata,


Sahila lebih terisak mendengar ucapan Refan,


Sedangkan Refan mengusap air matanya sendiri, tak mau sampai Sahila melihatnya.


''Aku minta maaf untuk semuanya, jangan menangis ,aku tunggu di depan kamar, Refan masuk ke kamarnya, Sahila pun ikut masuk dan kini keduanya bertemu di depan kamar,


Refan tersenyum melihat Sahila masih dengan tangisannya


Refan berjalan pelan menghampiri Sahila yang tersedu sedu dengan tangisnya.


Dengan sigap Refan lansung meraih tubuh mungil Sahila yang mematung di depannya.


tangisan Sahila semakin terisak, dan Refan pun ikut mengeluarkan air mata, namun kali ini Refan merasa sedikit lega ,karena sudah mengatakan apa yang selama ini di pendamnya,


''Aku memang sudah jahat, aku nggak pantas untuk di maafkan, tapi aku hanyalah manusia biasa ,semua di luar kuasaku, sebelum melanjutkannya Sahila menutup bibir Refan dengan satu jarinya.


''Sssttt..... jangan bilang begitu. semua manusia pasti punya dosa, begitu pun aku, yang penting kamu sudah sadar dan mau menyesalinya,aku sudah memaafkanmu, apa kamu ingat di kamar ini kamu menunjukkan cincin dan akan memberikan nya untukku saat aku besar,mana cincin itu ?''Sahila menagih janji dari Refan,


Seketika itu juga Refan langsung mengajak Sahila berlari turun tangga menuju taman.


''Ngapain kita ke sini, apa yang kamu cari?'', sambil melihat Refan menyalakan ponselnya dan menyibak rumput di bawahnya .


''Pak Jono, pak satpam, bantu aku mencari cincin di sini?'',

__ADS_1


teriak Refan sambil menunjuk rumput di bawahnya .


''Jadi kamu membuang cincin itu dan akan melupakan aku?''.


''Kamu diam dulu, nanti aku jelaskan, bantu aku nyari cincinnya, biar cepat ketemu.


Setelah kurang lebih satu jam, Pak Jono menemukannya dan langsung menyerahkan kepada Refan,.


Refan merebahkan badannya di atas rerumputan taman, karena lelah.


''Kenapa tiduran di sini, ayo masuk!'' ajak Sahila sambil menarik tangan Refan.


''Tunggu, aku akan menjelaskan semuanya!''


''Aku memang membuang ini, dan akan melupakan semuanya, karena aku tau nggak mungkin aku kasih kamu cincin ini, karena kamu bukan milikku lagi, aku nggak mau terbayang bayang masa lalu, tapi karena kamu yang minta ,aku rela untuk mencarinya walaupun sangat sulit,


''Apa kamu fikir aku orang yang mudah beralih ke lain hati, sambil berjalan menuju pintu utama.


''Kalian dari mana, kok berisik, ada apa? ''tanya papa Cakra yang keluar dari kamar, untuk mengambil minum.


Sahila hanya menggeleng.


''Anak perempuan papa minta cincin, karena cincinnya sudah aku buang, tapi karena dia ngeyel ,ya udah aku cari di taman, untung saja pak Jono menemukannya, kalau tidak, aku nggak tau sampai kapan anak papa nangis,karena itu sangat berisik, dan pasti akan mengganggu tidurku.


Sahila langsung mendaratkan pukulan di lengan kekar Refan membuat sang empu meringis kesakitan.


Lagi lagi Refan membuat Sahila jengkel karena ulahnya, tapi kali ini Sahila senang karena Refan rela mencari benda itu meskipun hari sudah malam,


''Ya sudah, lebih baik kalian tidur,ada ada saja, lagian kamu Fan, kenapa suka banget menggoda Sahila, kaaihan dia!'' ucap papa Cakra sedikit bercanda.


Jangan lupa like komen dan votenya ya

__ADS_1


Supaya Authornya semangat.


__ADS_2