
Tak ada yang salah di saat ini, Sahila menggendong Kyara sambil membawa buku cerita dongeng anak dunia princes, menghampiri Refan yang juga duduk santai di taman sambil melihat ponselnya, mengecek perkembangan semua proyek proyeknya yang di dalam maupun di luar kota, beberapa kali menelpon seseorang untuk tetap menjaga amanah dari nya, karena selama bekerja Refan hanya mengandalkan kejujuran dan kegigihan untuk mendapatkan hasil yang maksimal, begitu juga dengan Mike berpegang teguh dengan dirinya, keduanya tak pernah mencampur dunia bisnis dan pribadi.
Sahila membacakan cerita dengan suara yang lantang sambil mondar mandir di depan Refan.
''Sayang, sambil duduk sini!" Menepuk kursi di sampingnya, ''Apa kamu nggak capek?" melanjutkan kalimatnya dengan pelan.
Sahila menggeleng dan melanjutkan membaca cerita, karena menurutnya berdiri itu lebih nyaman buat Kyara saat berada di gendongannya.
Refan ikut tersenyum melihat putri kecilnya yang sesekali menampakkan gusinya.
Beralih melihat wajah sang istri yang nampak semringah dan sesekali tersenyum karena menghayati isi cerita yang di bacanya.
Keluarga kecilku, kalian adalah masa depanku, dan aku akan menjaga kalian sekuat tenaga dan kemampuanku untuk membuat kalian bahagia, lirih hatinya.
Selang beberapa waktu, tiba tiba saja bunyi klakson mengejutkan keduanya.
Tuan Mike, kenapa sendiri, kenapa Nia tidak di ajak?" batin Sahila saat melihat Mike menghampirinya.
Sedangkan Refan hanya berdecak melihat sekretarisnya yang sudah di beri tau akan di beri surat pengunduran diri itu.
Apa dia sudah tak sabar menunggu hari masuk dan memintaku untuk memecat nya sekarang? membatin dengan tatapan sinis.
''Pagi nona, pagi bos, sapa Mike bernada ramah karena tak mau membuat Refan marah.
Melihat tatapan Refan padanya Mike merasa sedikit canggung untuk langsung mengajaknya bercanda.
Ini pasti masih ingat masalah yang kemarin nih, gi mana caranya membuatnya tidak marah ?membatin.
''Maaf bos, aku ke sini mau membicarakan tentang insfatruktur jalan menuju desa, karena pasar itu sudah di buka, tapi jalannya masih enggan di lewati truk, mendengar ucapan Mike, Refan mengingat kalau semua yang di katakan Mike memang benar.
untung saja otakku ini cerdas, batinnya merasa lega.
''Pintar juga kamu ya, aku kira kamu ke sini mau menyerahkan diri kamu dan menanda tangani surat pemecatan dariku," mengucapkannya, namun masih sibuk dengan ponselnya.
Tu kan, nadanya cuwek, untung saja aku ini manusia penyabar, kalau tidak, aku sudah tikung kamu dari belakang, batinnya Mike kembali.
''Terus, apa kamu kemari hanya mau mengatakan itu saja?" tanya nenyelidik.
__ADS_1
Mike mengangguk.
''Pagi Ana, tiba tiba Mike kembali mengalihkan perhatian sekaligus pandangan tajam dari bosnya.
Sedangkan Ana yang merasa di sapa ramah pun ikut membalasnya ramah dan terus melanjutkan langkahnya.
''Waktunya Princes minum susu Bu," ucapnya.
Setelah sempat menoleh ke arah Ana yang melewati pintu, Kini Refan kembali menatap ponselnya kembali.
''Mas, aku masuk ya?'' pamitnya.
Dengan cepat Refan mencium keningnya sebelum Sahila melangkahkan kakinya menuju pintu.
Melihat punggung Sahila yang sudah mulai menghilang, Mike langsung menarik kursi dan duduk di depan Refan.
''Ternyata Ana cantik juga ya," ucapnya sambil menaikkan alisnya dengan cepat.
Refan semakin sebel dengan sekretaris yang menurutnya sinting, baru saja di bilangin habis kena masalah gara gara wanita dan kini dirinya malah ngomongin soal wanita di depannya.
''Kamu gila, mau membuat rumah tanggaku hancur, kamu nggak lihat kalau istriku itu cemburu kalau aku ngomongin wanita, kenapa kamu masih juga membicarakan baby sister itu, sekarang kalau kamu mau dia, ya nikahin saja, jadikan dia wanita mu yang kedua," celetuk Refan tanpa basa basi karena semakin gedeg dengan manusia berwujud setan di depannya.
Wajah Refan langsung merah padam karena marah mendengar ocehan Mike.
''Kamu dengar aku baik baik ya!" ucapnya sambil mencondongkan kepalanya ke depan.
''Meskipun di dunia ini banyak wanita yang bernama Sahila, ataupun wanita yang lebih cantik darinya, bahkan artis yang terkenal dengan kecantikannya, aku tidak akan berpaling darinya, dan aku tidak akan pernah melepaskan istriku, dia tidak akan tergantikan, apa lagi menyerahkan pada pria sepertimu, cih.. tak sudi.
"The best...," sambil mengangkat kedua jempolnya.
''Sayang, aku pergi sebentar ya?'' teriaknya sambil menyeret Mike berjalan menuju mobilnya.
Mike sedikit bingung, baru kali ini melihat bosnya searogan itu, bahkan tak menyempatkan Mike untuk mengatakan sesuatu.
''Pasang sabuk pengaman!'' perintahnya dengan tegas.
Sedangkan Mike hanya mengangguk saja.
__ADS_1
Apakah ini benar benar hari terakhirku hidup di dunia ini, oh... Tuhan tolonglah aku, aku nggak mau kalau anakku nanti lahir menjadi yatim, berdoa dalam hati sambil menengadahkan tangannya.
Sedangkan Sahila yang sempat melihat mobil Refan keluar dari gerbang dengan cepat pun merasa sedikit aneh, namun tak ada fikiran negatif dari diri Sahila untuk Refan, tidak mungkin suamimya itu melakukan hal di luar nalar.
Refan hanya bisa fokus menyetir dengan sangat kencang.
''Boos... belum juga meneruskan ucapannya, Refan sudah mengangkat lima jarinya menandakan Mike untuk tidak mengucapkan kata.
Baiklah kalau aku mati, kamu juga mati, batinnya memantapkan hatinya untuk membuang rasa takutnya.
Sepanjang perjalanan, Mike pun diam dan sesekali menatap wajah bosnya yang masih terlihat tegang.
Supir supir saja deh ,mendingan aku tidur, batin Mike lalu memejamkan matanya.
Selang beberapa menit, Refan menghentikan mobilnya di depan hotel miliknya, karena melihat Mike yang keenakan tidur, Refan langsung saja menjewer telinga Mike yang membuat sang empu langsung gelagapan.
''Sakit bos, keluhnya sambil memegang telinganya dan meringis.
''Siapa suruh kamu enakan tidur, sedangkan aku nyetir, ucapnya lalu membuka pintu mobil dan keluar.
Refan berjalan dengan santainya menuju hotel dan tak menghiraukan Mike yang sedang kebingungan, Untuk apa ke hotel, mungkin fikiran itulah yang terlintas dalam diri Mike saat ini.
Mike pun ikut melangkahkan kakinya mengikuti Refan dari belakang, namun sedikit menjauh.
Perasaan tidak ada laporan apa apa, dan aku lihat sepertinya juga tidak ada masalah dengan hotel, tapi kenapa bos ke sini, batinnya menerka sambil jalan mengikuti Refan yang kini menuju ruangan manager.
''Tunggu sebentar, aku masuk dulu!" perintahnya kembali yang semakin tak di mengerti oleh Mike.
Sesekali Mike melihat jam yang melingkar di tangannya.
''Kok lama sih, ucapnya karena waktu menunggunya sudah terlihat tiga puluh menit.
Belum juga mengetuk pintu, Refan sudah membukanya dari dalam, nampak lah sang manager yang sedang tersenyum renyah dan bersalaman dengan Refan.
''Pagi tuan Mike, sapa sang menager, sedangkan Mike hanya membalasnya dengan senyuman.
''Habis ngapain sih bos, lama amat?'' tanya Mike penasaran sambil berjalan.
__ADS_1
''Bertelur, jawab Refan, singkat, padat, namun tak jelas.