
Lima bulan Setelah pernikahan, Sahila menjalani hari harinya murni sebagai istri yang mengurus suami dan mertua, kasih sayang Refan yang begitu besar membuat hari harinya semakin bahagia, tak ada beban dan masalah yang menghampiri, Karena perhatian yang begitu besar dari Refan membuatnya tak bosan hanya dengan di rumah, di sela sela kesibukannya Refan selalu menyempatkan waktu hanya sekedar vc pada sang istri,
Itu menambah keharmonisan.
Refan pun begitu ,semakin merasakan kebahagiaan ,meski pernikahan mereka seumur jagung namun keduanya saling melengkapi, disaat Refan merasa lelah Sahila lah tempat untuk bersandar, Refan menyadari bahwa kebahagiaan tidak di ukur dari materi ,tapi saling mengerti dan memahami, apa lagi kepercayaan dari keduanya begitu besar, Refan yang awalnya tidak tau akan perasaanya kini mulai sadar, bahwa dalam hatinya selama ini adalah cinta, Ya, Cinta yang tanpa di sadari sudah bersemayam dalam dirinya, tak bisa di pungkiri kasih sayangnya selama ini pada Sahila bukan hanya karena kasihan dan rasa bersalah semata, tapi karena begitu cintanya sama Sahila sampai kekhawatirannya pun semakin tinggi,
Super protektif ,apapun yang dilakukan Sahila, kalau menurutnya kurang baik pasti akan di larang, dan beruntungnya Sahila wanita yang begitu penurut, tak mau membantah apapun kata dari Refan.
''Mas, besok Nesya mau acara tujuh bulanan kita datang ya?'', ucap Sahila pada Refan, karena saat ini hari libur dan mereka menghabiskan waktu berdua.
Refan tersenyum, ''Kenapa tidak, dia kan sahabatmu ,dan Doni sahabatku juga, kita harus datang untuk memberi selamat pada mereka,
Namun wajah Sahila tak seceria biasanya ,setelah mendapat telepon dari Nesya.
Refan hanya pura pura diam, menunggu Sahila mengatakan apa yang terbenak dalam hatinya.
''Mas, kita menikah sudah lima bulan, tapi aku kok belum ada tanda tanda hamil juga ya?'', Kata Sahila sambil menyenderkan kepalanya ke dada bidang Refan.
''Jadi dari tadi muka kamu cemberut gara gara mikirin kamu belum hamil?'', tanya Refan yang langsung mendapat anggukan dari Sahila.
''Sayang, sabar saja, semua orang itu berbeda, terkadang mereka yang menikah bertahun tahun pun ada yang belum di karuniai anak juga, apa lagi kita yang baru lima bulan, yang penting kita sudah membuatnya setiap hari, Refan menenangkan dan mulai bercanda ,berharap Sahila tak memikirkannya lagi.
''Tapi mas ,apa nggak sebaiknya kita periksa ke dokter, aku takut, gi mana kalau aku nggak bisa hamil?'' ucap Sahila senonoh yang langsung mendapat bungkaman dari Refan.
__ADS_1
''Jangan bilang begitu, setiap perkataan itu doa, jadi kamu nggak boleh mendahului kehendak NYA, lagi pula mas nggak terlalu menuntut untuk kamu segera hamil, kita jalani saja, semua itu ada waktunya, kalau Tuhan sudah percaya pada kita akan TitipanNya, tak butuh waktu lama, kita tinggal berusaha dan berdoa.
''Tapi mas janji nggak akan meninggalkan aku kan, meskipun aku belum bisa hamil?''
''Jangan ngawur, mas nenikahi kamu bukan hanya mengharap anak saja, tapi kamu adalah wanita yang tepat untuk mendampingiku, kamu adalah orang yang mas cari selama ini, apa yang mas inginkan dalam pernikahan, itu semua ada pada kamu, terima kasih karena kamu sudah setia mendampingi orang yang sombong ini. ucap Refan dan langsung memeluk Sahila dengan erat.
''Tapi mas mau kita periksa ke dokter kan?
''He'em besok kita ke dokter, tapi apapun kata dokter nantinya, kalau itu hal yang negatif kamu nggak boleh memikirkannya, hmm.
Sahila mengangguk.
''Mas, kemarin Sindi telepon aku, katanya kak Iwan nembak dia, dan Sindi belum kasih jawaban, Sindi minta pendapatku, aku bingung mau jawab apa, aku kan nggak terlalu tau kepribadian kak Iwan, apa mas tau gimana kak Iwan?'',
''Hemmm....jawaban Refan dengan mulut yang masih tertutup ,sedangkan tangannya masih sibuk dengan ponsel yang di pegang.
''Em... gi mana ya, Iwan itu tampan, baik dan kayaknya memang cocok sama Sindi, lagian itu saja yang mas tau, dan mas itu nggak terlalu tau dengan kepribadiannya, tapi selama kami bersahabat, Iwan itu begitu baik, dari pada mas, kalau mas saja bisa mendapatkan wanita yang sangat baik, apa lagi Iwan yang sudah baik pasti juga bisa mendapatkan Sindi yang baik juga, ucap Refan memastikan Sahila.
Keduanya menikmati indahnya taman, meskipun matahari enggan untuk menampakkan sinarnya, gerimis menyaksikan Sahila dan Refan yang saling bermesraan di teras belakang,
------------------------
''Apa kakak nggak mampir dulu ,ini kan gerimis, lagian jam nya juga masih siang!'', ucap Sindi pada Iwan, karena Iwan baru saja mengantar Sindi pulang, setelah mereka jalan jalan.
__ADS_1
Iwan mengangguk dan masuk mengikuti Sindi dari belakang.
''Bi, tolong buatkan minum untuk kak Iwan,!''ucap Sindi kepada asisten rumah tangganya.
''Sin, bukannya aku memaksa atau mendesak kamu untuk menerimaku , aku nggak mau lama lama hubungan seperti ini, aku ingin kepastian, kalau kamu memang setuju dengan apa yang mama katakan, aku ingin ketemu dengan orang tua kamu,. aku juga nggak mau terjadi fitnah antara kita berdua, aku sering ke sini, sedangkan kamu hanya tinggal sendiri ,meskipun ada Bibi, tapi orang tua kamu kan nggak ada.
Sindi mengangguk, ''Aku akan menghubungi mereka, Tapi aku nggak janji, gi mana kalau mereka nggak menyetujuinya, apa kakak mau berjuang untukku,
''Maksud kamu?''
''Ya maksud aku, mereka itu sering menjodohkanku dengan rekan bisnis papa, makanya aku nggak mau ikut mereka, aku lebih memilih tinggal di sini, dari pada harus di desak dengan laki laki yang mereka pilihkan,
Iwan hanya mengangguk anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Sindi.
''Tapi kenapa sekarang kamu mau dekat sama aku, bukankah ini awalnya juga perjodohan dari mama ?''
''Aku tau kakak itu punya rasa cinta dengan tulus pada wanita,meskipun aku belum tau gi mana kedepannya, sedangkan orang yang pernah di jodohkan denganku itu kebanyakan hanya mencari kesenangan, aku takut kalau mereka menikahiku hanya sebagai mainan saja dan bukan karena cinta.
''Sepertinya kamu lebih faham dengan laki laki?''tanya Iwan.
''Aku lebih faham kak, mama dan papa itu seorang pembisnis, dan mereka juga sering mengajakku ke luar negeri dan bertemu koleganya, tapi kakak jangan cerita ke siapa siapa, kakak adalah orang pertama yang tau ceritaku, bahkan aku pun tidak pernah cerita ke Sahila meskipun dia teman dekatku.
''Baiklah, kalau kamu memang sangat percaya padaku, aku akan berjuang untuk mendapatkan restu orang tua kamu, dan kamu berdoa, semoga orang tuamu menyetujui hubungan kita, sekarang aku pulang dulu, Iwan melihat jam yang melingkar di tangannya dan pamit pulang, karena hari pun sudah mulai aore,.
__ADS_1
''Hati hati kak...teriak Sindi saat Iwan masuk ke dalam mobil.
''Aku tau kamu orang yang baik, semoga mama dan papa menyetujui hubungan kita .''gumamnya.