
''Fan, panggilan itu beberapa kali di tujukan untuk Refan dari sang papa, namun sama sekali Refan tak bergeming dan tetap bersembunyi di balik selimut tebalnya.
Sedangkan pak Cakra yang kini membuka pintu kamar Refan hanya bisa tersenyum saat melihat kelakuan anaknya yang juga tak berubah semenjak kecil, apa lagi kalau bukan mengurung diri jika ada masalah.
''Semua masalah butuh penyelesaian, bukan menghindar seperti ini, ucap pak Cakra sambil menepuk bahu Refan dari belakang.
Refan masih saja diam karena fikirannya yang belum menemukan titik terangnya.
''Sekarang antar papa ke hotel!'', perintah pak Cakra yang membuat Refan mendengus.
''Pa, kan ada supir, kalau istriku disini mungkin aku akan ke sana tanpa di suruh, tapi dia nggak ada dan aku nggak mau melihat kemesraan yang lain, ucapnya sambil menoleh ke arah pak Cakra namun masih berada dari balik selimut.
''Tapi papa maunya kamu, dan kamu harus lihat suasana luar malam ini, masa kamu kalah sama papa yang ingin menikmati malam ini, ucapnya kali ini sedikit memaksa, dan meninggalkan Refan.
Setelah berfikir, Refan pun mengikuti pak Cakra, belum juga melangkahkan kakinya keluar, Refan kembali dan merapikan penampilannya menyambar sebuah jaket dan langsung pergi.
''Siap Fan?'', tanya pak Cakra saat Refan sudah berdiri di belakangnya, tak bicara hanya mengangguk sebagai jawaban.
Dalam perjalanan, Refan hanya diam, sedangkan pak Cakra sesekali melirik ke arah sang putra yang terlihat masih sedikit kusut.
''Lihatlah, malam ini ramai sekali. ucapnya mencairkan suasana sambil melihat ke arah luar.
Namun itu belum juga membuat Refan bergeming dan masih saja diam membisu.
Apaan sih papa, nggak tau apa kalau aku lagi galau saat ini, batinnya kesal.
Selang beberapa waktu, kini Refan memarkirkan mobilnya di depan hotel miliknya, meskipun enggan untuk masuk Refan tetap melangkahkan kakinya di belakang pak Cakra.
Hotel ini adalah hotel bersejarah dalam hidupku, di mana malam itu aku memperkenalkan kamu pada dunia tentang statusmu menjadi istriku, dan malam ini juga hotel ini pun bersejarah dengan keretakan rumah tangga kita, tapi untuk sejarah kali ini aku tidak akan tinggal diam, aku akan memulihkan di mana kamu tercipta memang untukku ,bukan untuk orang lain, batinnya sambil menatap setiap sudut halaman hotel yang terlihat luas.
Refan kembali melangkahkan kakinya menuju pintu utama.
Semua menyambutnya dengan ramah dan menunduk.
''Selamat malam tuan, kenapa anda terlambat?'' ucap sang manager pada Refan.
Kenapa dia bilang begitu, memang siapa saja yang datang? , batinnya.
Refan pun tak menanggapi dan langsung berjalan menuju tempat yang di tujunya.
__ADS_1
Ruangan paling atas di dalam hotel itu kosong, namun hiasan indah mewarnainya, Refan terus berjalan menyusuri setiap sudut ruang itu dan tersenyum.
Ini benar benar yang ku inginkan, tapi sekarang aku bingung apa aku harus bahagia atau aku harus bersedih, batinnya lagi.
Dan tiba tiba saja Ruangan itu gelap ,tak ada sedikit pun cahaya yang menyinari.
''Pa, panggilnya karena sebelum mati lampu Refan masih melihat pak Cakra.
Karena tak ada sahutan, Refan mencari sebuah benda pipih.
''Ah.. sialan kenapa juga bisa aku lupa membawanya,gumamnya.
Dengan keadaan gelap, Refan mencoba berjalan pelan, tujuannya adalah tembok, namun belum juga sampai, Refan menabrak sesuatu.
Meraba dengan pelan dari atas lalu melepaskannya kembali.
''Siapa kamu?'', ucapnya sambil memundurkan langkahnya pelan.
Refan kembali mencium bau parfumnya dan ternyata parfum wanita.
Apa ini sebuah jebakan. batinnya.
Masih tak ada suara.
Suara hentakan Sepatu dan dan lantai itu terdengar nyaring di depan Refan dan semakin mendekat padanya,
''Pergi, kamu siapa, ucapnya lagi sedikit teriak ,namun Refan tak bisa berbuat apa apa karena keadaan yang tak memungkinkan untuk melakukan sesuatu.
Seseorang yang mendekat itu meraih tangan Refan dan kini memeluknya dengan erat meskipun Refan meronta dan mendorongnya.
''Ini aku Sahila istri kamu, justru ucapan itu yang membuat Refan termangu dan mengendurkan pelukannya lalu mencium bibir wanita yang di rindukannya.
Refan mencium bibirnya dengan sangat lembut, meskipun belum melihat wajahnya, tapi suara itu sudah membuktikan, suara wanita yang menjadi pendamping hidupnya.
''Kamu di sini sayang, aku merindukanmu. ucapnya lagi setelah melepaskan ciumannya dan kembali berpelukan.
Setelah puas berpelukan ,tiba tiba lampu itu menyala dengan terang membuat keduanya terbelalak, dan saling pandang.
Rasa haru ,tangis, sedih, tawa, menjadi satu dan itu membuatnya meneteskan air mata, bahkan Refan tak bisa berkata apa apa.
__ADS_1
Karena drama pelukan itu lama, kini Refan beralih dan menatap wajah seseorang yang amat di rindunya kembali.
''Kamu memang pintar membuatku mati perlahan sayang, ucapnya pelan melihat manik mata istri yang di kira pergi pulang kampung.
''Bukan aku, ucapnya manja.
''Terus?'', Sahila menunjuk kearah semua orang yang berdiri di depan pintu masuk,terakhir Refan menatap sekretarisnya yang pura pura melihat Nia yang ada di sampingnya.
Awas saja kalau sampai ikut ikutan berkonspirasi mengerjaiku Mike, batinnya kesal.
Namun kembali lagi, Refan tak mau berfikir panjang dan mendekati semua orang yang kini sudah di anggapnya keluarga.
Namun kali ini Refan melepaskan pelukannya dari sang istri dan beralih memeluk Ibu mertuanya.
''Bu.... ucapnya berhenti karena Refan sudah tak kuasa untuk melanjutkannya kembali.
Bu Nur membalas pelukan sang menantu sambil menepuk punggungnya.
''Ibu tidak marah padamu, dan Ibu tidak mempermasalahkan sikap kamu, karena ibu tau kalau kamu sangat mencintai anak Ibu, begitu juga dengan putri Ibu yang juga mencintaimu, kamu jaga mereka baik baik, jangan pernah lagi kamu menyakiti mereka ya, ucapnya menasehati.
Refan mengangguk dan menggenggam tangan Bu Nur dan menciumnya.
''Aku berjanji di depan Ibu dan juga papa, aku tidak akan menyakiti istri dan anakku, dan aku akan menjaga mereka dengan nyawaku,dan sekali lagi aku minta maaf sama Ibu atas kesalahanku dulu.
Bu Nur mengangguk dan melihat Sahila yang berdiri di samping Refan.
Senyuman indah itu kini terukir di setiap bibir semua yang berada di ruangan itu.
''Kyara sayang, papa kangen, ucapnya sambil mengambil alih dari gendongan Nia.
Melihat kebahagiaan Refan, Pak Cakra ikut terhanyut bahkan mengeluarkan air matanya.
Ma, anakmu sudah dewasa, dia sudah menjadi seoarang ayah, dan tanggung jawab papa sudah selesai disini, terima kasih karena kamu sudah meninggalkan seorang putra yang kini sudah sukses ,aku tidak akan menyesal karena kebersamaan kita terlalu singkat, karena semua itu sudah suratan dari Tuhan,bicara dalam hati pak Cakra.
''Bagimana rasanya ditinggal Nona Bos?'', tiba tiba ucapan menyebalkan itu keluar dari mulut Mike.
Ckck.... ''Ingat ya, kalau aku tau kamu ikut dalam acara ini ,aku pastikan besok kamu akan pulang bersama nyonya Wilson,
Mendegar ucapan itu, Mike langsung saja menggeleng dengan cepat karena memang dirinya tak tau apa apa.
__ADS_1