
Setelah semalaman merasakan sakit pada perutnya, Akhirnya Refan mengambil langkah untuk membawa Sahila ke rumah sakit, setelah sebelumnya menghubungi Ririn, Zero dan Mike.
Kini Sahila sudah berada di ruang bersalin, namun belum juga ada tanda tanda akan lahirnya sang bayi karena menurut Ririn masih sedikit lama, baru juga pembukaaan tiga.
Sahila hanya bisa merintih dan mencengkeram tangan Refan yang berada di sampingnya.
Refan yang baru pertama kali melihat orang yang akan melahirkan pun hanya ikut mengernyit saja, di saat Sahila mengalami kontraksi.
''Mas, sakit, hanya itu yang diucapkan Sahila.
''Apa tidak ada jalan lain selain ini Rin, kenapa kakak kamu merasakan sakit, kakak nggak tega, ambillah langkah lain!" ucapnya sedikit marah.
Terkadang Ririn pun berdecak dan menerima semua omelan kakak sepupunya itu.
''Kakak tenang lah, ini memang yang di alami ibu yang akan melahirkan, jadi bukan kakak ipar saja yang seperti ini, Ririn menjelaskan.
Refan kembali mendekati Sahila dan mengelap peluh yang menghiasi setiap pori pori pipi dan dahinya.
''Kamu sabar ya, pasti sebentar lagi juga lahir kok, Refan hanya menguatkan dan sesekali mencium kening sang istri yang mengeluarkan air mata.
Sesakit apa sayang, maaf mas tidak bisa mengurangi rasa sakitmu, tapi dengan kehadiran mas, mas berharap kamu lebih tenang.
Desisan dari mulut Sahila membuat Refan semakin lemas, seakan tak kuasa melihat kesakitan sang istri.
''Gi mana Rin?'' tanya Refan pada Ririn setelah memeriksa Sahila.
''Sebentar lagi kak, ini sudah mulai pembukaan enam kok, Ririn yang tau mengucapkannya dengan santai.
Kali ini tak ada senyuman sedikit pun di wajah Refan.
''Apa nggak lebih baik operasi saja, dari pada lama sekali, Refan mencoba unjuk gigi mengira hanya dirinya yang terpintar di ruangan itu.
''Kakak diamlah, kakak itu sangat mengganggu konsentrasiku, Kalau mau operasi itu bukan sekarang tapi tadi saat kakak belum pembukaan, bentak Ririn.
Refan terlihat seperti orang yang sangat bodoh di saat dirinya harus melihat sang istri yang terkapar di brankar.
__ADS_1
Saat ini Ririn kesal dengan kakak sepupunya yang selalu saja menganggunya hingga suster yang membantu Ririn pun tersenyum melihat kegusaran Refan.
''Mas.... ucap Sahila sambil menggeleng gelengkan kepalanya berharap Refan tak membuat Ririn kesal.
Tangan Refan pun tak henti hentinya mengelus perut buncit Sahila, sedangkan yang satu masih dalam cengkeraman sang istri.
Setelah menunggu beberapa menit, Sahila semakin merasakan perutnya semakin sakit dan itu sudah tak bisa di tahannya.
''Nah, kakak pembukaannya sudah sepuluh, jadi nanti kakak dengar intruksi dari ku ya!'' pinta Ririn.
''Apa kakak mau di luar atau disini?'' Tanya Ririn pada Refan yang terlihat bingung.
''Disini saja, nggak mungkin aku ninggalin kamu sayang," sambil mencium kening yang penuh dengan keringat karena menahan sakit.
Sahila menggigit bibir bawahnya saat merasa semakin sakit, seakan bayi nya sudah mau keluar.
Tangannya semakin mencengkeram kuat tangan Refan, mendengar intruksi dari Ririn, sampai beberapa kali, tanpa di sadari Sahila pun menggigit tangan Refan saat melakukan apa yang di perintah Ririn, kini lahirlah seorang bayi mungil yang langsung menangis menggema di sudut ruangan dan tangisannya itu pun sampai terdengar di luar hingga membuat Mike dan Nia serta Zero dan pak Cakra tersenyum bahagia, bahkan dengan sontak Nia memeluk Mike sambil menangis.
''Akhirnya nona melahirkan, ucapnya dalam pelukan sang kekasih, saat beberapa waktu ikut merasa khawatir akan keadaan Sahila.
''Terima kasih, karena kamu sudah mau menjadi seorang istri untukku dan mau melahirkan anak kita, Aku mencintaimu selamanya, Sahila istriku." ucapnya, ada senyuman di sela sela tangisnya yang membuat Sahila langsung ikut tersenyum.
Namun air matanya pun tak berhenti berderai, dan itu membuat Refan selalu menyekanya.
''Aku sangat bahagia, akhirnya aku menjadi wanita yang bisa memberikanmu seorang anak," ucapnya dengan menggenggam tangan Refan.
Meskipun lemas Sahila masih bisa membalas senyuman sang suami sampai Akhirnya Ririn menyuruh Refan untuk keluar.
Refan membuka pintu dan menghela nafas panjang, raut wajahnya bahagia, namun baju yang kusut membuat Mike mengernyit,
Pelukan pertama dari Refan di persembahkan untuk sang papa.
''Akhirnya aku menjadi seorang ayah dan papa menjadi seorang kakek."
ucap Refan dalam pelukan pak Cakra.
__ADS_1
Pak Cakra tersenyum menyambut pelukan dari Refan.
''Selamat ya Fan, sekarang kamu bukan cuma seoarang suami, tapi kamu seorang ayah, jadi kamu harus bisa mendidik anakmu dan memperbaiki dirimu lebih baik lagi, bukan maksud papa kamu itu kurang baik, tapi dengan adanya anak, tanggung jawabmu itu akan bertambah, dan itu adalah sebuah Anugerah." ucap pak Cakra sambil menepuk bahu Refan yang hanya mengangguk meresapi setiap kata dari pak Cakra.
Kini Mike pun menghampiri Refan dan memeluknya.
Zero langsung merangkul kakak iparnya yang terlihat masih lemas, ''Selamat ya kak, ucapnya lantang, ''Nanti aku akan obati luka kakak," bisiknya tepat di telinga Refan.
Sedangakn Refan hanya mengangguk dan tersenyum kecil saat melirik lukanya.
''Selamat ya Bos, Akhirnya, yang di tunggu tunggu hadir juga," Sama seperti dengan pak Cakra, dan Zero, Mike dan Refan pun berpelukan.
Kali ini pandangan Mike pun beralih ke arah tangan Refan yang penuh dengan luka cakaran lagi seperti Zero, bahkan ada darah yang mulai mengering di sana.
''Apa ini?'' tanya Mike sambil mengangkat kedua tangan Refan dan mengamatinya.
''Ternyata benar apa kata Iwan, saat istri mau melahirkan dia itu berubah menjadi harimau buas yang siap menerkam kita para suami," Sambil geleng geleng, mengingat saat tiba tiba saja Sahila menggigit tangannya dan mencengkeram dengan kukunya di bagian yang lain.
Mike mengingat ingat beberapa bulan yang lalu di rumah sakit yang sama, Iwan pun terluka setelah menemani istrinya melahirkan.
Melihat Nia sambil mengerutkan alisnya.
''Apa kamu nanti juga akan seperti nona saat melahirkan?'' tanyanya sambil berbisik.
Nia langsung saja melayangkan pukulan tepat di lengan Mike yang ngawur, bagaimana tidak, menikah saja belum yang di tanya tentang melahirkan.
Setelah beberapa saat, Ririn keluar dari ruangan dengan sebuah senyuman manis sambil menggendong seorang bayi kecil yang terlihat imut saat memejamkan matanya.
Dengan cepat Refan berdiri menghampiri Ririn dan mendaratkan ciuman di pipi gembul bayinya.
''Wah anak papa lucunya," ucap Refan sambil menoel pipi sang bayi.
Sedangkan ada sebuah pertanyaan dari Mike maupun yang lain kecuali Ririn.
''Sebenarnya bayinya ini cewek apa cowok sih? itulah yang di tanyakan Mike pada Ririn.
__ADS_1