
Masih di kampung pak lek Hajir tinggal.
Para warga semakin menambah pasukan berkerumun karena mereka saling mendengar dari yang lain kalau pak lek Hajir kedatangan tamu bule yang kaya, mereka memberi tau pada yang lain(gepok tular) ibarat orang jawa, sehingga memadati halaman rumah kecil pak lek Hajir.
Pak lek Hajir berjalan dengan nada yang sangat gagah melewati mobil yang berjejer di depan rumahnya, meskipun baju nya sedikit kotor karena lumpur, dan penampilannya yang kumuh tak membuatnya minder untuk nerdiri tegak di depan calon besannya itu.
''Bu'e jangan di belakang,sini ,biar kelihatan romantis !''ucapnya desikit pelan, dengan menujuk arah samping.
Sudah tua baru bilang romantis dulu masih muda kemana,nggak pernah tu ngajak jalan bareng, malah selalu ninggalin bu'e di rumah kalau mau nonton layar tancap, batin Bu lek jengkel.
''Selamat siang, sapa pak lek Hajir dengan lantang dan keras, kepala mendongak ke atas melihat bule yang lebih tinggi darinya.
Wah, itu hidung mancung banget, pantes orang jawa hidungnya pesek semua ,ternyata yang mancung sudah di ambil bule semua, batin pak lek Hajir melihat Mr wilson dan istrinya bergantian.
''Siang pak, ucap Mr Wilson ramah. Nyali pak lek Hajir langsung menciut setelah mendengar suara Mr Wilson yang sangat ramah, karena di pikirnya bule itu akan bicara dengan lantang dan keras sepertinya juga.
Woalah tak kira ki setiap bule omongannya lantang, ternyata ada juga bule yang ramah kayak gini, batinnya cekikikan.
Akhirnya pak lek Hajir memelankan suaranya, karena sedikit malu dengan apa yang di lakukan pertama kali.
''Maaf tuan tuan, saya baru pulang dari kebun, silahkan masuk, pak lek Hajir sambil membuka pintu rumah yang di kunci.
Pak lek hajir masuk dan menata rapi kursi serta menyalakan kipas angin yang memang sangat jarang terpakai.
Sedangkan bu lek langsung masuk ke dapur bersama Nia untuk membuat minuman.
Setelah semua berkenalan, kini para tamu itu duduk di kursi yang di sediakan, bahkan sampai tak muat ,sehingga Mike berada di luar bersama Refan dan Sahila.
''Nona suka pisang, ?''tanya Mike melihat Sahila makan pisang yang di petik pak lek langsung dari kebun.
Sahila tak menjawab, hanya mengangguk anggukkan kepalanya ,sedangkan Refan menaikkan kedua alisnya.
__ADS_1
Tak biasanya istrinya itu makan pisang, padahal kalau di rumah pun tak pernah menyentuh yang namanya buah pisang,
''Pak Jono keluarkan semuanya!'', perintah dari pak Cakra.
Setelah semua parsel itu di keluarkan dan di bawa masuk, pak lek Hajir membelalakkan matanya.
masih di pandang warga kampung yang sedikit menjauh dari rumah pak lek Hajir dan mereka pun semakin heran dengan semua yang di kasih untuk pak lek karena itu memang barang mewah dan mahal.
Iki opo wae seng di usungi, omahku gak kamot piye iki, (ini apa saja yang di bawa ke sini, nanti kalau rumahku nggak muat gi mana )batinnya.
Tapi pak lek Hajir merasa sedikit menjadi orang kaya karena selama hidupnya belum pernah di kasih barang barang yang mewah seperti di depannya itu,bahkan kini menjadi miliknya.
Sugih temen calon bojone Nia iki, (kaya sekali calon suaminya Nia ini )
Pak lek Hajir dan bu lek masih mematumg terpana melihat parsel yang sangat banyak, dalam hatinya ingin menyentuh benda itu, namun di urungkannya, karena pak lek Hajir tak mau terlihat katrok di depan calon besannya itu.
''Pak lek nggak duduk ?''suara Mr Wilson membuyarkan lamunan yamg terlintas di otak pak lek.
''Iya pak, ini semua untuk bapak, maksud kedatangan kami ke sini ingin melamar Nia untuk putra kami,kini nyonya Wilson angkat bicara.
''Wah pak, nggak usah repot repot, lagi pula saya sudah menyetujui hubungan mase dengan Nia, pak lek Hajir pun ikut basa basi ,nggak mau di bilang matre, meskipun pak lek Hajir miskin harga diri harus tetap terjaga.
''Nggak apa pa pak lek, lagi pula ini nggak seberapa, di banding dengan kebahagiaan anak Kami, Karena anak kami sangat mencintai Nia, dan kami juga merestui mereka, ucap nyonya Wilson ramah.
Pak lek Hajir pun menerima lamaran keluarga Mike dengan tangan terbuka.
Sedangkan di luar ,Sahila masih asyik memakan pisang dari pak lek Hajir, entah sudah habis berapa biji membuat Refan geleng geleng.
''Sayang sudah, kamu sudah habis banyak, nanti kekenyangan, Refan mengambil pisang yang hampir terbuang kulitnya itu ,namun bukan di letakkan malah di makannya.
''Bilang saja kalau mas pingin, pakai nglarang segala, Sahila memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
''Dari pada terbuang kan sayang, mendingan mas makan, alasan Refan,padahal dirinya memang menginginkan pisang yang dari tadi hanya di makan Sahila.
Dalam otak Refan ingin menjahili sang istri.
''Ini pisang kan mau di jual sama pak lek Hajir, apa kamu punya uang untuk membayarnya? ''Refan menakut nakuti sang istri. sambil menyunggingkan bibirnya.
Jangankan bayar, dompet saja Sahila nggak bawa,
Sahila menggeleng.
''Makanya berbagi dengan suamimu ini, nanti kan mas juga yang bayar, ucapnya merasa menang, karena sudah mengerjai Sahila .
Sahila dan Refan pun tak luput dari pandangan orang kampung yang lewat karena keromantisannya.
Sedangkan Mike menjadi penonton sambil sesekali melirik ke dalam menanti Nia yang nggak keluar juga,.
''Wah, Mase di luar to, tiba tiba saja suara pak lek mengagetkan, ''Maaf ya di dalam nggak muat,ucap pak lek merasa bersalah karena tak bisa memberi tempat yang nyaman bagi tamunya.
''Nggak apa pa pak lek, di sini lebih nyaman dan sejuk, ucap Mike, supaya pak lek nggak merasa nggak enak padanya dan Refan.
Sedangkan Sahila hanya tersenyum dan menyalami melihat pak lek yang ramah khas orang kampung.
''Mase, pak lek mau ngomong sama mase, ikut duduk di samping Mike. ''Pak lek sudah menerima lamaran dari orang tua mase, dan pak lek percaya sekali mase ini adalah laki laki yang baik, yang bisa membuat keponakan pak lek bahagia dia sudah tidak punya orang tua, pak lek mengambil jeda. ''Dan pak lek dan bu lek lah saru satunya yang di miliki nya ,jadi pak lek harap mase jangan menyakitinya, kalau mase sudah melamar Nia berarti mase sudah siap untuk menikah dan bertanggung jawab, sambil menepuk bahu Mike.
''Mumpung kalian belum menikah, pak lek ingin menanyakan satu hal, bukan maksud pak lek menuntut, tapi pak lek sangat sayang pada Nia ,dan pak lek nggak mau kalau dia sampai terluka.
Pak lek menghela nafas panjang, ''Kamu siap kan menjaga Nia lahir batin!'', permintaan pak lek,.
Mike mengangguk, ''Tidak usah pak lek minta pun aku siap menjaganya seperti yang pak lek inginkan, bahkan lebih, dan kami akan menikah setelah nona melahirkan, sambil menunjuk ke arah Sahila yang duduk di samping Refan,.
Melihat ke akraban pak lek Hajir dan Mike membuat Refan tersenyum.
__ADS_1