KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 238. Saling cemburu


__ADS_3

Sahila bingung, di depan lemarinya sambil memegang beberapa baju yang akan di pakainya di malam tahun baru, di mana Refan menjanjikannya akan mengajaknya kencan dengan Kyara.


''Bagusan yang mana mas?'' bukan bertanya, lebih minta pendapat pada Refan yang masih setia berbaring, bahkan seakan liburan ini seperti peluang untuk Refan bermalas malasan.


Untuk makan saja kini harus Sahila yang mengambilkan dan membawa ke kamarnya, dan itu menjadi rutinitas Sahila setiap hari, tak heran bagi yang lain melihat sikap manja dari Refan si bos sombong itu.


''Jangan cantik cantik, pakai daster saja!'' jawabnya tanpa memandang baju maupun Sahila.


tu kan, kalau menyuruhku memakai daster ngapain membelikan baju mahal untukku. mendesah dalam hati.


Melihat wajah suaminya itu kini Sahila ingin mencakar dengan kukunya yang panjang itu biar tidak belagu lagi dengan ketampanannya.


''Kenapa?'' tanya sambil mendelik bahkan menutup wajahnya menggunakan bantal.


Sahila yang kini mulai marah pun mendekat dan tak menghiraukan akibatnya lagi.


Meraih bantal yang berada di atas wajah suaminya dan membuang ke lantai.


Dan kini menatap wajah Refan yang sedang cengar cengir ke gantengan.


''Kalau mas menyuruhku memakai daster, baju mahal itu untuk siapa?'' bertanya sambil berkacak pinggang.


''Untuk wanita lain lah, dengarkan mas ya, di dunia ini laki laki itu tak hanya bisa mempunyai satu wanita, apa lagi mereka itu ber uang, jadi bisa saja kan mas punya wanita lain. ucapnya merasa santai dan tak tau kalau Sahila sedang menganggapnya dengan serius.


Oke aku terima tantanganmu mas, kalau aku sampai tak berhasil membuatmu cemburu, aku akan benar benar mencakar wajahmu itu dan tak akan ada yang sudi walau hanya memandangmu.


Setelah berfikir, Sahila keluar dari kamarnya, entah apa yang di lakukan Refan pun tak mau mengejar malah kembali memejamkan matanya.


Bukan Sahila namanya kalau tak bisa membuat hati Refan gundah seperti sekarang ini,


Meskipun matanya terpejam, namun hati Refan merasa resah karena guling hidupnya itu tak kunjung datang dan memeluknya.


Ke mana sih dia, batinnya sambil meraba tempat Sahila tidur.


Karena semakin gusar, Refan mengacak rambutnya dan duduk, bisa di bilang frustasi karena sang istri yang tak kunjung kembali.


Refan beranjak dari tempatnya setelah mendengar Sahila sedang tertawa.


''Seperti di bawah, ucapnya pelan dan berjalan menuju balkon yang mengarah langsung kolam renang.


Refan menundukkan kepalanya melihat sang istri sedang bercengkerama dengan seorang pria asing bukan Iwan dan bukan Doni maupun Zero.


Wajahnya kini berapi api, kemarahannya memuncak sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Kurang ajar, mungkin itu yang akan di ucapkannya, namun suaranya tercekik karena sudah mengeratkan giginya.


Refan langsung berlari keluar dari kamarnya dan berjalan menuju tempat di mana Sahila sedang asyik ngobrol.


Sedikit jauh Refan mulai memelankan langkahnya sambil menatap punggung Sahila yang sesekali bergetar karena tertawa.


Siapa dia, berani masuk ke villa, berbicara dalam hati.


Refan yang belum pernah melihat laki laki yang masuk ke villa nya itu pun semakin penasaran.


Setelah berdiri di samping sang istri Refan langsung menggenggam tangan Sahila dan mencium pipinya di depan pria itu.


Sahila sedikit malu karena Refan melakukan itu, namun Sahila merasa menang karena sudah membuat Refan cemburu.


Ha.. ha.. ha.. akhirnya kamu cemburu kan mas, kita lihat saja siapa di sini yang bertahan dengan tantanganmu, aku atau kamu di sini yang paling pencemburu .


''Kamu siapa?'' tanyanya setelah melepaskan ciumannya.


''Belum juga menjawab, Sahila yang angkat bicara.


''Tetangga sebelah, aku pingin kenalan sama dia, jawab Sahila bohong karena bukan itu kenyataannya.


Pria muda yang di depannya itu memang terlihat tampan dan mudah membuat Refan percaya.


''Berkenalan, ucap Sahila sesantai mungkin, padahal dalam hatinya sudah was was, takut kalau Refan memarahi pria di depannya itu.


Wajah yang penuh dengan arti kemarahan itu sudah ternilai oleh Sahila.


''Pergi kamu!'' nada mengusir sambil mengibaskan rambut kerennya.


''Ngapain mas usir, Villa ini kan milikku, aku yang mengundang mas ini, Sahila semakin menantang sambil menunjuk kearah pemuda itu.


Refan tak bisa berkata apa apa, hanya bisa tetap berdiri di samping Sahila dan merangkul pundaknya biar terlihat sangat mesra.


Sedangkan tak tau lagi wajah pria itu menunduk, mungkin sudah menciut karena ketakutan mendengar suara Refan.


''Maaf ya mas, sekarang kamu pergi dulu, nanti kita bisa ketemu lagi, Dengan keramahannya Sahila semakin membuat Refan terbakar api cemburu.


Bahkan dia sudah memanggilnya mas seperti saat memanggilku, batinnya semakin marah.


''Pergi sejauh mungkin dan jangan pernah kembali, teriak Refan sambil melayangkan kakinya menyepak.


Sahila cekikikan dari belakang Refan, melihat suaminya itu semakin membuatnya selalu ingin menjahilinya.

__ADS_1


''Kamu kenapa sih mas, nggak kemarin nggak sekarang marah terus, ucapnya sambil memutari badan Refan.


''Kamu yang membuatku marah, ngapain kamu undang laki laki lain di villa ini, kamu istriku dan tidak berhak mengundang orang lain selain suami mu.''


''Terus bagaimana dengan mas yang sudah membelikan baju untuk wanita lain, apakah itu benar?'' mendengar ucapan Sahila, Refan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengingat memang semua itu di awali dari dirinya yang membuat Sahila cemburu.


Wajah yang beringas karena marah itu pun kini berubah total, apa lagi saat Sahila melangkahkan kakinya pergi dari hadapannya membuatnya kalang kabut.


Kenapa jadi kayak gini sih, aku kira dia tau kalau aku hanya bercanda, kenapa dia menganggapnya serius, batinnya kesal.


Dengan terpaksa Refan langsung berlari mengejar Sahila yang kini sudah berada di sudut tangga paling atas.


Meskipun Refan memanggilnya berulang ulang Sahila masih saja tak mau menghentikan langkahnya maupun menoleh.


Rasain tu cemburu memangnya enak padahal di sini yang paling pencemburu tu kamu, tapi kenapa malah kamu yamg mulai duluan,


''Kenapa kak?'' tanya Ririn yang tak di hiraukan oleh Refan.


''Besok kita pulang, kita nikmati malam tahun baru di rumah saja, ucapnya tanpa menoleh ke arah Ririn.


''Lihat tu mas, kalau kakak sedang cemburu semua di sangkut termasuk liburan kita.''


Zero hanya geleng geleng kepala saja.


''Sayang, buka pintunya dong!'' mengetuk ngetuk pintu dengan tangannya.


Meskipun Sahila tak mengunci pintu, Refan takkan berani membukanya takut kalau istrinya semakin marah.


''Mas cuma bercanda saja, baju baru itu untuk kamu, bukan untuk wanita lain, bahkan mas bisa membelikan kamu yang lebih banyak lagi, mengucapkan kembali bernada semakin lemah berharap Sahila membuka dan memaafkannya.


Namun benar saja, pintu langsung terbuka, melihat wajah Sahila di depannya saja sudah membuatnya tersenyum.


''Terima kasih sayang, langsung memeluk Sahila dengan erat.


''Statusku ini apa mas?''


''Istriku.


''Kenapa kamu membuatku marah?''


''Aku bercanda sayang.


''Tapi nggak lucu kalau bercanda memakai wanita lain.

__ADS_1


''Mas janji tidak akan mengulangi lagi mas minta maaf.


__ADS_2