
Setelah beberapa menit memejamkan mata, dan sepenuhnya belum jauh terbang ke dunia mimpi, Sahila di kejutkan dengan tangan kekar yang melingkar di perutnya dari belakang.
Namun sahila masih saja bergeming dan tak mau membuka matanya, namun saat merasakan hembusan nafas mengenai tengkuk lehernya, Sahila langsung terbelalak dan menoleh.
Tidak bisa berkata apa apa hanya tangisan kembali yang di tunjukkan pada laki laki yang di cintainya, siapa lagi kalau bukan Refan.
Refan pun tak bisa berkata apa apa langsung memeluk Sahila dengan erat bahkan membuat nafas Sahila sesak.
Menciumi seluruh wajah sahila, wanita yang di rindukannya selama berhari hari.
''Mas kemana saja, kenapa tidak memberi tau aku?'' ucap Sahila sambil menangis.
Refan meraup kedua pipi sang istri dan meminta maaf, karena sudah membuatnya rindu dan cemas.
''Tapi kamu jangan sedih lagi, mas sudah di sini.'' ucapnya.
*Fhlasback off
Refan memilih parjalanan lewat laut karena cuaca yang buruk, setelah beberapa jam, perjalanan memang sangat lancar, begitu juga dengan perjalanannya menuju tempat lokasi.
Refan tersenyum melihat tempat yang saat ini menjadi targetnya dan menghubungi pak Dirga.
Pak Dirga pun setuju setelah mendengar penjelasan Refan panjang lebar.
Sehari di sana, Refan ingin menghubungi Sahila, namun di urungkannya mengingat pasti akan cepat pulang, di samping cocok, pembuatan proyeknya akan di undur sampai bulan depan karena ada kendala.
Kalau tau kayak gini, mendingan aku nyuruh anak buah saja, ngapain aku turun tangan sendiri, merepotkan. menggerutu dalam hati.
''Bagaimana pak?'' tanya Viola.
''Kayaknya kita cuma tiga hari disini, jadi kamu pesan dua kamar, karena lokasi memang sudah dekat dengan resort, Viola langsung ke tempat yang di perintahkan Refan.
Sayang, mas nggak perlu lama lama di sini, mas akan cepat pulang. batinnya saat berjalan menuju resort.
''Mas hubungi kamu nggak ya?'' gumamnya sambil membolak balikkan pnselnya.
''Mas kan bilang lama, tapi nyatanya dua hari lagi mas pulang karena kedatangan Refan ikut terhitung, ah... nggak usah mas akan membuat kejutan untukmu, masih berbicara sendiri.
Setelah Viola mendapatkan dua kamar, Refan langsung masuk dan istirahat.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, Refan gelagapan karena terbayang wajah istri dan anaknya, akhirnya ponsel yang di pegangnya itu terjatuh dan langsung terinjak kakinya.
Dengan sigap Refan mengambil ponselnya yang setengah remuk.
''Ah... sialan, umpatnya karena ponselnya mati, saking kesalnya Refan sekalian membanting ponselnya, kemudian membuka koper miliknya dan lagi lagi Refan di buat kesal karena dia cuma membawa ponsel pribadi dan itu hanya keluarga yang tau.
''Viola, ya aku pinjam ponsel Viola, ucapnya langsung berjalan menuju kamar Viola, setelah beberapa kali ketukan, tak ada tanda tanda Viola keluar, Akhirnya Refan kembali ke kamarnya dengan maki makian yang selalu di lontarkan.
Hari kedua, pagi sekali Refan dan Viola langsung saja ke tempat lokasi, merencanakan pembangunannya pada arsitektur terkenal, dan itu memang tidak mudah, apa lagi permintaan Refan ini, itu, pun menguras waktu dan emosi.
Karena kesibukannya Refan belum sempat menghubungi Sahila, meskipun sesekali melirik ponsel Viola yang di kalungkan di lehernya.
Karena kemantapannya besok pulang, itulah yang mungurungkan niatnya menghubungi Sahila.
Hari ketiga Refan dan Viola sudah bersiap berada di sebuah pelabuhan dan menunggu kapal berlayar, karena itu yang memang mudah dan dekat dari tempatnya, ''Vi, ayo!'' ajak Refan pada Viola masuk ke dalam kapal.
Belum juga sampai di mulut kapal, Refan menoleh ke arah belakang mendengar suara jeritan Viola.
''Kenapa Vi?'' tanya nya melihat Viola yang sudah ambruk sambil meringis.
Refan mendekat sambil melihat tangan Viola yang memegangi kakinya.
Viola yang tak bisa berkata hanya bisa merintih kesakitan dan memegangi kakinya.
''Ya ampun Vi, lain kali kalau beli high heels yang mahal dong biar nggak patah, ucapnya setelah melihat penyebab Viola jatuh.
Ini si bos lama lama nyebelin juga, kalau untuk kelas sekretaris ini juga sudah mahal pak, batinnya jengkel mendengar omongan Refan.
Refan yang tak mau tinggal diam pun memanggil dua orang yang lewat.
''Pak, tolong ini sekretaris saya kakinya terluka, tolong bantu saya untuk membawanya ke resort, ucapnya karena melihat Kaki Viola yang terlihat mulai membengkak.
''Ada ada saja sih, Refan yang kesal pun hanya mengeratkan giginya dan mengepalkan tangannya mengikuti orang yang membawa Viola pergi.
Setelah beberapa menit, Refan dan Viola tiba di resort yang baru saja di tinggalkannya beberapa waktu yang lalu.
''Untung saja uangku banyak Vi, aku bisa menyuruh orang untuk merawatmu, kalau tidak, apa aku harus turun tangan sendiri, pegang pegang kaki kamu dan menyuapi kamu makan,'' batinnya bergidik ngeri melihat Viola yang sudah berbaring di ranjangnya.
Setelah dokter memeriksa Viola, Dokter mengatakan kalau Viola harus istirahat kurang lebih tiga hari, dan tidak boleh di paksakan untuk bergerak karena itu akan memperlambat kesembuhannya, ucapan dokter membuat Refan meninju tembok dengan seketika.
__ADS_1
Sial, apa aku juga harus menunggu selama itu, umpatnya dalam hati.
''Maaf pak, saya tidak bermaksud menyusahkan bapak, ucap Viola dengan wajah yang terlihat takut, sedangkan Refan tak tau harus bicara apa lagi saat melihat kaki Viola yang terbalut perban.
Refan kembali ke kamarnya menjernihkan fikirannya yang saat ini kacau karena rindu.
''Kalau gini caranya aku pinjam ponsel Viola nih,'' ucapnya lalu beranjak dari tidurnya.
''Vi, pinjam ponselnya,'' ucapnya, melihat Viola yang berbaring.
Dengan cepat Viola mengambil ponselnya yang ada di nakas.
Setelah meraih ponsel dari tangan Viola, Refan menepuk jidatnya karena tak tau berapa nomor Sahila.
Karena tak mau membuang waktu, Refan keluar membawa ponsel Viola menuju kamarnya.
''Di mana sih? '' ucapnya mencari ponselnya yang rusak.
''Wah.. parah ni para pelayan di sini, baru saja aku keluar semua sudah di beresin berarti.... ucapnya terhenti mengingat ponselnya yang sudah berkeping keping itu, melihat tong sampah pun juga sudah kosong dan lantainya yang sudah bersih.
Apa aku kirim pesan lewat medsos saja ya, fikirnya kembali, tapi ini kan ponsel milik Viola, nanti istriku salah faham lagi, kalau beli lagi, nggak ah percuma juga, lagi pula Viola nggak bisa di suruh, batinnya semakin kesal.
Akhirnya Refan pasrah dengan tiga hari kedepan nanti.
''Maaf sayang, mas nggak bisa menghubungi kamu,'' ucapnya sebelum memejamkan mata.
Akhirnya dalam tiga hari Refan menghabiskan waktunya hanya di dalam kamar dan sesekali menengok dan melihat perkembangan kesembuhan Viola sebelum bertemu dengan Mike.
Fhlasback on
Sahila melihat wajah Refan yang terlihat lesu.
''Ponselku juga rusak, ucapnya sambil memanyunkan bibirnya, sedang tangannya mengarah ke arah tong sampah.
''Jodoh dong mereka, tapi ponselku ada di seberang, ucap Refan mulai ngelawak.
''Yang namanya jodoh mah nggak tau tempat mas, ke ujung dunia pun kalau namanya jodoh akan tetap bertemu, Sahila kembali menimpali.
''Iya, seperti pertemuan kita yang penuh dengan perjuangan, terutama kamu, yang harus bersabar dengan keadaan saat itu,'' ucapnya lalu mendaratkan sebuah ciuman lembut di kening Sahila.
__ADS_1
I LOVE YOU, ucap Refan sebelum keduanya keluar menemui Mike.