KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
244. Kacau


__ADS_3

Seharian penuh Refan tidak mau keluar kamar dan tidak makan sama sekali, dunianya terasa hampa ,matahari yang selalu meneranginya setiap waktu kini sudah pergi meninggalkannya, tak ada lagi senyuman yang dia ciptakan ,teringat saat sang istri sedang tertawa renyah karena kelakuan konyolnya dan kadang jengkel dengannya membuat warna hidupnya semakin cerah, namun semua itu kini terhapus sudah hanya karena sebuah masa lalu yang kelam itu.


Keheningan itu tercairkan dari sebuah ponsel miliknya yang berdering.


Dengan cepat Refan menatap layar ponsel dan ternyata itu dari My Whife.


Sahila


''Halo mas, ucap dari seberang telepon.


Senyuman tumbuh dari sudut bibir Refan, meskipun tak ada yang menyaksikan, namun hatinya saat ini sedang sedikit ada kelegaan dan kebahagiaan.


Refan


''Halo sayang, kamu gi mana, kamu dan Kyara juga Ibu baik kan ,kalian selamat sampai tujuan kan?'', peetanyaan bertubi tubi tanpa satu kali nafas.


Sahila


''Iya mas, kita sudah sampai tujuan dengan Selamat, mas jangan khawatir ya, aku tau kalau mas saat ini sedang kacau, tapi aku mohon dengan sangat, jaga diri mas baik baik, dan aku tau kalau semenjak kepergianku mas pasti juga belum makan, sekarang makanlah, minta sama bibi, kalau mas nggak makan dan sakit siapa yang akan menjemputku, ucap Sahila dengan nada datar.


Refan


Refan merasa lebih bahagia mendengar ucapan Sahila yang meyakinkannya untuk menjemputnya.


''Iya, kamu tenang, mas makan sekarang, dan kapan mas bisa jemput kamu?'', pertanyaan Refan dengan antusias.


Sahila


Sedikit lama terdiam dan akhirnya mengeluarkan suara juga.


''Nanti aku kabari lagi, aku juga belum tau, kayaknya Ibu masih marah, yang penting mas jangan sedih lagi dan sekarang cepat makan, aku nggak mau kalau sampai kamu sakit, ucap terakhir dari Sahila langsung menutup sambungan teleponnya setelah mengucapkan kata I LOVE YOU.


''Yah mati, ucap Refan sambil melihat kembali layar ponselnya dan Refan pun menjawab meskipun Sahila sudah tak mendengar suaranya,


''I LOVE YOU TO Sahila istri kampungku, dan tersenyum lalu beranjak turun dari ranjangnya.


Merapikan penampilannya di depan cermin se perfec mungkin, tidak mau lagi terlihat kacau.

__ADS_1


''Demi kamu dan anak kita aku akan berjuang .


Di meja makan, Refan melihat makanan berbagai menu, apa lagi sekarang bibi banyak masak makanan kesukaan Sahila dan itu membuatnya semakin teringat sang istri.


Sejam saja mereka berpisah, Refan sudah kalang kabut, apa lagi ini sudah hampir sehari perpisahan mereka itu semakin membuat Refan tersiksa.


Di sela sela makan dengan kesendiriannya, tiba tiba saja pintu terbuka dan muncullah sosok sang papa.


Papa pulang ? batinnya menghentikan aktivitasnya dan diam menilik pak Cakra yang kini sudah masuk ke dalam rumah.


''Kamu nggak menyapa papa Fan?'', ucap pak Cakra bingung dengan Refan yang hanya menatapnya saja.


Refan langsung saja beranjak dan menghampiri pak Cakra yang sudah merentangkan tangannya tanda minta di peluk.


''Papa apa kabar, kenapa nggak bilang kalau mau pulang, kan bisa aku jemput, Masih dalam pelukan.


'' Baik, Kyara mana? '', tanya pak Cakra sambil clingak clinguk mencari cucu pertama sekali gus kesayangannya.


Refan menunduk diam dan kembali berwajah lesu.


''Istri dan anakku pulang kampung dengan Ibu, ucapnya pelan.


Refan pun mngikuti pak Cakra dan duduk di sampingnya.


''Pa bantu aku membujuk Ibu untuk mengembalikan istri dan anakku!'', pintanya serius,namun pak Cakra malah tertawa dan menepuk bahunya.


''Kamu itu sudah dewasa, bahkan sekarang kamu sudah menjadi seoarang ayah, apa nggak malu dengan ststus kamu, Ini ujian, dan kamu harus berjuang, apapun ke depannya, itu berarti jalan yang terbaik buat kamu dan Sahila, Bukan maksud papa tidak mau membantumu, tapi belajarlah menghadapi nya sendiri dan papa juga ingin lihat se dewasa apa putra papa yang kecilnya suka menangis dan minta tolong sama pamannya itu, bahkan ucapan pak Cakra seakan tak peduli dengan masalah yang di hadapi Refan saat ini,


Refan mengunyah dalam dalam semua apa yang di omongin pak Cakra itu memang benar ,tidak seharusnya Refan itu meminta bantuan pak Cakra, karena bukan pak Cakra yang menjalaninya melainkan dirinya sendiri.


Setelah kepergian pak Cakra ke kamarnya, kini malah tersenyum mengingat masa kecilnya yang memang selalu manja pada supir papanya itu.


''Kakak tidak apa apa?'', tiba tiba saja suara Ririn mengejutkan Refan yang masih termenung dengan nasibnya dan masa kecilnya.


Ririn dan Zero yang sudah tau kabar dari Mike tentang kepergian Sahila dan Kyara, makanya dia dan Zero langsung datang ke rumah Refan.


''Kalian, kenapa nggak bilang kalau mau datang?'', sudah sedikit merasa tenang dan kini pandangannya beralih pada perut Ririn yang sudah mulai membuncit.

__ADS_1


Ririn bedecak, ''Masa iya sih kak bilang dulu, lagi pula kan ini seperti rumahku sendiri.


Ririn duduk di depan Refan sedangkan Zero duduk di samping Refan.


''Gi mana, apa keponakan Om ini masih rewel?'', tanya nya.


Ririn langsung beranjak menepis tangan Refan yang hampir saja mengelus perut Zero.


Semuanya melongo,


''Apa sih kak, yang hamil itu aku, bukan mas Zero. ucap Ririn menjelaskan.


Refan melihat Ririn dan Zero bergantian.


''Tapi kan yang ngidam Zero ,berarti yang hamil dia kan?'',sambil menunjuk ke arah Zero.


Ririn yang tidak terima langsung duduk di tengah tengah antara Refan dan Zero.


''Kamu yang tegas dong mas, Bilang sama kak Refan kalau yang hamil tu aku bukan kamu, Ririn merasa tak terima dengan apa yang di katakan Refan.


Zero mengelus rambut Ririn di depan Refan dan itu membuat Refan langsung merasa iri.


Andai kamu juga disini sayang, pasti kamu tidak akan lepas dari pandanganku dan juga tanganku ini. batinnya.


Melihat Zero yang juga mesra dengan Ririn membuatnya hanya bisa menggenggam tangannya sendiri.


''Oh, iya Rencana tahun baru merayakannya di mana?'', ucap Ririn tanpa sengaja lupa kalau Refan saat ini sedang kehilangan berliannya.


Menggeleng dan diam, itulah yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan Ririn.


''Di hotel, tiba tiba suara pak Cakra dari depan pintu kamar membuat Refan sekejap menoleh.


''Dari mana papa tau?'', Refan penasaran.


''Meskipun itu sekarang punya kamu, manager juga masih menghormati papa sebagai pemiliknya juga , dan dia bilang kalau kamu memintanya untuk menyiapkan semuanya.


''Om sudah pulang?'' beralih Ririn dan Zero yang menyalaminya.

__ADS_1


Huh... Refan menghela nafas panjang.


''Nggak jadi pa, siapa yang aku ajak ngerayain, istri dan anakku nggak ada, kalau tempat itu sudah di persiapkan ,kalian ajak yang lain deh nggak apa apa , aku dirumah saja. ucapnya lalu meninggalkan semuanya menuju kamarnya.


__ADS_2