KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 223. Mengintip Zero dan Ririn


__ADS_3

Seperti rumah tangga pada umumnya, Zero dan Ririn pun menikmati hari harinya yang terlihat sangat bahagia, profesinya sebagai seorang dokter tak menjadi penghalang bagi keduanya untuk bermesraan, apa lagi keduanya sama sama sibuk dan harus saling mengerti, Seperti hari Ini.


Pagi sekali Ririn sudah mempersiapkan kebutuhan Zero dari mulai baju dan yang lain sebelum keduanya berangkat bekerja,.


Namun ada yang beda kali ini dengan Zero yang merasa pusing dan mual,


Sesekali Zero berlari ke kamar mandi mengeluarkan isi perutnya.


''Kalau begitu mas nggak usah datang ke rumah sakit ya, aku panggil papa, biar di periksa, ucap Ririn sambil memegang kening Zero yang tidak terasa panas.


Zero hanya bisa menggeleng, tak mau membuat pak Hasan khawatir.


''Tapi gi mana dong mas ,ini nggak bisa di biarin, Ririn terlihat cemas melihat Zero yang berbaring dan badannya yang sangat lemas.


''Mungkin aku cuma masuk angin saja ,nanti juga sembuh, kalau gitu aku telpon rumah sakit untuk ambil cuti ya, nggak mungkin aku ninggalin kamu dalam keadaan seperti ini. Ririn menggenggam tangan Zero.


Zero pun hanya bisa mengangguk ,


Setelah menghubungi pihak rumah sakit untuk mengambil cuti ,Ririn kembali duduk di samping Zero yang terlihat lemas dan pucat,.


Sebenarnya mas Zero sakit apa, kenapa kok sekarang aku lihat tambah pucat ,apa karena habis muntah dan perutnya kosong, batin Ririn bertanya tanya.


Karena sudah tak sabar, Ririn keluar dari kamarnya dan menemui pak Hasan sang mertua.


''Pa, mas Zero sakit, wajahnya terlihat sangat pucat, aku takut terjadi apa apa sama dia, ucapnya terbata,


''Kapan mulainya, perasaan semalam dia masih sehat sehat saja, ucap pak Hasan, mengingat semalam ngobrol dengan nya, dan Zero memang terlihat sehat.


''Tapi pa ,Ririn nggak bohong, sekarang mas Zero sakit ,bahkan tadi dia itu muntah, dan sekarang lemas, apa nggak sebaiknya papa periksa,


Karena sudah mendengar penjelasan Ririn, Pak Hasan langsung saja berjalan menuju kamar Zero.


''Kamu kenapa?'',tanyanya saat membuka pintu dan menghampiri putranya.


Zero menggeleng, ''Nggak tau pa, tiba tiba saja aku mual dan pusing, dan sekarang juga aku nggak nafsu makan.


Seperti ibu hamil saja, batin Ririn.


Setelah pak Hasan memeriksanya, tidak ada tanda tanda kalau Zero sakit,

__ADS_1


Mungkin cuma kecapean saja, istirahat saja dulu, ucap pak Hasan dengan santainya lalu meninggalkan keduanya.


Lagi lagi Zero mual dan langsung lari ke kamar mandi ,sedangkan Ririn hanya mengikutinya dari belakang dan memijat tengkuk lehernya.


Ririn merasa kasihan melihat pria yang sudah menjadi suaminya itu.


''Mas kayaknya kita perlu ke rumah sakit deh, nggak mungkin kalau sekedar capek bisa separah ini, tapi nggak mungkin juga papa salah taksir, ucap Ririn di sela sela muntahnya Zero.


Zero masih saja kekeh menggeleng.


''Mas cuma pingin di buatin bubur, ucapnya.


Ririn mengangguk,.


''Mas tiduran dulu, aku akan kembali dengan membawa bubur pesanan mas,


Setelah Ririn ke dapur ,Zero pun memejamkan matanya meskipun rasa mual itu terus melanda,


Ririn minta bantuan pembantunya untuk membuatkan request sang suami yaitu bubur, dan Ririn berharap Zero akan menyukai dan mau memakannya agar tubuhnya kembali pulih.


Setelah beberapa menit ,Ririn kembali ke kamar dengan membawa semangkok bubur yang siap untuk di makan,


''Mas bangun!'', ucapnya lembut sambil menggoyang goyangkan lengannya,


Zero yang sudah di ambang mimpi pun terbangun dan mulai membuka matanya dengan pelan.


''Buburnya sudah jadi, ucap Ririn saat melihat Zero menatapnya.


Zero bangun dan menyandarkan punggungnya.


''Mau makan sekarang?'' tanya Ririn.


Zero hanya mengangguk,


Zero yang terlihat nafsu dengan bubur di mangkok itu pun langsung meraihnya dari tangan Ririn, dan tak peduli dengan kata Ririn yang akan menyuapinya.


Apa mas Zero benar benar lapar, atau dia memang menyukai bubur itu, tapi kenapa sampai segitunya, aku kan nggak akan minta ,batin Ririn sambil melihat Zero makan dengan lahapnya.


Ririn sampai menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat Zero bersemangat dan tak seperti biasanya.

__ADS_1


''Ini sangat enak sayang, ucapnya setelah menghabiskan buburnya, sedangkan Ririn hanya mengangguk saja dan mengambil mangkok yang kosong dari tangan Zero.


sekarang mas istirahat dulu ,aku turun sebentar nanti aku kembali lagi, kata Ririn sambil memegang mangkok yang akan di bawanya ,namun belum juga sampai membuka pintu kamarnya ,Ririn di kagetkan dengan Zero yang beranjak dari ranjangnya berlari menuju kamar mandi membuat Ririn mengernyitkan dahinya.


Ririn langsung ikut berlari ke kamar mandi setelah mendengar Zero memuntahkan kembali isi perutnya.


''Mas, kenapa lagi, apa ada yang tidak beres dengan perutmu, tanya nya, ''Kalau kamu perempuan ini mah pastinya hamil, tapi ini kamu laki laki, ucapnya nyerocos.


''Sayang, ini beneran mas nggak kuat ,ini benar benar tidak mengenakkan, ucapnya sambil mengelap keringat yang bercucuran membasahi jidatnya.


''Baik, kalau gitu mas tunggu di ranjang, aku mandi dulu, kita ke rumah sakit, supaya mas di periksa lebih akurat, Ririn langsung menuntun Zero ke ranjangnya.


Setelah Ririn rapi,tak sengaja menoleh sebuah kalender yang terpajang di mejanya dan membolak balikkannya dan sesekali melihat suaminya yang duduk dengan lemas.


Harusnya aku kan sudah datang bulan dua minggu yang lalu, tapi kenapa ini belum ya, fikirnya sambil membulatkan bola matanya.


Akhirnya Ririn mengambil sebuah tespek dari laci dan kembali ke kamar mandi.


Setelah menunggu beberapa menit , Ririn keluar dengan sebuah senyuman, bahkan Ririn langsung memeluk Zero dengan sangat erat.


''Mas papa benar, mas nggak sakit, ucapnya, sambil tersenyum membuat Zero mengerutkan alisnya.


''Maksud kamu apa, mas mual dan mas pusing, apa ini nggak sakit ,kalau mas bisa periksa diri sendiri mas sudah periksa, ucapnya.


Ririn menghela nafas sambil meraup pipi Zero, ''Aku hamil dan kemungkinan mas mengalami sindrom couvade ,dan itu sudah biasa terjadi pada pasangan manapun.


Ucapan Ririn membuat Zero menepuk jidatnya.


''Mana buktinya?'', tanya Zero.


dengan cepat Ririn kembali ke kamar mandi dan mengambil tespek yang sudah bergaris merah dua,


''Ini, ucapnya sambil menyodorkan di depan Zero.


''Ya Tuhan, kalau kayak gini aku nggak bisa ke rumah sakit dong, bahkan aku akan selalu berada di kamar, Zero terlihat mengeluh, sedangkan Ririn memanyunkan bibirnya.


Tapi bibir manyun itu seketika hilang saat Zero menciumnya dan tersenyum.


''Tidak apa apa sayang ,siapapun yang mengalami ngidam tidak masalah, mas senang sekali ,ini berarti mas ikut merasakan bagaimana sulitnya ibu hamil, pagi pula mas ikhlas kok, ucapnya langsung memeluk Ririn dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2