KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 236. Kemarahan Refan


__ADS_3

Mantap, itulah penilaian untuk masakan pasangan Refan dan Sahila, karena rasanya tidak kalah dengan masakan milik Doni dan Nesya.


Meskipun Refan merasa unggul., disini Ririn mengungkapkan bukan pasangan kakak sepupunya itu yang menang melainkan Doni dan Nesya.


Refan tak terima karena menurutnya Ririn sudah tidak adil.


''Bukankah yang paling enak yang menang?'', justru pertanyaan itu membuat Ririn berdecak kesal.


Karena menurutnya Refan belum faham sepenuhnya.


''Sekarang kita duduk ya , dan diskusi. ucapnya sambil menilik satu persatu peserta.


Ririn pun mulai membuka mulutnya ingin menjelaskan.


''Begini ya kakak, ucapnya serius namun Refan yang merasa kesal malah memandang ke atas langit sambil menopang satu kakinya.


''Mas dengar Ririn dong, Sambil menjewer kemeja yang di kenakan Refan.


''Itu tu yang tak mau kalah dari yang lain, celetuk Mike.


''Oke, oke, aku akan dengarkan, akhirnya Refan sedikit santai dan memelankan suaranya.


''Disini memang masakan kakak yang paling nikmat ,ucap Ririn mendekati kakak sepupunya dan merangkulnya,


''Kakakku tercinta, dsini yang di nilai itu enaknya dan kekompakannya ,sedangkan kakak dengan kakak ipar tadi sempat berantem ,dan itu yang menjadikan poin kalian itu berkurang, mengucapkannya dengan nada lambat namun jelas dan lantang.


''Kenapa kamu nggak bilang dari tadi?'', Mengucapkannya pun dengan lantang menyalahkan Ririn.


Sahila memberi kode untuk semuanya meninggalkan keduanya,


''Mas, ucapnya manja sambil mendekat,.


Refan yang masih berwajah marah pun masih diam, tak mau mendengarkan ucapan Sahila.


''Jangan marah dong,kalau mas marah, nanti aku tidur sama Kyara dan Ana nih, ancamnya.


Siapa yang betah untuk berdiam diri mendengar suara manja Dari Sahila, Akhirnya Refan pun menoleh melihat sang istri meskipun masih sedikit cemberut.


''Ririn....panggil Sahila dengan berteriak, dari belakang bukan hanya Ririn saja yang datang , tapi semuanya pun ikut datang menghampiri Sahila dan Refan yang masih duduk di sofa.


''Kakak faham kan?'', tanya Ririn, sedangkan Refan hanya mengangguk pelan.


''Apa hadiahnya?'', tanya Refan sinis.


''Hadiah, Ririn pun bingung karena dari tadi belum merencanakan hadiah apa yang di berikan untuk pemenang.


''Kakak, disini nggak ada yang miskin, ya untuk apa sih hadiah, yang penting ada yang menang dan kalah, itu saja, itu menandakan kalau pasangan disini itu siapa yang paling kompak,

__ADS_1


Kalau tau gitu untuk apa aku marah marah ,memalukan. batin Refan.


Ucapan Ririn lagi lagi membuat Refan tersinggung,


''Maksud kamu aku dan istriku tidak kompak gitu?'', ucapnya sambil merangkul Sahila dan mencium pipinya.


Mendegar ucapan Refan, semuanya hanya diam tak menjawab termasuk Ririn.


Sahila tau kalau suaminya saat ini suasana hatinya tidak baik.


''Kita ke kamar ya, Ajak Sahila sambil menarik tangan Refan yang masih duduk.


Setelah beberapa langkah ,Sahila menoleh ke arah semuanya dan mengedipkan matanya.


''Berapa kali sih mas aku harus bilang kalau mas itu tidak boleh marah marah, nanti mas bisa darah tinggi, ucap Sahila sedikit bercanda.


''Habisnya Ririn bilang kalau kita nggak kompak, mengucapkannya masih dengan nada tinggi.


Memang kenyataanya kita tadi nggak kompak kan ,batinnya.


''Kalau gitu mendingan kita tidur dan lupakan yang tadi, bagiku kita kompak dan menang, lagi pula hadiahnya juga nggak ada kan, Lagi lagi Sahila mencoba membujuk suaminya yang persis anak kecil yang berebut mainan.


Belum juga merebahkan tubuhnya ,ketukan pintu sudah berbunyi.


Refan dan Sahila saling pandang.


''Tuan Mike ada apa?'', tanya nya heran melihat Mike yang sudah berdiri di depan pintu.


''Maaf nona, aku mengganggu, ada perlu sedikit dengan bos, ucapnya tanpa basa basi.


Sahila mengangguk kemudian memandang ke arah Refan yang juga menatapnya.


Sahila hanya memberi tau lewat tangannya tentang kedatangan Mike.


Refan yang faham langsung beranjak dan menghampiri Sahila yang masih mematung di di ambang pintu.


''Kenapa Mike?'', Tanya nya.


''Mama datang, besok aku harus pulang, tapi aku bingung harus mengatakan apa, kalau sampai mama menuntut apa yang diinginkannya.


Refan menghela nafas ikut mencari cara mengatakan pada Nyonya Wilson.


''Duduklah!'', suruh Refan, keduanya duduk di depan kamar Refan, sedangkan Sahila kembali masuk ke kamarnya.


''Kamu dengarkan dulu apa kata nyonya Wilson, kalau dia masih dengan pendiriannya panggil aku, dan aku yang akan menjelaskannya, lagi pula kan masih lama,


aku akan membantu., semua kata Refan membuat Mike lega,

__ADS_1


''Sekarang kamu balik ke kamar kamu ,ganggu saja, nada mengusir sambil menepuk lengan Mike.


Mike berlalu meninggalkan Refan yang kini sudah mematung di depan pintu, namun sebelum memutar knop, Refan mendengar Kyara menangis dari kamarnya dan itu langsung menghentikan tujuannya.


Refan berjalan menuju kamar Kyara yang sudah tertutup.


''Ana.... teriaknya, dengan cepat Ana membuka pintu sambil menggendong Kyara yang sedang menangis.


''Kenapa princes nangis?'', tanya Refan khawatir.


''Nggak tau pak, tiba tiba saja nangis,


''O....anak papa mau ikut papa ya, mengambil Kyara dari gendongan Ana.


''Kenapa anak mama nangis?'', Sahila ikut khawatir melihat putri kecilnya yang tak biasa menangis sangat keras, bahkan Ririn dan yang lain masih di bawah ikut naik keatas hanya untuk menanyakan keadaan Kyara.


Semua panik, pasalnya badannya pun tidak panas.


Refan yang kebingungan menghampiri Ana yang terlihat menciut karena takut, mungkin saat ini Ana ingin lenyap melihat wajah Refan yang sudah terlihat marah.


''Kamu apakan Kyara?'', dengan nada marah.


Ana yang merasa takut pun semakin gugup


''Ma... maaaf pak.... belum lagi melanjutkannya Sahila sudah menarik kemeja Refan dari belakang tau kalau suaminya sedang marah seperti itu tidak ada yang bisa meredamnya kecuali dirinya.


Menghalanginya untuk menatap Ana langsung.


''Kamu pergi sekarang, tidak apa apa kok ,nanti juga Kyara diam, ucapnya menoleh ke arah Ana yang sudah menunduk.


''Lihat deh Kyara sudah diam, dan kakinya itu bentol mungkin digigit nyamuk, ucap Sahila.


''Kok bisa nyamuk berani menggigit princes, bernada heran tapi konyol juga membuat Yang lain geleng geleng dengan sikapnya.


Ini sikap mas Refan kenapa sih hari ini seperti wanita pms saja, marah marah terus ,batin Sahila kesel.


''Mas, kamu jangan suka marah marah dong ,apa lagi Ana itu masih baru kerja sama kita ,nanti kalau dia nggak betah gi mana, Sahila mencoba mengutarakan isi hatinya, karena tak tau bagaimana lagi menghadapi suaminya.


''Kita cari lagi yang lain, ucapnya dengan santainya.


''Hai dengarkan aku, bukan karena mas banyak uang, tapi kelihatannya Kyara sudah merasa nyaman dengan Ana, kasihan juga kalau nanti dapat pangasuh baru lagi, Sahila meyakinkan.


''Baiklah ,aku maaafkan kesalahannya kali ini, tapi kalau lain kali princesku nangis lagi ,aku tidak akan memaafkannya lagi,


Ucapan terakhir Refan membuat semuanya bernafas lega dan kembali ke kamarnya masing masing.


Untung saja kakak ipar itu orangnya sangat lembut dan tulus serta sabar, kalau tidak mungkin rumah ini sudah hancur karena kemarahan kakak. batin Ririn berhalan menuruni anak tangga.

__ADS_1


__ADS_2