
Tak ingin menyakiti, tak ingin menduakan apa lagi mengecewakan, itulah yang selalu menyelimuti hati Mike saat ini, Mike merasa bersalah pada Ririn karena perasaanya masih saja teringat pada Nia, meskipun raganya selalu bersama Ririn, tapi jiwanya sering melayang mencari cinta pertamanya.
Mike benar benar berada di titik yang sangat sulit, meskipun mulut bisa mengatakan iya, tapi hati tak bisa di bohongi, karena tak mau ada masalah di kemudian hari, Akhirnya Mike memberi tahu Ririn tentang apa yang di rasakan saat ini.
Mike mencoba mencari waktu yang tepat untuk membicarakan masalah nya.
Setelah beberapa hari pikiran itu menyelimuti hatinya, hari ini Mike siap untuk memberi tau Ririn.
Mike sengaja datang ke rumah sakit untuk menemui Ririn, dan mengajaknya untuk keluar.
Namun ada yang beda pada wajah Ririn kali ini yang langsung mengajak Mike ke cafe tempat Nia bekerja.
''Kenapa di sini?'' ucap Mike terkejut.
Pasalnya tidak seperti biasa Ririn mengajaknya ke cafe.
''Nggak apa apa, ini kan dekat rumah sakit, jadi kita cukup jalan.'' ucap Ririn santai.
Setelah mereka sudah memasuki cafe dan mencari tempat duduk, Ririn terlihat menoleh ke kanan kiri membuat Mike bertanya tanya.
''Kamu nyari siapa?'' ucap Mike seketika.
''Apa kamu akan marah kalau aku bilang mencari Nia,'' ucap Ririn ragu.
Mike tak kaget sama sekali, dan menggeleng.
''Kamu tidak akan menemukannya, karena dia sudah pergi dari kota ini,'' ucap Mike. Pria itu menunduk sedih.
''Kenapa, apa itu karena aku?'' ucap Ririn dengan nada yakin, sambil melihat Mike dengan lekat.
''Tidak, semua ini tidak ada hubungannya sama kamu, di sini akulah yang patut di salahkan, aku yang membuatnya pergi dari sini, dan aku yang menciptakan masalah untuknya.''
Ririn meresapi setiap kata dari Mike,
''Rin, apa kamu mau mendengar pengkauanku kali ini, aku mau jujur sama kamu, aku nggak mau menyesal nantinya, kalau aku masih menyembunyikan semua ini, apapun keputusanmu aku akan menerimanya,'' ucap Mike sambil memegang tangan Ririn.
__ADS_1
''Katakanlah! aku siap mendengarnya.''
Mike menghela nafas panjang, menata hatinya untuk tidak salah kata.
''Rin, aku minta maaf sama kamu, sebenarnya aku memang masih mencintai Nia, dia cinta pertamaku, meskipun aku sudah berusaha untuk melupakannya, tapi sampai sekarang aku belum bisa," ucap Mike.
Ucapan Mike bagaikan jarum yang menusuk organ tubuhnya, karena cintanya bertepuk sebelah tangan, Namun Ririn salut dengan pengakuan Mike yang jujur.
''Teruskan!'' ucap Ririn singkat dengan terbata.
''Dia pergi meninggalkan kota ini, karena dia tau hubungan kita, bukan maksudku untuk membuatmu sakit hati dengan pengakuanku ini, tapi setiap orang pasti punya masa lalu, dan Nia adalah masa lalu ku, dan kamu akan menjadi masa depanku," ucap Mike serius. Mike memegang kedua tangan Ririn berharap sebuah jawaban.
''Mike, aku sudah tahu semuanya," ucap Ririn membuat Mike kaget.
''Maksud kamu?'' ucap Mike kembali memastikan dari mana Ririn tahu.
''Aku tahu dari kak Refan, dia yang menceritakan semuanya tentang hubunganmu dan Nia, bahkan kak Refan sempat bilang kalau aku tak boleh berharap penuh padamu, tapi karena sekarang kamu memilihku, aku siap untuk menjadi masa depanmu, aku siap untuk menjadi pendampingmu, dan aku akan berusaha menjadi wanita yang kamu mau," ucap Ririn. Tak sengaja air matanya ikut tumpah, Ririn menangis karena dengan berat hati harus berjuang untuk mendapatkan cinta dari laki laki di depannya itu.
''Apa kamu yakin?'' Mike mengulangi lagi.
''Terima kasih, dan aku akan secepatnya mengenalkan kamu pada orang tuaku, apa kamu sudah siap?''
Mike sudah yakin bahwa Ririnlah memang masa depannya.
Ririn hanya menjawabnya dengan anggukan.
Kamu memang wanita yang baik, aku berjanji aku tidak akan menengok ke belakang, karena sekarang kamu ada di depanku, dan kamu sudah menerima ku apa adanya, kamu sudah menerima masa laluku, batin Mike.
Setelah di kira cukup, Mike dan Ririn beranjak dari cafe dan kembali.
Mike megantar Ririn kembali ke rumah sakit, sedangkan dirinya harus kembali ke kantor.
Mike melihat jam yang melingkar di tangannya, ternyata percakapannya dengan Ririn sudah hampir dua jam dari waktu istirahat, dan Mike terlambat satu jam.
''Aku balik dulu," ucap Mike buru buru dan langsung masuk mobil, karena sudah terlambat, dan Mike sudah menerka wajah Refan saat memarahinya karena ketelodarannya.
__ADS_1
Mike melajukan mobilnya dengan kencang, dalam otaknya terbayang bayang wajah Refan yang sedang bertanduk dan siap untuk menyudruknya.
Setelah mobil Mike terparkir, Mike langsung berlari, tak peduli dengan semua karyawan yang menyapa. Mike sangat lega, melihat pintu ruangan Refan yang tertutup, Akhirnya dengan pelan Mike melangkahkan kakinya melewati ruangan Refan.
''Dari mana saja kamu? apa kamu tidak tau waktu, jam berapa ini?'' tiba tiba suara berat dari belakang membuat Mike terkejut dan menghentikan langkahnya.
Mike membalikkan badannya dan melangkah maju menghampiri Refan lalu menampakkan senyumnya.
''He.. he.. he... senyum renyahnya menghiasi wajah Mike, namun berbeda dengan orang di depannya yang menunjukkan wajah datar.
''Maaf bos, tadi aku ketemu Ririn, dan jalanan macet, jadinya aku telat," ucap Mike berbohong.
''Di sini punya aturan, siapa yang telat pasti akan mendapat hukuman, tak lain kamu, karena kamu sudah terlambat satu jam, hukumannya itu berat." ucap Refan serius dan langsung masuk ke ruangannya. Sedangkan Mike mengikuti dari belakang.
''Tapi bos, aku kan nggak salah, kalau bos mau hukum, jalanannya yang harus di hukum, karena dia yang membuatku terlambat," ucap Mike kembali berbohong. Berharap Refan memaafkannya.
''Tetap saja kamu telat, dan,___
"Dan apa?" tiba tiba saja suara Sahila dari kamar menyahut.
Seketika Refan diam, dan ini adalah keberuntungan untuk Mike mencari bantuan.
Kini senyum Mike menyeringai, otaknya berputar putar untuk menjatuhkan Refan di depan Sahila.
''Nona, masa bos mau menghukumku, gara gara aku telat sedikit, pada hal kan dia selalu membutuhkan tenagaku, apa Nona nggak mau membantuku?'' ucap Mike mengharap bantuan dari Sahila.
''Hai, jangan jangan,__ ucapan Refan terhenti lagi, karena Sahila sudah memandang wajahnya.
''Mas, sudahlah, apa kamu nggak kasihan dengan Tuan Mike, lagi pula dia kan sudah jujur, dan aku nggak suka kalau kamu marah marah, nanti wajah kamu cepat tua, dan di kira orang aku anakmu, bukan istrimu," ucap Sahila sedikit bercanda.
Ucapan Sahila membuat Mike tertawa lepas.
''Nona memang Top, nggak salah Bos cari istri." ucap Mike setelah menertawakan Refan.
Sedang Sahila menghampiri Refan memberikan obat berupa ciuman karena kesalahannya yang membela Mike, dan itulah jalan satu satunya yang membuat Refan kembali tersenyum.
__ADS_1