KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 115. Keputusan Ririn


__ADS_3

Hari ini adalah hari bahagia Refan dan Sahila, mereka menghabiskan waktu seharian penuh di hotel, dan Mike pun terpaksa harus mengantar pekerjaanya ke hotel karena Refan sudah mengatakan padanya tentang itu.


''Bos, aku mau pulang, dan aku akan ajak Ririn, aku akan memperkenalkan dia pada orang tuaku,'' Mike minta izin.


Refan masih diam meresapi setiap kata yang Mike ucapkan, karena kalau sudah menyangkut orang tua itu tandanya keseriusan.


''Kamu yakin?'' tanya Refan mencari kepastian.


''Yakinlah bos, aku juga sudah jujur sama Ririn tentang hubunganku dengan Nia.'' Mike.


''Apa kamu sudah bilang sama Ririn keberangkatan kalian?'' tanya Refan kembali.


''Aku pernah bilang untuk menemui orang tuaku, tapi aku belum bilang kalau kita akan pergi besok,'' ucap Mike kembali.


''Kalau gitu sekarang kamu temui Ririn dan katakan semuanya, apapun nanti keputusan yang kalian berdua ambil, aku akan tetap mendukung, jodoh di tangan Tuhan.'' ucap Refan bijak sambil menepuk bahu Mike.


Mike kembali dan langsung melajukan mobilnya kerumah sakit.


Sesampaianya, Mike langsung saja menemui Dokter Ririn karena sebelumnya sudah menghubunginya lewat telepon.


''Bagimana, apa kamu sibuk saat ini?'' tanya Mike masih di dalam mobil.


Ririn menggeleng dan langsung masuk mobil.


Namun sebelum Mike menajalankan mobilnya, Ririn memegang tangan Mike.


''Kita bisa bicara di sini saja,'' ucap Ririn seketika yang membuat Mike bingung.


''Baiklah, aku mau bilang kalau besok kita akan terbang ke negaraku, dan aku akan mengenalkanmu pada orang tuaku,'' ucap Mike santai.


Ririn diam dan menghela nafas.


''Mike, sepertinya itu tidak perlu,'' ucapan Ririn membuat Mike terpaku, karena dari awal Ririn menyetujuinya.


''Kenapa?'' tanya Mike memajukan sedikit kepalanya melihat Ririn dengan lekat.


''Aku tahu kamu laki laki yang sangat baik, dan aku tahu kalau kamu serius, meskipun kamu belum mencintaiku, tapi kamu Rela untuk berusaha, tapi lebih baik kita batalkan saja rencana kita,'' ucap Ririn yang membuat Mike mengernyitkan dahinya sekali lagi.

__ADS_1


''Apa yang kamu katakan, apa kamu nggak mencintaiku?'' ucapan Mike kali ini dengan nada marah, karena setelah mengambil keputusan untuk memilih dirinya, justru Ririn yang memutuskan untuk mengakhirinya.


''Bukan begitu,'' Ririn sambil menghadap Mike, Ririn meraih kedua tangan Mike dan menggenggamnya.


''Lihat aku!" Ririn memutar wajah Mike yang berpaling darinya.


''Aku sangat mencintaimu, bahkan dari awal kita bertemu, aku sudah merasakan itu, tapi apa kamu mau, kita bahagia diatas penderitaan orang lain, apa kamu mau di saat kita bahagia justru orang di sebrang sana merasa sangat kehilangan apa yang seharusnya dia miliki dari dulu, dan aku sudah memikirkan ini semua matang matang, kalau memang Nia itu sudah benar benar melepasmu, pasti dia sudah memiliki laki laki lain, Kalian berpisah lama, dia itu cantik, baik, dan tidak mungkin kalau tidak ada pria yang menyukainya. Begitu pun dengan kamu, kamu itu tampan, dan juga mapan, siapapun pasti terpesona denganmu, tapi apa, sampai sekarang pun kamu belum bisa membuka hatimu untuk orang lain, cinta kalian begitu besar, aku salut, bahkan diantara kalian masih sama sama setia, walaupun jarak jauh, dan bahkan tak saling tahu, jadi aku putuskan lebih baik kita menjadi sahabat," ucap Ririn panjang lebar.


Ririn mengucapkannya dengan terbata, bahkan air matanya mengiringi setiap kata yang keluar dai mulutnya.


Sedangkan Mike pun sama, mengingat masa lalunya kembali, mengingat semua kata yang di ucapkan Ririn.


''Tapi..." ucapan Mike berhenti.


''Tidak usah tapi tapian, mulai sekarang kita bersahabat, dan akan selamanya begitu, dan aku akan membantumu untuk mencari Nia, aku janji, kemanapun kamu mencarinya aku akan ikut, dan aku akan menjelaskan semua ini padanya." Ririn sambil menepuk nepuk lengan Mike.


Mike tersenyum dan melihat Ririn.


''Terima kasih, kamu wanita yang sangat baik, dan semoga kamu mendapatkan laki laki yang baik." Mike.


''Pastinya nggak jauh tampan dari kamu," ucap Ririn mulai bercanda.


''Jadi bagiamana, apa kita tetap jalan atau balik nih?''


''Jalan dong, apa kamu nggak mau traktir aku," Ririn dengan nada ceria, setelah melepaskan semua isi hatinya, Ririn terlihat seperti tanpa beban.


''Kemana?" tanya Mike, karena setelah beberapa menit Ririn belum juga menunjukkan tempat untuk singgah.


''Emmmm... kita balik aja deh, aku tahu pasti kamu juga sibuk, nanti takutnya kak Refan marah marah."


Akhirnya Mike memutar kembali dan mengantar Ririn ke rumah sakit.


''Jadi kapan kamu mau mencari Nia?'' ucap Ririn sebelum membuka pintu mobil.


Mike menggeleng, karena belum memikirkan apa yang akan di lakukannya setelah mendapat keputusan dari Ririn.


''Nanti kita pikirin lagi, lagi pula aku kan juga belum tahu kemana dia pergi, dan tak ada satu pun yang tahu kepergiannya, jadi kelihatannya sangat sulit untuk menemukannya.

__ADS_1


''Jangan bilang seperti itu, percayalah kalau cinta kalian itu sangat kuat, dan tidak akan pernah terpisah, meskipun banyak yang menghalangi." ucap Ririn dan langsung turun dari mobil.


''Terima kasih, daa...." ucap Ririn dari luar mobil sambil melambaikan tangannya.


Sedangkan Mike membalas dan tersenyum.


Huh.... helaan nafas Ririn, ''Semoga keputusanku ini akan menjadikan semua orang bahagia, dan aku juga ikut bahagia bila melihatmu bahagia Mike, meskipun sedikit berat," ucap Ririn, wanita itu langsung masuk ke rumah sakit kembali.


Ririn terkejut melihat dua orang yang sedang menunggu di depan ruangannya.


''Mbak yang semalam, temannya kakak ipar kan?'' ucap Ririn sedikit heran.


Sedangkan wanita itu mengangguk.


''Iya, aku sindi, dan ini mas Iwan suamiku," ternyata dari tadi Sindi dan Iwan yang menunggu dokter Ririn.


Ririn berkenalan dengan Iwan dan menanyakan keperluan mereka.


''Silahkan masuk mbak, mas, mari!"


Ririn mempersilakan masuk kedua orang itu.


''Sekarang jelaskan apa yang bisa aku bantu?" ucap Ririn pada Sindi.


''Aku hamil dok, dan aku belum pernah periksa, sebelumya aku cuma pakai tespack saja, dan hasilnya positif. Jadi aku akan memeriksakan kandunganku," ucap Sindi. Sedangkan Iwan hanya diam mendengar istri dan dokter Ririn berbicara.


Ririn mengangguk anggukkan kepalanya.


''Kalau begitu mari!" ucap Ririn beranjak dari duduknya, dan mengajak Sindi ke ruang pemeriksaan.


''Nggak apa apa kalau masnya mau ikut melihat calon babynya," ucap Ririn menoleh ke arah Iwan yang masih duduk di tempatnya.


Iwan ikut mengekori Ririn dan Sindi yang masuk ke ruang pemeriksaan.


Ririn mulai memeriksa dan memperlihatkan calon bayi Iwan dan Sindi.


''Dan untuk mbak harus tetap jaga pola makan supaya babynya juga sehat, dan saya akan memberi resep beberapa vitamin untuk mbak konsumsi," ucap Ririn mengambil sebuah kertas dan pulpen.

__ADS_1


''Terima kasih Dok, ucap Sindi dan Iwan bersamaan.


__ADS_2