
Ririn mencoba menerka kembali semua yang di ucapkan pak Cakra padanya, namun semakin paham Ririn malah semakin penasaran dengan hati Zero untuknya,
Dan itu sangat mengusik hatinya, ingin rasanya segera tau sebenarnya bagaimana perasaan Zero untuknya.
Aku harus bagaimana, itulah yang selalu terlintas dalam otaknya saat ini, mencari cara supaya Zero membuktikan cinta padanya.
ting tung.... bunyi notif ponsel Ririn.
✉️
Jam makan siang kita ketemu di cafe, aku akan menjemputmu, tiba tiba saja Zero mengirim pesan yang membuat hatinya kegirangan.
Dalam hati Ririn tak mau membuang waktu lagi, momen ini harus di pergunakan Ririn untuk mengetahui apa isi hati Zero yang sebenarnya.
Maaf ,bukannya aku tak percaya, tapi aku hanya butuh kepastian saja, aku ingin benar benar tau bagaimana perasaanmu padaku, itulah ucapnya.
Seperti yang di tulis di pesan, jam makan siang Zero keluar dari rumah sakit dinasnya menuju rumah sakit tempat Ririn, karena jarak yang tak terlalu jauh, Zero pun tidak membutuhkan waktu lama.
''Permisi,Dokter Ririnnya ada ?''tanya pada resepsionis.
''Ada pak, di ruangannya. jawab nya tanpa berkedip. melihat ketampanan dokter Zero dan jas putihnya itu membuatnya terlihat perfec.
Dokter Zero berjalan menuju ruangan dokter cantik itu setelah mendapat petunjuk.
''Permisi,ucapnya kembali melihat dokter Ririn karena pintunya yang tidak tertutup.
Ririn pun hanya tersenyum dan berjalan menghampirinya.
''Kita berangkat sekarang? ''tanya Zero kembali.
Ririn pun hanya mengangguk.
Mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit, sesampainya di depan rumah sakit Ririn dan Zero pun hanya berjalan kaki untuk sampai di cafe sebelah.
''Apa Dokter Ririn tidak makan bersama dengan kami?'' tanya salah satu dokter saat mereka berpapasan, karena biasanya Ririn selalu makan dengan mereka.
''Maaf, siang ini aku mau makan bareng dokter Zero,soalnya dia sudah datang ke sini, lain kali saja ya ?''ucapnya ramah membuat semua mengangguk.
Setelah mendapat tempat dan memesan makanan, mereka berdua hanya diam saja menunggu yang di pesan datang.
__ADS_1
Ririn sedikit kikuk dengan keadaannya saat ini, ingin rasanya mulutnya itu mengeluarkan kata kata masih aja di tahannya berharap Zero duluan lah yang berbicara.
Kenapa dia hanya diam saja, apa saat ini ada masalah, itulah yang ada di dalam hati Zero melihat Ririn tak seperti biasanya.
''Mas, aku ke toilet dulu ya. pamit Ririn, Zero pun langsung mengangguk.
Saat Ririn berdiri dan memutar balik badannya ,tiba tiba saja ada pelayan yang datang dari depannya membawa nampan, dengan sontak menabrak Ririn,
Awww...pekik Ririn saat minuman panas itu mengenai tangannya, Ririn mencoba mengibas ngibaskan ,namun percuma saja, karena tangannya sudah mulai memerah.
Pelayan itu pun langsung mengucapkan maaf berulang ulang.
Zero langsung saja berdiri menghampiri Ririn dan memegang lengannya,.
''Tanganku panas. ucapnya,Zero menatap tangan Ririn yang sudah memerah serta jasnya yang sudah kotor.
Ingin rasanya Zero memarahi pelayan yang masih berdiri di depannya itu, namun di urungkannya, karena itu tempat umum, dan tidak baik baginya.
''Apa kamu mau berdiri saja di situ dan melihat Dokter Ririn kesakitan, cepat ambil obat, ucapnya sedikit keras.
Dengan cepat pelayan itu pergi untuk mengambil obat, Setelah pelayan itu datang ,Zero pun langsung mengobatinya dengan sangat pelan ,karena sesekali Ririn masih meringis.
Apakah ini bukti cinta, dia terlihat mengawatirkanku, padahal ini cuma luka kecil,
''Sudah, nanti juga akan sembuh, tenang saja katanya membuat Ririn tenang.
''Jas kamu kotor, ucapnya kembali dengan melihat baju putih itu sudah berubah dengan adanya corak cokelat.
''Ya, gi mana dong, apa sebaiknya kita balik saja, nggak mungkin aku melepasnya ,bajuku terlalu pendek.
Zero tersenyum dan berdiri di samping Ririn kemudian melepas jasnya.
''Pakai punyaku saja, aku nggak apa apa tanpa jas itu, tapi untuk kamu harus tetap memakainya, aku nggak mau kalau kamu memakai baju yang terbuka,.
Ririn tersenyum melihat Zero dan langsung pergi ke kamar mandi.
Di depan cermin toilet ,Ririn memutar badannya melihat jas yang di kenakan itu terlalu besar untuk postur tubuhnya.
''Nggak apa apa deh, lagian ini kan cuma sementara saja, dari pada nggak pakai jas sama sekali gumamnya.
__ADS_1
Ririn kembali ke meja tempatnya semula dan duduk kembali, sedangkan Zero hanya menatapnya dengan lekat.
''Kenapa?'', tanya Ririn sambil mencondongkan kepalanya.
''Enggak., kamu terlihat lucu saat pakai baju itu, seperti pakai jubah saja, apa tanganmu masih sakit?'' tanyanya sambil tersenyum kecil,
Ririn menggeleng, ''Cuma merah saja,adanya ini sih, terpaksa deh.
Setelah ngobrol sebentar makanan yang di pesan pun tiba di meja,
Dengan cepat Zero mengambil alih duduk di samping Ririn dan mengambil makanannya.
Kenapa makananku di ambil, itu kan punyaku batin Ririn tanpa bersuara.
Ririn mengerucutkan bibirnya melihat Zero ,
Zero mulai menyendok makanan yang ada di piringnya,..
''Tangan kamu kan masih sakit ,jadi biar aku suapi saja, ucapan Zero membuat mata Ririn terbelalak dan melihat Zero yang masih sibuk dengan makanannya.
A.... satu suapan mulai melayang di mulut Ririn.
Ririn menggeleng, ini pertama kali bagi dirinya harus di suapi di depan umum, lagi pula kalau sekedar makan saja masih bisa menurutnya, tapi Zero terlalu berlebihan.
''Ayolah sayang, kalau nggak mau buka mulut aku cium nih, sambil menyeringai.
Di suapi saja malu, apa lagi kalau sampai dia nyium aku disini, a.... mana disini banyak dokter yang lain lagi, lebih baik aku terima suapaannya dari pada ciumannya. batinnya.
Akhirnya Ririn langsung saja membuka mulutnya dan mengunyah makanan dari Zero,.
''Wah anak pinter, kalau gitu kan pak dokter tak perlu lagi memaksa untuk cium, candaan Zero.
'!Kenapa kamu sangat perhatian padaku?'', di sela sela makannya masih saja pertanyaan itu terlontar dari bibir Ririn untuk Zero.
Zero tersenyum,. ''Kamu calon istriku ,dan aku sangat mencintaimu, dan ini lah salah satu caraku untuk membuktikannya, aku tidak mau terjadi apa apa dengan mu,jadi jangan tanya lagi, aku harap perasaanmu padaku sama seperti perasaanku padamu, Zero mengucapkannya dengan sangat lembut sedikit pelan tapi tetap saja masih jelas karena mereka saling dekat.
Seakan Zero pun tau apa yang ada dalam hati Ririn saat ini, dan ucapan Zero itu membuat Ririn semakin terharu dan tiba tiba saja air matanya ikut menyaksikan tuannya.
''Malah nangis, ayo makan yang banyak, biar calon istriku ini nggak kerempeng lagi, sambil menyuapkan satu sendok lagi untuk Ririn.
__ADS_1
Akhirnya kamu sudah membuktikan cintamu padaku, aku juga mencintaimu, dokter tampan, karena kamu berhasil membuat hatiku meleleh, Dalam hati Ririn malah ngegombal.