KESUCIAN CINTA SAHILA

KESUCIAN CINTA SAHILA
Bab 235. Callenge


__ADS_3

Suasana yang sudah ramai, Sahila terlambat pulang, karena Refan yang tak membangunkannya dan membiarkan tidur di taman, meskipun Sahila sempat uring uringan dan memarahi Refan, itu semua tak di gubrisnya.


Sahila tak langsung bergabung, melainkan langsung ke kamar Kyara, melihat bayi kecilnya itu menumbuhkan senyumannya kembali, menghampirinya dan memeluknya serta menggendongnya.


''Maafkan mama ya sayang, ucapnya mencium kedua pipi gembulnya.


''Maafkan papa juga ya, tiba tiba suara Refan menyahut dari balik pintu.


''Sini, biar papa yang gendong, kita turun,'' ucapnya tak mempedulikan Sahila yang marah padanya.


Setelah mengambil alih Kyara dari tangan Sahila, Refan menggandeng tangan sang istri. layaknya tak terjadi apa apa.


Ini nih susah sekali kalau marah sama dia, batinnya jengkel namun tetap mengikuti ke mana arah jalan Refan.


Ramai itu di ciptakan kembali saat Kyara hadir di tengah tengah perkumpulan dengan ocehannya.


Sesekali semuanya bergemuruh tawa mendengar bayi mungil mengeluarkan suaranya yang tak tentu arah.


Sedangkan Alvin dan Aldo yang sudah bisa di lepas pun main dengan pengasuhnya masing masing.


''Ini di taruh mana Nona?'' Suara pembantu Villa.


''Sini saja Bi, Sahila mengatakannya dengan ramah.


''Ini buat Bibi dan yang lain, beberapa besek pun kini terbagi.


Tak ada yang bersuara melihat oleh oleh Sahila, bahkan semuanya saling pandang satu sama lain.


Nesya tertawa karena teringat masa kecil yang pernah ikut menghabiskan dan tak membagi pada Sahila.


''Jangan tertawa Nes, kalau nanti semua tau aku kan malu, bisiknya saat menghampiri Nesya.


Beberapa kali suapan peyem itu bukan masuk ke mulutnya sendiri melainkan ke mulut Refan sang suami.


Rasa manis bercampur kecut di rasakan Refan sampai kenyang.


''Sudah ya, nanti mas makan lagi, sedikit protes.


Akhirnya Sahila menyudahi suap menyuap dan kini beralih bergabung dengan para wanita yang lain.


Semua mengobrol saling bercanda tawa, waktu kebersamaan yang jarang sekali terjadi membuat semuanya terlihat bahagia dan sejenak melupakan masalah yang akan di gelutinya.


''Enaknya ngapain ya?'' tiba tiba saja Ririn memecah obrolan.


''Kita bikin callenge saja, usul Sindi, sedangkan Sahila, Nesya dan Nia hanya saling pandang.


''Gi mana kak?'' Ririn pun minta persetujuan dari Sahila.

__ADS_1


Sahila mengangkat kedua bahunya.


Callenge apa, kalau sangat sulit mana aku bisa, batinnya.


Sahila menatap Nesya yang berwajah seperti dirinya ada rasa ragu untuk mengikuti apa yang di ajukan Ririn.


Ririn memutar bola matanya mencari callenge apa yang cocok untuk suasana yang sangat ramai.


''Gi mana kalau masak bersama, siapa yang paling kompak dan enak dia yang menang.''


Nesya langsung mengacungkan tangannya dan mengucapkan kata setuju dengan semangat.


''Huh... ya iyalah kamu setuju, orang suaminya punya restoran, ya pasti menang, celetuk Sahila yang membuat Nesya menurunkan tangannya dengan pelan.


Karena semuanya sudah setuju, Sahila pun ikut setuju meskipun dirinya enggan untuk memasak bareng sang suami.


Melihat wajah Refan yang sedikit jauh.


Kalau aku masak sama mas Refan pasti kalah ni, batinnya.


Sahila mengetuk ngetuk meja dengan jarinya memikirkan cara untuk mengalahkan semua sahabatnya itu, tapi setelah berfikir keras masih saja tak menemukan cara apapun karena Refan pasti tak akan pernah serius menanggapinya.


Para wanita menyiapkan tempat dan bahan yang akan di masaknya, sedangkan para pria mengambil celemek untuk dirinya dan sang istri.


''Ingat ya mas, aku mau kamu serius, jangan bercanda kalau kita kalah pasti akan di tertawakan, bisik Sahila di telinga Refan yang mengangguk anggukkan kepalanya.


Dalam hitungan ketiga, Sahila dan yang lain mulai mengambil bahan bahan dan mencucinya.


Sedangkan Di sini berbeda, bukan satu cara di mana para suami melayani sang istri untuk mengambilkan sesuatu yang di butuhkan, tetapi mereka melakukannya dengan keunikannya masing masing, Refan pun ikut antusias meladeni Sahila meskipun sedikit jahil dan sesekali membuat Sahila sewot, Sedangkan Ririn dan Zero sesekali mengintip dari ponsel karena memang mereka tak begitu hafal dengan bumbu masakan, begitu juga dengan Sindi yang sesekali Iwan harus membacakan selanjutnya dan selanjutnya , Berbeda dari yang lain, dengan Mike yang malah berperan menjadi wanita sedangkan Nia yang mengambilkan sesuatu yang di butuhkan Mike, Di sini yang paling santai adalah pasangan Doni dan Nesya, tanpa ada pembicaraan dari keduanya.


Di tengah tengah masaknya, Sahila ngambek dan memilih untuk melipat kedua tangannya.


''Lo kenapa sayang, kan belum matang?'' ucap Refan.


Sahila ngambek karena dari tadi Refan selalu membuatnya tidak fokus karena geli.


''Sekarang gantian deh, mas yang masak aku yang mengambilkan sesuatu, ucapnya jengkel.


''Oke, menerimanya dengan senang hati, meskipun tangannya belum selincah wanita, Refan pun bisa memasak.


Semuanya fokus dengan wajannya masing masing dan olahannya, waktu yang terus berputar itu membuatnya semakin antusias untuk menyelesaikan tantangannya.


Memang yang paling handal disini Doni dan Nesya yang kini sudah menghidangkan hasilnya, sedangkan Refan dan yang lain masih menghiasnya sebagus mungkin.


Akhirnya selesai juga, bernafas dengan lega, itulah Refan saat ini.


Sahila melepas celemek Refan dan mengucapkan terima kasih karena sudah membantunya.

__ADS_1


Giliran yang terkahir adalah makan.


Dan disini semua wajib mencoba dan menilai dengan lidahnya masing masing.


Sahila tak berani menatap masakan suaminya, meskipun tampilannya menggoda Sahila tak yakin kalau masakannya itu seenak tampilannya.


Apa ini enak, batinnya melihat masakan suaminya dari dekat.


Di awali dari punya Nesya dan Doni yang perfec, bumbunya terasa dan rasanya pas semua pun memujinya.


Kemudian beralih ke arah masakan Ririn dan Zero yang sedikit malu malu untuk memamerkan masakannya ke depan.


''Tawar, celetuk Refan pertama kali, dan setelah semuanya mencicipi memang benar tawar dan kurang bumbu, Ririn mendengus kesal karena sudah susah payah memasak tapi hasilnya tidak maksimal.


Kini giliran punya Sindi dan Iwan, Refan yang pertama kali mencoba langsung berlari ke arah lemari pendingin membuat semuanya ikut panik.


''Kenapa mas?'' Sahila mengikutinya.


''Itu mah bukan masakan, kamu kasih cabe berapa sih Wan, kok pedes banget.'' ucap Refan sambil mendesis.


Ketika semua ikut mencoba, benar Pedas, Sindi yang malu hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya.


Kini giliran punya Mike dan Nia, dengan wajah yang santai Mike membawanya ke depan,


Lagi lagi Refan yang maju pertama kali.


Refan tak langsung mencoba malah melihat wajah yang memasak.


''Kamu yakin enak Mike?''


Mike mengangguk.


''Kalau aku keracunan apa kamu mau tanggung jawab?''.l


''Aku akan bersyukur karena aku bisa memperistri nona jadi yang kedua. ucapnya membuat Refan marah dan memukul perutnya.


''Jangan macam macam kamu, ucapnya lagi di depan Mike yang meringis membuat semua tertawa.


Satu sendok sudah masuk ke mulut Refan saat ini yang membuat sang empu menyengir.


''Gi mana bos?'' tanya Mike dari belakang.


''Kamu pingin nikah lagi, kenapa garam satu kilo kamu tabur ke masakan kamu sih Mik, gila, ini benar benar gila, asin banget, mendengar Refan semua pun juga ikut merasakannya.


Mendengar kata Refan nikah lagi Nia langsung memukul lengan Mike yang berdiri di sampingnya.


Dan tinggal masakan siapa yang belum dicicip ya, dan bagaimana rasanya?''

__ADS_1


__ADS_2