
Di dalam ruangan, Refan selalu saja melihat jam yang melingkar di tangannya ,seperti enggan melakukan sesuatu, akhirnya Refan menyuruh Mike untuk datang ke ruangannya,
''Bos memanggilku?!''tanya Mike sambil meminum kopi bosnya yang masih tersisa,
''Apa sopan santunmu kurang ,sampai kau berani minum kopi bos kamu?''
''Sorry bos, aku lupa, aku kira tadi itu kopi ku, sambil cekikikan dalam hati,
''Itu bukan gayamu Mike, kamu ingin seperti Sahila yang sering lupa?''
Mike menggeleng,
''Siapkan mobil, aku mau keluar?''
Mike paham akan kemana bosnya, langsung keluar untuk memenuhi perintahnya.
Setelah beberapa saat, Mike kembali dan mengatakan bahwa mobil nya sudah siap.
''Apa bos nggak mau aku antar ?''
Refan menggeleng.
Refan berlalu keluar kantor dan melajukan mobilnya menuju kampus Sahila.
-------------------------
''Sa, mana jemputan mu kok belum datang juga?''
''Aku juga nggak tau Sin, nanti kalau aku ikut kamu pasti mas Refan marah,
''Tapi kita nunggunya udah lama Sa, apa nggak sebaiknya kita pulang saja.
Tin... tin.... bunyi klakson di depan gerbang, namun Sahila malah mengernyitkan dahinya.
Mobil siapa itu ,kayaknya bukan mobil mas Refan deh, tapi kenapa berhenti, batin Sahila.
Akhirnya sang empu keluar dan ternyata Iwan,
Iwan berjalan menghampiri Sahila Sindi serta Rendy,
''Kalian belum pulang?'',
Semua menggeleng,
''Kak Iwan ngapain kesini?'',
'Kebetulan aku lewat, dan aku lihat kalian, jadi aku ke sini, kalian nunggu siapa?''
''Nunggu jemputan Sahila lama, kayaknya yang jemput ,lupa kali, ucap Sindi,
''Kalau gitu Sahila pulang bareng aku saja, dari pada lama!''
''Tapi kak..... Tangan Sahila langsung di tarik Iwan ,Sahila tak bisa membantah dan melawan.
__ADS_1
Iwan membukakan pintu mobil untuk Sahila ,dan terpaksa Sahila masuk kedalam mobil Iwan,
Dari kejauhan ada yang melihat kejadian itu, ada rasa dongkol dalam hatinya,namun apalah daya, Iwan memang lebih berhak menurutnya,
Siapa lagi kalau bukan Refan, Refan menghentikan mobilnya saat melihat Iwan menghampiri Sahila dan mengajak nya untuk pulang.
Refan menghela mafas panjang, dan kembali memutar mobilnya untuk kembali ke kantor,
Setelah sampai, Refan terlihat sangat lesu, para karyawan yang menyapanya pun di abaikannya.
Refan melempar jas yang di lepasnya ke segala arah, dan duduk di sofa,
Seperti biasa ,Mike pun langsung menghampiri bosnya untuk menghibur,
''Kenapa lagi, kok cepat sekali, apa nggak jadi jemput cewek kampungnya? ''Mike sedikit meledek.
Refan memejamkan matanya tak mau meladeni sekretaris yang suka menjatuhkannya itu.
''Mendingan kamu keluar, kalau hanya ingin meledekku saja, aku butuh ketenangan,
''Baiklah, nanti kalau bos butuh apa apa, aku siap, jangan lupa masih ada aku yang setia untukmu, kata Mike semakin menjatuhkan Refan membuat Refan geram dan langsung melemparnya dengan buku yang ada di meja.
''Sialan kamu, umpat Refan.
Mike berlari menghindari amukan bosnya.
''Kak ,perasaanku nggk enak, gi mana kalau nanti mas Refan marah?''
.
Sepanjang perjalanan, otak Sahila hanya memikirkan Refan, Takut akan kemarahannya.
Sesampainya di rumah pun Sahila masih mengingat ucapan Refan yang akan menjemputnya.
Sahila masak bersama bibi untuk makan malam,
Mobil menderung berhenti, ternyata Refan pulang dengan wajah suntuk nya.
Sahila melihatnya tak berani bertanya,
''Nona, bilang sama bos aku langsung pulang.!''
Sahila mengangguki ucapan Mike.
Ingin sekali rasanya Sahila menghampiri Refan yang ada di kamarnya untuk memberi tau, namun sedikit takutnya menyelimuti hati Sahila saat ini.
Tapi akan lebih salah lagi jika tak menyampaikannya, akhirnya Sahila mengumpulkan semua keberaniannya untuk mengetuk pintu kamar Refan.
Tok... tok..... tok.... Sahila mengetuk dengan sedikit pelan, Wajahnya mulai berkeringat, takut membuat Refan marah.
Refan membuka pintunya sambil menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya membuat Sahila menjerit.
Refan langsung membungkam mulut Sahila dan meraih pinggang rampingnya.
__ADS_1
''Kenapa menjerit ada apa?'' masih dengan tangannya di mulut Sahila ,sedangkan tangan Sahila mencengkeram tangan kekar Refan supaya melepaskannya.
Setelah sedikit lama ,Refan melepaskan tangannya, dan kini melihat Sahila dari dekat.
Sahila memejamkan matanya, jantungnya deg degan seakan mau loncat, mau mundur, tapi tak bisa ,karena sudah terpentok tembok.
Sahila menelan ludahnya dengan susah payah.
''Buka mata kamu, pinta Refan, Sahila mulai membuka matanya dengan pelan ,melihat manik mata Refan, bahkan kini tak ada jarak di antara keduanya
''Maaf kalau aku mengganggu, aku cuma mau mengatakan kalau tuan Mike langsung pulang, aku bingung mau mengatakan nya kapan ,jadi aku ketuk saja.
''Tapi kamu sangat mengganggu, dan kamu harus tanggung jawab!''
''Aku kan nggak sengaja, kenapa harus tanggung jawab segala, lagian aku kan nggak merugikanmu?''
''Hai, apa kamu bilang, kamu nggak merugikanku, kamu melihat tubuh seksiku ini, dan itu sangat merugikanku,
''Bagaimana caranya untuk bertanggung jawab? ''sangat polos membuat Refan menyeringai.
''Sekarang keluarlah, nanti akan aku kasih tau bagaimana caranya?'' tunggu aku di bawah.
Sahila langsung berlari ke bawah ,sedangkan Refan masih mematung melihat punggung Sahila berlalu.
Sahila memikirkan pertanggung jawaban apa yang di minta Refan darinya ,
Makan malam pun berlangsung dengan kediaman keduanya ,Pak Cakra juga tak mengeluarkan suaranya,
Seperti biasa, pak Cakra kembali ke kamar meninggalkan Refan dan Sahila yang masih berada di meja makan.
Sahila sesekali melirik Refan, karena ketakutannya akan ucapan Refan masih terngiang ngiang di otaknya.
Apapun yang terjadi aku akan menghadapinya, Tuhan tolonglah aku, semoga mas Refan nggak minta aku untuk menjauh darinya lagi, meskipun dia pernah menghinaku, tapi aku merasa senang karena saat ini dia sudah menyadari itu,batin Sahila.
''Kenapa bengong, mana ponselmu, tanya Refan sambil menengadahkan satu tangannya meminta ponsel Sahila.
Sahila yang tak membawanya langsung beranjak dari kursinya dan menuju kamar untuk mengambilnya.
Sahila tak mau bertanya untuk apa Refan minta ponselnya,
Karena selama ini Sahila tak begitu suka dengan yang namanya ponsel.
Sahila menyodorkan benda pipih itu tepat di telapak tangan Refan.
Refan mulai membukanya dan melihat lihat sambil sesekali melihat sang empunya.
Ternyata tak ada apa apa, nomor kontak pun hanya beberapa saja ,dan itu pun semua di kenalnya.
''Ini sudah aku simpan nomorku, kalau kamu mau di jemput Iwan ,telepon aku, jadi aku ngak susah susah menjemputmu, katanya ketus sambil menyodorkan ponsel Sahila kembali.
Apa dia tau, tadi aku di antar pulang kak Iwan. tanda tanya untuk Sahila.
''Maaf ,tadinya aku juga nggak mau, tapi karena kak Iwan memaksa, jadi aku ikut.
__ADS_1
''Nggak apa apa, aku nggak akan melarangmu, kalau kamu merasa nyaman ,jalanin aja, Iwan orangnya baik, Refan sedikit cuwek.
''Kasih Like Komen serta Votenya ya, supaya Authornya lebih semangat!''