
Mobil Refan melaju dengan kencang ,menerobos jalan yang begitu ramai, dengan kendaraan yang melintas, Setelah perjalanan beberapa menit Sahila mulai bingung dan mengernyitkan dahinya, pasalnya ini bukan jalan mengarah ke rumah.
Dengan tidak sabarnya, akhirnya Sahila membuka suara,
''Mas, kita mau ke mana lagi, bukan kah mas mau ke kantor?'', ucap Sahila sambil memegang lengan Refan,
''He'em, mas memang mau ke kantor, tapi hari ini mas mau kamu menemani mas seharian penuh, tidak ada penolakan dan tidak ada tapi tapian, anggaplah ini kado juga dari mu, lagi lagi ucapan Refan membuat Sahila tak bisa berkutik.
Mobil terparkir di depan perusahaan pencakar langit itu, dan ini kedua kalinya Sahila menginjakkan kakinya di tempat kerja Refan, Sahila merasa sedikit gugup, wajahnya pucat, ekspresi wajahnya tak seperti biasa, karena Sahila tau bahwa orang kantor tak ada yang mengetahui status dirinya.
''Kenapa, kelihatannya kamu pucat, apa masih sakit gara gara semalam?'' ucapan Refan lembut,
Sahila menggeleng, ''Aku hanya gugup saja,
Setelah mendapat jawaban dari Sahila, Refan menggandeng tangannya dengan lembut, jalannya pun pelan mengikuti langkah Sahila. Para karyawan melihat adegan itu untuk yang kedua kalinya, namun tak ada yang berani meski hanya sekedar bertanya.
Sesampainya di ruangan besar nan mewah Refan langsung saja fokus dengan pekerjaanya, sedangkan Sahila keluar masuk kamar karena merasa bosan.
''Mas, aku bosan, boleh nggak aku keluar, aku cuma ingin keliling saja, nanti kalau aku capek aku pasti akan kembali, ucapnya sambil menaikkan kedua alisnya dengan cepat,
Refan menghela nafas, ''Baiklah, tapi janji, jangan keluar dari kantor, mas nggak mau kalau kamu sampai bingung, kalau sampai lantai dasar, jangan sampai keluar gerbang ingat!'' Refan dengan tegas.
Sahila keluar dari ruangan Refan, setelah sampai di depan pintu, Sahila bingung arah mana yang akan di ambil,
Dengan santainya Sahila masuk ke dalam lift untuk turun,
Sesampainya di lantai bawah Sahila masih dengan kebingungannya mau ke arah mana, tanpa fikir panjang Sahila bertanya pada karyawan yang lewat.
''Mbak, maaf, kalau arah cafe di perusahaan ini mana ya?'', ucap Sahila dengan ramah,
''Mbak pegawai baru di sini?'', tanya balik.
Sahila hanya tersenyum dan sedikit mengangguk,
__ADS_1
''Sebelah sana mbak, tapi kalau jam segini biasanya rame, ucap karyawan sambil menunjuk ke arah cafe,
''Terima kasih ya Mbak, saya ke sana dulu, Sahila langsung saja berlalu menuju tempat yang di tunjukkan padanya.
Benar saja, cafe itu sangat rame, bahkan tak ada satu kursi pun yang kosong, Sahila hanya clingak clinguk, barang kali masih ada satu tempat, namun percuma,
Sampai akhirnya penantiannya tidak sia sia, ada satu tempat kosong karena orang yang menempati sudah pergi, Sahila langsung bergabung dan duduk,
''Mbak, saya pesan cappuccino satu, ucap masih dengan nada yang begitu ramah,
Sahila tersenyum dengan orang yang masih satu meja dengannya ,meskipun tidak saling kenal ,
Sahila melihat wanita di sampingnya itu dengan perut yang sedikit membuncit ,sedangkan yang lain hanya melihat tingkah konyol Sahila.
''Mbak sedang hamil?'' Sahila mengarah ke bagian perut wanita itu membuat nya heran.
Wanita itu hanya mengangguk.
Tangan Sahila mendarat di perut buncit itu dan mendiamkannya, rasa hatinya ikut bergetar merasakan gerakan demi gerakan sang bayi.
''Terima kasih,ucapnya dan menarik tangannya kembali, setelah pesanannya datang, Sahila mulai bercengkerama, entah apa yang di bahas yang pasti Sahila merasa tak bosan.
''Sayang,ternyata kamu di sini, aku sudah cari ke mana mana, aku fikir kamu keluar, Refan begitu panik dan langsung memeluk Sahila tanpa malu,
''Mas bilang aku nggak boleh keluar, jadi ya aku ke sini, lagi pula di sini rame, aku jadi betah deh, apa lagi aku bersama mbak ini, ucap Sahila sambil menunjuk wanita yang hamil itu,.
Namun tak dapat di bayangkan, bagaimna wajah wanita dan yang lain setelah tau siapa wanita yang bersama nya dari tadi,
Refan hanya memandangnya kilat tak peduli dengan omongan istrinya.
''Mas, biarin aku di sini sebentar saja, aku hanya ingin memegang perut mbak ini lagi, ucapnya pelan berharap Refan mau mendengarkannya.
Refan mengangguk.
__ADS_1
Sekali lagi Sahila memegang perut buncit itu, dengan suara yang begitu berat, wanita itu mendoakan Sahila.
''semoga nyonya cepat hamil juga ''
''Amiin, terima kasih ya mbak, Sahila langsung pergi mengikuti langkah Refan.
Semua karyawan yang duduk di dekat mereka menghela nafas panjang masing masing, karena berhadapan langsung dengan pemilik perusahaan ,karena sebelumnya tak sekali pun mereka langsung bertatap muka dengan ceonya.
''Untung saja kita tidak salah bicara, satu huruf saja kita meleset pasti tamat riwayat kita, semua penghuni kantin sedang gemuruh setelah kedatangan bosnya saat ini.
''Ternyata Pak Bos sudah punya istri, aku kira masih duren, istrinya baik ya, nggak sombong, beda sekali dengan Kania, dulu Kania saja sombong banget ,meskipun belum jadi istrinya bos, nah ini meskipun sudah jadi bos kita, masih mau duduk sama kita.
Refan dan Sahila kini menjadi bahan perbincangan di kantor dengan status barunya,
''Mas, kamu nggak marah kan, tanya Sahila sedikit ragu, karena melihat langkah Refan dengan cepat,
''Diam, nanti kita bicara di ruanganku saja, suara Refan membuat Sahila diam seribu bahasa.
Setelah sampai di ruangannya Refan langsung saja menutup pintunya,
Sahila duduk di sofa dan menunduk, karena melihat wajah Refan yang begitu tegang membuatnya takut.
Refan mendekatinya dan duduk di sampingnya mengangkat dagu Sahila dengan jarinya.
''Mas nggak marah sama kamu, mas cuma khawatir, tadi mas tanya sama satpam di depan, kata mereka nggak lihat kamu, saat itu juga mas panik dan sangat marah, bahkan mereka semua yang kena imbasnya, mas nggak tau lagi, cari kamu ke mana, akhirnya ada yang bilang kamu kearah cafe, saat itu juga hatiku terasa dingin, dan tak tau lagi berkata apa, seandainya kamu nggak ketemu, ucapan Refan semakin lembut membuat Sahila menangis .
''Maaf, aku menyusahkanmu, lain kali aku nggak akan mengulanginya lagi, tangisan Sahila pecah tepat di dada bidang Refan yang membuat kemejanya basah,
''Bos..... suara dari pintu dengan nafas ngos ngosan, sambil memegang kedua lututnya, namun tak melanjutkan suaranya ,karena melihat adegan mesra di depannya.
Mike menghela nafas melihat Sahila yang sudah duduk di samping Refan.
''Bos punya ponsel kan, kenapa nggak menghubungiku kalau nona sudah ketemu, bos tau aku sampai ke sebrang jalan seperti orang gila ,dan ternyata yang di cari sudah di sini, Mike dengan mulutnya tanpa rasa takut sedikit pun. membuat Refan berdecak.
__ADS_1