Pendekar Harimau Suci

Pendekar Harimau Suci
Tiga Ratus Jurus yang Menentukan III


__ADS_3

Para pendekar di sekitar menahan nafas ketika melihat dewa pembantaian terdorong oleh dewa mabuk


Meskipun mereka pernah mendengar rumor kekalahan dewa pembantaian ketika menghadapi dewa mabuk, mereka tidak terlalu mempercayainya, karena bagi para pendekar yang ada di medan perang


Dewa pembantaian adalah keberadaan yang tidak bisa mereka sentuh, sehingga mereka menaruh rasa hormat yang mendalam, terlepas rasa takut yang mereka miliki terhadapnya


***


Dewa pembantaian mengalirkan tenaga dalam ke arah organ dalamnya


Arus hangat mengalir ke seluruh organ dalam dewa pembantaian, setelah beberapa saat ia menghembuskan nafas dengan pelan


Sebagai seorang pendekar suci yang telah membuka delapan gerbang, ia hanya butuh beberapa saat untuk menstabilkan kondisinya


Dewa pembantaian mengerutkan kening sambil menatap dewa mabuk


Dewa mabuk tertawa kecil "Apa kau punya sesuatu yang ingin di tanyakan? "


Dewa pembantaian mengangguk "Ketika pertarungan kita, tiga puluh tahun yang lalu, aku tidak pernah melihat anda menggunakan jurus aneh ini "


Dewa mabuk menyeringai "Aku tidak menggunakannya karena aku tidak memiliki kemampuan ini pada waktu itu"


Dewa pembantaian terdiam dan berkata dalam hati "Sepertinya bukan hanya aku yang telah membuat kemajuan pesat setelah pertarungan itu"


Setelah mengatur nafas, keduanya maju dan menyerang secara bersamaan


Kali ini dewa pembantaian tidak berusaha mundur, ia memutar-mutar senjatanya


Keduanya kembali bertabrakan

__ADS_1


Dewa mabuk memberikan pukulan dan tendangan dengan sangat cepat


Namun dewa pembantaian juga bukanlah pendekar biasa, ia berhasil menghindari serangan-serangan tersebut, dan sesekali memberikan serangan balik


Setelah bertukar puluhan jurus, dewa pembantaian segera berada di dalam posisi yang tidak menguntungkan


Serangan dewa pembantaian yang ganas dan agresif beberapa kali di mentahkan oleh gerakan yang terlihat acak dari dewa mabuk


Namun meskipun demikian, dewa mabuk juga tidak memiliki keunggulan absolut dalam pertempuran keduanya


"Jurus Dewa Mabuk-Arak Api Misteri"


Dewa mabuk meneguk arak, kemudian menyemburkannya ke arah dewa pembantaian


Namun bukan arak yang keluar dari mulut dewa mabuk, melainkan sebuah bola api seukuran kepalan tangan anak kecil


Tetapi sesaat kemudian, bola api tersebut membesar dan melaju ke arah dewa pembantaian


Setelah menarik nafas dalam-dalam, ia berkata dengan pelan


"Jurus Darah Kematian-Sungai Darah "


Jurus darah kematian adalah salah satu jurus paling terkenal yang di miliki dewa pembantaian


Jurus ini juga yang membuatnya di kenal sebagai dewa pembantaian


Sebuah energi berwarna merah darah keluar dari mulut dewa pembantaian dan melesat cepat ke arah dewa mabuk


Energi berwarna merah darah bertemu dengan bola api raksasa

__ADS_1


Kedua jurus tersebut saling menabrak dan menghasilkan gelombang kejut yang lebih besar dari sebelumnya


Para pendekar yang sedang menonton di barisan paling depan terkejut dan terlambat mengalirkan tenaga sehingga mereka terlempar oleh gelombang kejut tersebut


Beberapa pendekar yang lebih lemah mengalami luka dalam yang cukup parah, dengan organ dalam yang terpukul keras


Sedangkan sisanya hanya mengalami luka ringan dan terdorong mundur beberapa puluh meter


Di sisi lain, dewa pembantaian dan dewa mabuk masih berdiri di tempatnya, seakan tidak terpengaruh oleh gelombang kejut tadi


Namun hanya mereka yang tau bahwa sebagai pemilik dan pusat ledakan


Keduanya menerima dampak paling parah dari gelombang kejut tersebut


Keduanya mati-matian mengalirkan tenaga dalam menuju organ dalam, untuk menekan luka yang mereka terima


Dewa pembantaian menarik nafas untuk menstabilkan dirinya


Setelah itu, ia menghembuskan nafas dengan pelan, ia mengangkat kepala dan ingin mengatakan sesuatu


Namun dewa pembantaian melihat dewa mabuk melemparkan sebuah benda seukuran kepalan tangan orang dewasa ke arahnya


Ia membuka tangannya dan menangkap benda tersebut


Dewa pembantaian mengerutkan kening kebingungan, ketika melihat benda yang di lemparkan dewa mabuk adalah sebuah kain berwarna merah gelap yang dibentuk seperti bola, ia kemudian mengangkat kepalanya ke arah dewa mabuk


Namun yang ia lihat hanya dewa mabuk yang sedang tersenyum


Setelah beberapa saat kebingungan, wajah dewa pembantaian tiba-tiba berubah, ia mengalihkan perhatiannya ke arah pakain yang sedang ia kenakan

__ADS_1


Setelah menundukan kepala, ia melihat sebuah robekan yang cukup besar pada pakaian di bagian perutnya


Dewa pembantaian menghela nafas dan bergumam dengan pelan "Aku kalah-!"


__ADS_2