
Para pendekar di sekitar menahan nafas ketika melihat dewa pembantaian terdorong oleh dewa mabuk
Meskipun mereka pernah mendengar rumor kekalahan dewa pembantaian ketika menghadapi dewa mabuk, mereka tidak terlalu mempercayainya, karena bagi para pendekar yang ada di medan perang
Dewa pembantaian adalah keberadaan yang tidak bisa mereka sentuh, sehingga mereka menaruh rasa hormat yang mendalam, terlepas rasa takut yang mereka miliki terhadapnya
***
Dewa pembantaian mengalirkan tenaga dalam ke arah organ dalamnya
Arus hangat mengalir ke seluruh organ dalam dewa pembantaian, setelah beberapa saat ia menghembuskan nafas dengan pelan
Sebagai seorang pendekar suci yang telah membuka delapan gerbang, ia hanya butuh beberapa saat untuk menstabilkan kondisinya
Dewa pembantaian mengerutkan kening sambil menatap dewa mabuk
Dewa mabuk tertawa kecil "Apa kau punya sesuatu yang ingin di tanyakan? "
Dewa pembantaian mengangguk "Ketika pertarungan kita, tiga puluh tahun yang lalu, aku tidak pernah melihat anda menggunakan jurus aneh ini "
Dewa mabuk menyeringai "Aku tidak menggunakannya karena aku tidak memiliki kemampuan ini pada waktu itu"
Dewa pembantaian terdiam dan berkata dalam hati "Sepertinya bukan hanya aku yang telah membuat kemajuan pesat setelah pertarungan itu"
Setelah mengatur nafas, keduanya maju dan menyerang secara bersamaan
Kali ini dewa pembantaian tidak berusaha mundur, ia memutar-mutar senjatanya
Keduanya kembali bertabrakan
__ADS_1
Dewa mabuk memberikan pukulan dan tendangan dengan sangat cepat
Namun dewa pembantaian juga bukanlah pendekar biasa, ia berhasil menghindari serangan-serangan tersebut, dan sesekali memberikan serangan balik
Setelah bertukar puluhan jurus, dewa pembantaian segera berada di dalam posisi yang tidak menguntungkan
Serangan dewa pembantaian yang ganas dan agresif beberapa kali di mentahkan oleh gerakan yang terlihat acak dari dewa mabuk
Namun meskipun demikian, dewa mabuk juga tidak memiliki keunggulan absolut dalam pertempuran keduanya
"Jurus Dewa Mabuk-Arak Api Misteri"
Dewa mabuk meneguk arak, kemudian menyemburkannya ke arah dewa pembantaian
Namun bukan arak yang keluar dari mulut dewa mabuk, melainkan sebuah bola api seukuran kepalan tangan anak kecil
Tetapi sesaat kemudian, bola api tersebut membesar dan melaju ke arah dewa pembantaian
Setelah menarik nafas dalam-dalam, ia berkata dengan pelan
"Jurus Darah Kematian-Sungai Darah "
Jurus darah kematian adalah salah satu jurus paling terkenal yang di miliki dewa pembantaian
Jurus ini juga yang membuatnya di kenal sebagai dewa pembantaian
Sebuah energi berwarna merah darah keluar dari mulut dewa pembantaian dan melesat cepat ke arah dewa mabuk
Energi berwarna merah darah bertemu dengan bola api raksasa
__ADS_1
Kedua jurus tersebut saling menabrak dan menghasilkan gelombang kejut yang lebih besar dari sebelumnya
Para pendekar yang sedang menonton di barisan paling depan terkejut dan terlambat mengalirkan tenaga sehingga mereka terlempar oleh gelombang kejut tersebut
Beberapa pendekar yang lebih lemah mengalami luka dalam yang cukup parah, dengan organ dalam yang terpukul keras
Sedangkan sisanya hanya mengalami luka ringan dan terdorong mundur beberapa puluh meter
Di sisi lain, dewa pembantaian dan dewa mabuk masih berdiri di tempatnya, seakan tidak terpengaruh oleh gelombang kejut tadi
Namun hanya mereka yang tau bahwa sebagai pemilik dan pusat ledakan
Keduanya menerima dampak paling parah dari gelombang kejut tersebut
Keduanya mati-matian mengalirkan tenaga dalam menuju organ dalam, untuk menekan luka yang mereka terima
Dewa pembantaian menarik nafas untuk menstabilkan dirinya
Setelah itu, ia menghembuskan nafas dengan pelan, ia mengangkat kepala dan ingin mengatakan sesuatu
Namun dewa pembantaian melihat dewa mabuk melemparkan sebuah benda seukuran kepalan tangan orang dewasa ke arahnya
Ia membuka tangannya dan menangkap benda tersebut
Dewa pembantaian mengerutkan kening kebingungan, ketika melihat benda yang di lemparkan dewa mabuk adalah sebuah kain berwarna merah gelap yang dibentuk seperti bola, ia kemudian mengangkat kepalanya ke arah dewa mabuk
Namun yang ia lihat hanya dewa mabuk yang sedang tersenyum
Setelah beberapa saat kebingungan, wajah dewa pembantaian tiba-tiba berubah, ia mengalihkan perhatiannya ke arah pakain yang sedang ia kenakan
__ADS_1
Setelah menundukan kepala, ia melihat sebuah robekan yang cukup besar pada pakaian di bagian perutnya
Dewa pembantaian menghela nafas dan bergumam dengan pelan "Aku kalah-!"