
"Dengan ini, maka berakhir sudah" Zhou Yu bergumam sambil menebaskan Pedang Lotus Naga ke arah Siluman Rubah Ekor Tiga
Aura pedang meletus dan menghantam Rubah Ekor Tiga tepat dibagian lehernya, sehingga membuat leher siluman tersebut menyemburkan darah
Gempa kecil kemudian terjadi saat tubuh Siluman Rubah jatuh dan menghantam tanah
Merasakan vitalitasnya menghilang dengan sangat cepat, siluman tersebut berusaha berdiri
Namun pertempuran tadi menghabiskan semua kekuatannya, sehingga membuat siluman tersebut tidak bisa bergerak dan hanya menyaksikan kematian mendekatinya selangkah demi selangkah
Tubuh Rubah Ekor Tiga kemudian perlahan menyusut bersama dengan menghilangnya vitalitas dari tubuhnya
Ketika tubuh Rubah Ekor Tiga mencapai ukuran seekor rubah pada umumnya
Siluman tersebut akhirnya menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya
***
Tepat setelah kematian Rubah Ekor Tiga
Para siluman dan binatang buas yang tengah menyerang para pendekar dengan ganas tiba-tiba tersentak dan berubah menjadi layu
Beberapa dari mereka bahkan langsung jatuh ke tanah, sehingga membuat para pendekar terkejut dan kebingungan
Berbeda dengan para pendekar yang terlihat kebingungan
Penatua Agung dan para Pemimpin Sekte Kecil langsung bereaksi atas kejadian tersebut dan melemparkan serangan dengan lebih ganas
Setelah melemparkan pukulan ke arah Siluman Tingkat Menengah yang dihadapinya, Penatua Agung kemudian berteriak dengan keras "Semuanya, para siluman ini kehabisan tenaga, sekarang saatnya kita menyerang "
Mendengar teriakan Penatua Agung, para pendekar berhenti berlari dan berbalik menyerang para siluman yang menjerat mereka
Disisi lain, menyadari ada sesuatu yang salah, para siluman kemudian berbalik melarikan diri, sehingga membuat situasi pertempuran berbalik dan menjadi lebih kacau
__ADS_1
Dengan dipimpin oleh Penatua Agung, para pendekar melakukan aksi pengejaran terhadap para siluman yang melarikan diri
Sementara itu, saat para pendekar mulai melakukan aksi pengejaran
Zhou Yu yang berhasil membunuh Rubah Ekor Tiga dan merubah situasi pertempuran terlihat tengah berlutut dengan ditopang oleh pedangnya
Nafasnya terdengar tidak beraturan dan pandangannya juga terlihat kabur
"Aku tidak boleh kehilangan kesadaran" Zhou Yu bergumam dengan susah payah saat merasakan kesadaran mulai tidak stabil
Memikirkan perasaan tidak berdaya saat bertemu dua makhluk yang ada di dalam dirinya, pemuda bertopeng tersebut merasa tidak mau
Zhou Yu kemudian menggigit lidahnya
Namun meskipun demikian, menghadapi kelelahan fisik dan juga mental, tindakan pemuda bertopeng tersebut terlihat sia-sia
Pemuda bertopeng tersebut kemudian berusaha bangkit dengan harapan kesadaran ikut terbangun akibat tindakannya
Ia merasa tulang-tulangnya berderak dan saling beradu, sehingga membuatnya kembali berlutut sambil menarik nafas dingin
Zhou Yu kemudian menggertak giginya dan berniat kembali berdiri
Namun sebelum pemuda bertopeng tersebut bisa melaksanakan niatnya, sebuah tangan tiba-tiba menempel pada punggungnya dan mengalirkan hawa panas
Bersamaan dengan hawa panas tersebut memasuki tubuhnya, suara yang sangat akrab tiba-tiba terdengar di telinganya, sehingga membuat pemuda bertopeng tersebut langsung mengendurkan kewaspadaan dan menjadi lebih tenang
"Kamu sudah berjuang, jangan memaksakan dirimu lagi, Yu'er "
***
"Semuanya berhenti " Penatua Agung berteriak ke arah para pendekar yang berniat memasuki hutan
"Hari sudah gelap, kita akan kesulitan menemukan para siluman itu di dalam hutan, sebaiknya kita kembali sekarang " Sambung pria tua tersebut dengan suara dalam
__ADS_1
Mendengar perintah tersebut, para pendekar saling melirik sebelum mengangguk
Meskipun merasa enggan, namun apa yang dikatakan Penatua Agung adalah sebuah kebenaran, sehingga membuat mereka tidak bisa membantah
Selain itu, setelah menghadapi pertempuran yang berlarut-larut, mereka sudah sangat kelelahan
Jika mereka memaksakan masuk ke dalam hutan dan bertemu dengan sesuatu yang tidak terduga
Tidak ada yang dapat menjamin mereka bisa selamat
Karena itu, setelah melirik hutan tersebut untuk terakhir kalinya, para pendekar kemudian berbalik dan bergerak menuju Sekte Pedang Kembar
Disisi lain, Penatua Agung tidak segera pergi dan justru menatap hutan dihadapannya dengan tatapan dalam
Menatap hutan yang akrab dihadapannya
Untuk beberapa alasan, pria tua tersebut merasa asing
Penatua Agung kemudian menghela nafas dan berkata "Aku tidak tahu siapa yang ada disana, tapi aku harap kalian belajar dari kejadian ini "
Setelah mengatakan itu, Penatua Agung kemudian berbalik dan mengikuti para pendekar yang lainnya
Namun tanpa sepengetahuan pria tua tersebut, setelah dirinya berbalik dan kembali ke dalam Sekte Pedang Kembar
Di dalam hutan tersebut, dua pasang mata tiba-tiba terbuka dan saling melirik
"Orang tua itu cukup tajam " Sebuah suara tiba-tiba muncul di antara kegelapan
"Kau benar, padahal aku berniat membawa kepalanya sebagai piala " Suara lain menimpali suara tadi
...
...
__ADS_1