
Rroarr...
Sebuah auman yang sangat keras tiba-tiba terdengar di udara dan mengejutkan para pendekar yang ada di tembok perkemahan
Para pendekar tersebut kemudian terpana ketika mengalihkan perhatian mereka ke sumber suara
Melihat seekor singa berkepala dua yang berjalan dengan arogan di antara siluman lainnya, para pendekar tersebut menarik nafas dingin
Namun siluman singa berkepala dua tersebut mengabaikan tatapan para pendekar itu dan justru menatap seorang wanita cantik yang berdiri dengan tenang sambil melepaskan niat membunuh
Merasakan tatapan sekaligus niat membunuh dari singa berkepala dua tersebut, momentum Yu Lian tidak menurun
Wanita cantik tersebut kemudian menarik busurnya dan melepaskan anak panah dengan kekuatan yang sangat besar ke arah singa berkepala dua tersebut
Melihat serangan wanita cantik tersebut, singa berkepala dua tidak menghindar
Siluman tersebut justru menampar anak panah Yu Lian yang membuat anak panah tersebut jatuh dan meledak di tempat lain
Melihat hal tersebut, alis Yu Lian sedikit berkerut, namun gerakannya tidak berhenti, ia kembali menarik busur, tapi dengan tenaga dalam yang jauh lebih besar sebelumnya
Namun meskipun demikian, ketika anak panah melesat menuju singa berkepala dua tersebut
Singa berkepala dua tersebut kembali menamparnya dengan mudah, sehingga membuat alis Yu Lian semakin berkerut
Tepat ketika Yu Lian berniat kembali melemparkan serangan, singa berkepala dua yang sedari tadi tetap berada pada posisinya tiba-tiba berlari ke arah wanita cantik tersebut
__ADS_1
Yu Lian buru-buru melesatkan anak panah dengan jumlah yang jauh lebih banyak ketika jarak antara keduanya semakin dekat
Namun anak panah Yu Lian tidak menghambat pergerakan siluman tersebut sama sekali, sehingga hanya dalam beberapa tarikan nafas
Singa berkepala dua sudah berada tepat dihadapan wanita cantik tersebut
Melihat singa berkepala dua melompat dan berniat menampar dinding kayu yang berada dibawah kakinya, Yu Lian segera berteriak ke arah para pendekar disekitarnya "Mundur "
Bersamaan dengan teriakan Yu Lian berakhir, singa berkepala dua berhasil menerobos dan menghancurkan dinding kayu dengan sebuah tamparan, sehingga membuat lubang besar yang kemudian dijadikan jalan oleh para siluman untuk menyerbu perkemahan
***
Pemimpin pasukan segera mengalihkan perhatiannya ketika mendengar teriakan Yu Lian
Namun tepat ketika ia berniat untuk membantu Yu Lian dengan menghadapi singa berkepala dua tersebut
Sebuah bayangan yang sangat besar tiba-tiba muncul dihadapan pria tua tersebut yang membuatnya terkejut dan melompat mundur
Pria tua tersebut kemudian mendongkak setelah ia berhasil menstabilkan pijakannya
Namun ketika tatapannya menyapu bayangan tadi, pria tua tersebut menarik nafas dingin, karena ia melihat seekor kera emas raksasa yang berdiri dihadapannya dengan wajah ganas
Ketinggian kera raksasa tersebut sekitar lima meter dengan otot yang menonjol dan taring yang cukup panjang diantara giginya yang membuat penampilannya semakin menakutkan
Bukan hanya pria tua itu, para pendekar yang berada disekitarnya juga terkejut dan ketakutan dengan kemunculan kera raksasa tersebut
__ADS_1
Apalagi ketika para pendekar tersebut merasakan aura pembunuh yang dilepaskan kera raksasa tersebut, membuat tubuh mereka bergetar tanpa sadar
Sebab aura pembunuh yang dilepaskan kera raksasa tersebut tidak kalah dengan para pendekar aliran hitam yang sangat terkenal di dunia persilatan
Melihat hal tersebut, pemimpin pasukan segera memerintahkan para pendekar disekitarnya untuk menjauh
Sementara dirinya melepaskan aura pembunuh yang tidak kalah dengan kera raksasa tersebut
Tidak banyak pendekar yang mengetahui bahwa meskipun pemimpin pasukan adalah seorang pendekar aliran putih, namun berbeda dengan pendekar aliran putih pada umumnya
Pemimpin pasukan tidak pernah menghilangkan aura pembunuh yang didapatkannya semasa dirinya masih aktif di dunia persilatan, sehingga membuat aura pembunuh milik pria tua tersebut tidak kalah kental dengan para pendekar aliran hitam apalagi kera raksasa tersebut
Merasakan aura pembunuh pria tua dihadapannya, kera raksasa memukul dadanya dengan keras sambil meraung ke langit sebelum berlari ke arah pria tua tersebut
Tanah dibawah kakinya bergetar hebat setiap kali kera raksasa tersebut melangkahkan kakinya
Namun meskipun demikian, pemimpin pasukan tidak mundur ataupun menghindar
Momentumnya meroket dan tekanan yang tidak terlihat menyebar dari pria tua tersebut sebagai pusatnya
Melihat kera raksasa tersebut melemparkan pukulan, pemimpin pasukan tidak mau kalah dan melakukan hal yang sama
Dua tinju dengan ukuran yang jauh berbeda bertabrakan dan membuat pemandangan yang mengguncang bumi, sehingga membuat para pendekar disekitarnya buru-buru melindungi tubuh mereka dengan tenaga dalam
...
__ADS_1