
Zhou Yu tertegun dengan kalimat terakhir Roh Senjata
"Bukan saatnya memikirkan perkataan itu " Zhou Yu menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada situasi saat ini
Meskipun masih belum sepenuhnya percaya dengan peringatan Roh Senjata, namun mengingat karakternya
Roh Senjata tersebut tidak mungkin muncul hanya untuk mengucapkan omong kosong belaka
Zhou Yu kemudian bergerak ke arah Pemimpin Pasukan dan kedua Pendekar Suci untuk memberitahu informasi yang didapatkannya
Namun ketika ia baru melangkahkan kakinya, ia mendengar teriakan mundur dari Pemimpin Pasukan
***
"Jangan melambat " Suara Pemimpin Pasukan menggelegar seperti guntur, sehingga membuat para pendekar yang sebelumnya melambat dan berniat menoleh kebelakang langsung mempercepat langkah mereka
Disisi lain, Pemimpin Pasukan dan kedua Pendekar Suci yang berada di barisan paling belakang terlihat memucat
Meskipun ketiganya menyadari lebih awal adanya kejanggalan dari jurus yang dilepaskan Ming An
Namun melihat asap jamur raksasa dibelakang mereka, ketiganya masih tidak bisa mengontrol detak jantung mereka
"Senior, sepertinya anda berdua harus bertindak " Pemimpin Pasukan berkata dengan malu
Meskipun ia sadar bahwa kedua Pendekar Suci sudah lama kesal kepadanya karena mendorong mereka kedalam situasi sulit seperti saat ini
Namun Pemimpin Pasukan hanya bisa menggertak giginya
Setelah melalui begitu banyak tikungan dan belokan, ia menjadi lebih enggan untuk membiarkan pasukannya tertinggal apalagi menderita kerugian besar
Kedua Pendekar Suci saling melirik dengan tatapan pahit, jika bukan karena terlalu malu dengan Ming An yang ada dibelakang mereka
Kemungkinan besar keduanya sudah lama meninggalkan para pendekar tersebut
Bukannya mereka terlalu kejam ataupun berdarah dingin, namun dalam perang, apalagi situasi yang tidak terkendali seperti saat ini
__ADS_1
Keduanya tidak memiliki kepercayaan diri untuk mempertahankan nyawa mereka, apalagi melindungi orang lain
Ditambah dengan status mereka yang terpisah, keduanya tidak memiliki banyak beban psikolog jika seluruh pasukan dimakamkan disini
Paling banyak keduanya hanya akan merasa emosional dengan kehilangan begitu banyak pendekar dan melemahnya kekuatan Aliran Putih
Meskipun terdengar kejam, namun itulah perang, kematian adalah jalan, sementara bertahan sampai akhir adalah bonus
Sebagai seseorang yang telah mencicipi asam garam kehidupan lebih banyak dari orang pada umumnya, keduanya sudah lama terbiasa akan hal itu
***
Melihat hutan yang hancur dan tekanan udara yang akan datang, wajah Pemimpin Pasukan dan kedua Pendekar Suci langsung berubah
Pemimpin Pasukan kemudian berteriak sambil mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya yang tersisa untuk membuat dinding pelindung "Berlindung "
Kedua Pendekar Suci saling melirik, meskipun enggan, namun sudah terlambat untuk melarikan diri sekarang sehingga keduanya segera mengeluarkan seluruh tenaga dalam mereka dan membuat dinding pelindung seperti Pemimpin Pasukan
Para pendekar juga tidak menonton, menghadapi gelombang kejut yang akan datang, mereka tidak berusaha menyimpan tenaga dalam seperti sebelumnya
Dinding pelindung bergetar hebat dan udara ganas menghantam ketiganya sehingga membuat wajah mereka menjadi pucat
Disisi lain, para pendekar dalam kondisi lemah terlempar ke udara seperti layang-layang putus akibat gelombang tersebut
Melihat hal tersebut, Pemimpin Pasukan hanya melirik sebelum kembali mengalihkan perhatiannya
Merasakan ia hampir mencapai batasnya, wajah Pemimpin Pasukan langsung berubah
Dinding pelindung semakin goyah dan retakan halus tiba-tiba muncul, sehingga membuat para pendekar yang ada dibelakangnya menjadi khawatir
Tapi tepat ketika Pemimpin Pasukan dan kedua Pendekar Suci tidak dapat mempertahankan dinding pelindung
Gelombang kejut tersebut berakhir dan udara pun berangsur-angsur tenang
Pemimpin Pasukan dan kedua Pendekar Suci saling melirik sebelum menghela nafas lega
__ADS_1
Untungnya jarak antara mereka dan inti ledakan sangat jauh, sehingga mereka hanya menerima gelombang sisa dari ledakan tersebut
Jika saja mereka lebih dekat dengan inti ledakan, bahkan jika ketiganya berada di masa puncak mereka
Ketiganya tidak percaya diri untuk mempertahankan nyawa mereka, apalagi melindungi para pendekar
***
Melihat gelombang kejut tersebut berakhir, para pendekar bersorak gembira, namun sebelum mereka bisa merayakan keberhasilan tersebut
Meraka melihat Pemimpin Pasukan dan kedua Pendekar Suci yang melindungi mereka ambruk ke tanah sambil memuntahkan beberapa suap darah
"Pemimpin Pasukan "
"Senior "
"Senior "
Para pendekar terdekat berteriak dan buru-buru membantu ketiganya
Meskipun biasanya mereka jarang berkomunikasi karena status dan asal-usul mereka yang berbeda, namun para pendekar sangat menghormati ketiga pria tersebut
Apalagi dalam situasi putus asa tadi, ketiganya tidak menyerah dan berusaha melindungi mereka, sehingga membuat para pendekar tersebut dan lebih menghormati ketiga pria tersebut
Pemimpin Pasukan melambaikan tangannya dan berkata "Jangan khawatir, aku baik-baik saja "
"Biarkan junior merawat luka anda terlebih dahulu, Pemimpin " Salah satu pendekar yang menguasai keterampilan medis berkata dengan nada khawatir
Pria paruh baya tersebut kembali melambaikan tangannya dan menjawab "Jangan pedulikan lukaku, sebaiknya kita pergi dari sini terlebih dahulu"
Sebelum pendekar tadi kembali membujuk, Pemimpin Pasukan sudah terlebih dahulu menyela dengan nada dingin "Ini perintah "
Para pendekar saling melirik dan mengangguk sambil membantu pria paruh baya tersebut berjalan
Dibantu oleh dua pendekar di kedua sisinya, Pemimpin Pasukan melirik ke arah belakang dengan ekspresi ketakutan sebelum menarik kembali pandangannya
__ADS_1
...