
Zhou Yu kemudian menjelaskan apa yang terjadi di Hutan Larangan, serta percakapannya dengan Long Aoutian
Setelah mendengar cerita Zhou Yu, Ming An mengerutkan keningnya dan berkata "Long Aoutian, guru belum pernah mendengar nama itu "
"Long Aoutian adalah jenius Aliran Hitam yang mengalahkan empat jenius Aliran Putih sendirian, juga murid langsung dari Dewa Tengkorak Hitam " Zhou Yu berkata setalah mendengar nada kebingungan gurunya
"Murid Dewa Tengkorak Hitam ? " Ming An menaikan alisnya dan berkata "Tidak heran jika dia memiliki informasi sedalam itu"
Mengetahui fokus gurunya tidak kepada topik yang dimaksud, Zhou Yu kemudian kembali berkata "Jadi, apakah Guru mengetahui tentang Pemerintah Surga ini ?"
"Tidak " Ming An menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan tenang
Mendengar hal tersebut, Zhou Yu menaikan alisnya dan bertanya "Benarkah ?"
"Apakah kau mulai meragukan guru Yu'er ?" Ming An tersenyum dan balik bertanya setelah mendengar nada tidak percaya muridnya itu
Zhou Yu berniat menjelaskan, namun sebelum ia berhasil mengeluarkan sebuah kata dari mulutnya
Ming An menepuk bahunya terlebih dahulu dan berkata "Tidak apa-apa, jangan pikirkan masalah ini, selama Guru ada disini, apakah itu Pemerintah Surga ataupun Bumi, bahkan Neraka sekalipun, Guru tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu ataupun Bibi Gurumu, jadi jangan terlalu khawatir "
Setelah mengatakan itu, ia menatap Zhou Yu dengan ramah dan berkata "Sebaiknya, berlatihlah dengan ketenangan pikiran dan segeralah menjadi pendekar yang membuat orang-orang hanya bisa mengangkat kepala untuk melihatmu, dengan begitu, tidak peduli apa yang terjadi di masa depan, tidak akan ada kekhawatiran yang mengganggu pikiranmu "
__ADS_1
***
Ming An melirik punggung Zhou Yu yang berjalan keluar dari tendanya
Setelah memastikan bahwa muridnya itu meninggalkan tenda miliknya, Ming An jatuh kedalam perenungan
"Long Aoutian " Ming An bergumam pelan sebelum berkata "Anak ini seharusnya bukan sebatas murid Dewa Tengkorak Hitam, bahkan pemahaman Dewa Tengkorak Hitam tentang Pemerintah Surga tidak sedalam anak ini, tapi siapa sebenarnya dia ? "
Ming An meregangkan tubuhnya dan berkata "Sudah lama aku terjebak di tempat ini, sepertinya aku harus keluar sesekali "
Setelah mengatakan itu, sosok Ming An menghilang dari tempat ia duduk sebelumnya secara misterius
***
Terlihat sebuah kota yang cukup besar berdiri dengan hutan yang panjang disekelilingnya
Namun untuk alasan yang tidak diketahui, kota tersebut sepertinya di tinggalkan dengan terburu-buru oleh para penduduknya sebab penampilan kota tersebut yang terlihat berantakan dengan barang-barang yang berserakan di jalan-jalannya
Selain hembusan angin yang menerbangkan debu jalanan, hanya ada hewan-hewan kecil yang sesekali muncul dan mengambil makanan, sehingga membuat kesunyian kota tersebut semakin terasa
Tepat ketika hembusan angin kembali menghempas dan menerbangkan debu-debu jalanan
__ADS_1
Sebuah nyanyian dalam bahasa Sansekerta tiba-tiba terdengar di udara
Nyanyian tersebut kemudian meluas dan mempengaruhi seluruh kota, sehingga membuat kota yang awalnya sunyi menjadi jauh lebih khidmat
Tepat ketika nyanyian dalam bahasa Sansekerta tersebut hampir meluas hingga hutan disekitarnya
Suara tua dengan nada malas juga tiba-tiba muncul di udara dan menganggu nyanyian tersebut
"Jangan diteruskan saudara Wu, meskipun nyanyianmu tidak buruk, tapi kau telah menganggu waktu minumku, sehingga membuat suasana hatiku tidak terlalu baik "
Mendengar suara tersebut, seorang biksu tua yang tengah duduk di atas sebuah bangunan paling tinggi di kota tersebut membuka matanya dan melirik ke sumber suara sambil berkata
"Amitabha Buddha berwelas asih "
Biksu tua tersebut melipat tangannya dan berkata "Mohon maafkan biksu tua ini karena kelancangannya "
Empunya suara sebelumnya terdengar mendengus sebelum menjawab pernyataan biksu tua tersebut "Karena kau telah menemukanku, maka datanglah "
"Amitabha, terima kasih saudara Tao " Biksu tua tersebut kembali melipat tangannya sebelum menghilang dari tempat ia duduk sebelumnya
...
__ADS_1