
“Apa ini ?”
Salah seorang pendekar dari Pemerintah Surga terkejut setelah melihat kemunculan pedang yang datang secara tiba-tiba
Sebelum pendekar tersebut bereaksi, pedang tersebut melesat ke arahnya dengan kecepatan yang sangat cepat
Melihat hal tersebut, Dewa Es yang merupakan lawan dari pendekar tersebut bereaksi
Meskipun ia tidak kalah terkejut setelah melihat pedang tersebut, namun ia menyadari kedatangan Ming An sebelumnya sehingga meskipun pikirannya bingung, ia tidak ragu-ragu dan langsung melakukan serangan, menyusul serangan pedang tadi
“Tercela”
Pendekar tersebut berteriak marah saat melihat serangan susulan dari Dewa Es muncul tepat setelah ia berhasil menghindari serangan pedang tadi sehingga membuatnya tidak memiliki kemampuan untuk menghindar
Menghadapi kutukan tersebut, Dewa Es tidak bergeming dan mendorong telapak tangannya yang memancarkan hawa dingin ke arah pendekar tersebut
Ledakan
Pendekar tersebut terbang terbalik dan terlempar sejauh belasan meter
Engah
Pendekar tersebut memuntahkan seteguk darah sambil memegangi dadanya yang membiru dan mengeluarkan hawa dingin dengan ekspresi jelak “Telapak Tangan Dewa Es”
__ADS_1
Situasi tersebut tidak hanya terjadi di antara pertempuran Dewa Es, tetapi di semua dewa dunia persilatan sehingga membuat para pendekar dari Pemerintah Surga yang tengah berhadapan dengan para dewa segera jatuh ke dalam kerugian yang jelas
Beberapa pendekar jatuh ke dalam situasi serupa dengan pendekar yang dihadapi Dewa Es sementara sisanya bereaksi cepat dan hanya mendapatkan goresan kecil di bagian tubuh mereka
Namun meskipun demikian, para pendekar tersebut tidak merasa lega, tapi justru semakin berat
Sebelumnya, mereka sudah berada dalam situasi yang kurang menguntungkan. Dengan kejadian kali ini, situasi mereka menjadi semakin berbahaya
Hal itu membuat mereka tidak bisa tidak membenci Ming An
Ming An sendiri tidak peduli dengan kebencian yang di arahkan kepadanya. Dengan mata yang masih tertutup, pria paruh baya tersebut mengarahkan kesepuluh pedangnya ke arah pertempuran petani tua, nenek Wang dan juga Harimau Putih
Dengan momentum seperti badai, kesepuluh pedang tersebut mengeluarkan bunyi menerobos dan melesat dengan kecepatan yang mencengangkan
Namun dalam menghadapi kekuatan absolut petani tua, ataupun serangan cepat yang dilakukan Nenek Wang dan Harimau Putih membuat mereka kesulitan untuk bereaksi atas serangan pedang-pedang tersebut
Oleh karena itu, saat pedang-pedang Ming An datang, beberapa dari mereka tidak memiliki banyak kemampuan melawan dan hanya bisa menyaksikan dengan ekspresi putus asa
Puff...puff...pufff
Tiga orang pendekar tertangkap basah sehingga tubuh mereka langsung di tusuk oleh pedang-pedang Ming An yang tepat mengenai jantung mereka
Ketiganya membuka mata lebar dengan ekspresi tidak percaya, vitalitas mengalir deras meninggalkan tubuh ketiganya
__ADS_1
Hanya dalam satu tarikan nafas, tubuh mereka lemah dan jatuh ke tanah
***
“Anak itu...” Xia Juntian melirik Ming An dengan ekspresi muram
Disisi lain, Wang Xiang Dao tersenyum ringan dan berkata “Apa kau terkejut ?"
"Aku sama sepertimu sebelumnya. Aku ingat beberapa tahun lalu dia hanya berhasil melarikan diri dari sergapan salah satu Pendekar Suci kalian karena kalian tidak siap dengan kemampuan mentalnya”
“Setelah beberapa tahun tidak bertemu, tidak hanya kekuatannya meningkat pesat. Kemampuan mentalnya juga meningkat ke tingkat yang sama sekali baru sehingga bahkan aku pun merasa terancam” Sambung pria tua tersebut dengan nada damai
Mendengar pernyataan tersebut, Xia Juntian mendengus dan berkata “Kau menganggapnya terlalu serius, meskipun momentumnya cukup bagus, aku masih bisa melihat bahwa dia baru berhasil membuka gerbang ketujuh”
“Sepertinya kau lupa bahwa orang yang membuatmu seperti ini berada satu gerbang lebih rendah dari pada dia” Wang Xiang Dao menatap penampilan pria tua tersebut dengan tatapan penuh arti
Xia Juntian sekali lagi mendengus dan berkata “Kau terlalu banyak omong kosong, mari akhiri pertempuran ini”
“Kau benar, sudah saatnya mengakhiri pertempuran yang membosankan ini” Wang Xiang Dao mengangguk dengan cara alami dan berkata
“Lagi pula seharusnya kau sadar bahwa pil obatmu tidak sebagus itu”
...
__ADS_1