Pendekar Harimau Suci

Pendekar Harimau Suci
Pertempuran XVII


__ADS_3

Ledakan


Nie Yunhai menabrak tanah dengan keras dan membuat debu dan bebatuan terangkat ke udara


Pria tua tersebut kemudian terbatuk beberapa kali sambil berusaha menstabilkan kondisinya


Meskipun Nie Yunhai selalu melindungi tubuhnya dengan tenaga dalam


Akan tetapi dengan perbedaan kekuatan yang cukup jauh, bahkan jika ia melindungi tubuhnya dengan tenaga dalam yang besar dan juga tirani


Nie Yunhai masih merasa bahwa organ dalamnya terguncang dan membuatnya merasa tidak nyaman


Pria tua tersebut kemudian menarik nafas panjang dan berkata dengan susah payah


“Sialan, jelas-jelas aku tidak banyak menyerangnya, tapi dia malah menyerangku lebih dulu, dasar bocah tengik”


Setelah mengatakan itu, Nie Yunhai berusaha bangkit, namun sebelum pria tua tersebut benar-benar berdiri, belasan sosok muncul dan menghampirinya


“Apakah Anda baik-baik saja, senior Dewa Haus Darah ?” salah satu sosok alias para pendekar yang sebelumnya mundur saat pertempuran di mulai bertanya dengan nada khawatir


Disisi lain, Nie Yunhai mendengus dan balik bertanya dengan dingin “Bagaimana menurutmu ?”


“Itu... sepertinya Anda baik-baik saja” Pendekar tersebut menjawab dengan ragu


Namun mendengar jawaban tersebut, Nie Yunhai meledak karena marah “Apa katamu ? apakah situasiku terlihat baik-baik saja menurutmu ? apakah kau buta ?”


Menghadapi kemarahan pria tua tersebut, pendekar tadi tercengang, namun sebelum ia bisa menyangkal, sebuah suara dingin muncul dan menyela percakapan tersebut

__ADS_1


“Jaga nada bicaramu Dewa Haus Darah, tidak semua orang yang ada di sini adalah para pendekar dari Aliran Hitam yang bisa kau perlakukan sesuka hatimu”


“Oh, jadi kau pendekar dari Aliran Putih ?” Nie Yunhai bertanya dengan dingin


Merasakan tatapan berbahaya dari pria tua tersebut, pendekar yang sebelumnya berbicara diam-diam menelan ludah dan menjawab dengan setenang mungkin


“Benar”


“Kalau begitu kenapa kau diam saja dan tidak membantu pertempuran ?” Nie Yunhai menatap pendekar tersebut dengan tajam dan bertanya dengan nada dingin


“Bukankah kalian selalu mengatakan tentang solidaritas dan tidak takut mati saat menghadapi suatu musuh yang sangat kuat ?”


Mendengar pernyataan tersebut, pendekar itu langsung tersulut dan menjawab dengan cepat


“Kau pikir kami akan diam saja ? sejak tadi kami menunggu kesempatan untuk bergabung dalam pertempuran, tapi karena kau meragukan kami, kami akan maju sekarang”


“Ayo semuanya, sudah saatnya kita membantu senior Dewa Mabuk dan yang lainnya”


Melihat hal itu, Nie Yunhai menunjukkan senyum jahat sementara para pendekar dari Aliran Hitam diam-diam menjauh


Akan tetapi sebelum kelompok tersebut berhasil meninggalkan jangkauan persepsi Nie Yunhai


Pria tua tersebut mengalihkan perhatiannya ke arah mereka sembari bertanya dengan dingin


“Apakah aku mengijinkan kalian untuk pergi ?”


“Itu...” Salah satu dari pendekar tersebut termenung sebelum bertanya dengan hati-hati “Lalu apa yang harus kami lakukan senior ?”

__ADS_1


Nie Yunhai mendengus dan balik bertanya dengan nada yang masih sangat dingin “Apakah hal itu masih perlu di tanyakan ?”


“Tapi bukankah Anda memerintahkan orang-orang dari Aliran Putih itu untuk bergabung ke dalam pertempuran hanya untuk memberi mereka pelajaran ?” Pendekar itu bertanya dengan nada bingung sebelum menambahkan


“Lagi pula, bukankah senior Dewa Mabuk bahkan melarang wanita tua yang memiliki kekuatan Puncak Pendekar Suci untuk bergabung dalam pertempuran ? kami bahkan masih cukup jauh dari Puncak Pendekar Suci”


Mendengar hal itu, Nie Yunhai tersenyum sinis dan berkata dengan tajam “Pemabuk tua itu melarang kekasihnya, apa kalian juga kekasih pemabuk tua itu ?”


“Bukan. Tentu saja bukan” Pendekar tersebut menggelengkan kepalanya dengan cepat


Nie Yunhai tertawa kecil setelah melihat reaksi para pendekar itu dan kembali buka suara “Kalau begitu tunggu apa lagi ? cepat bantu mereka”


“Baik senior, kami akan pergi sekarang juga”


Pendekar tersebut tergagap dan melesat sambil di ikuti pendekar yang lainnya


Setelah kepergian para pendekar itu, Nie Yunhai kembali tersenyum dan berkata dengan suara yang hanya di dengar oleh telinganya


“Dengan begitu, seharusnya aku tidak akan terkena pukulan kejam lagi kan ?”


***


“Apa kalian ingin mengalahkan ku dengan memanfaatkan jumlah ? itu rencana yang bagus”


“Zhou Yu” tersenyum aneh saat melihat para pendekar yang sebelumnya bersembunyi tiba-tiba memasuki medan pertempuran


Melihat senyum pemuda bertopeng tersebut, Dewa Mabuk dan yang lainnya tiba-tiba merasakan firasat buruk

__ADS_1


Namun sebelum para orang tua tersebut bisa menebak alasan fisarat buruk itu, “Zhou Yu” tiba-tiba melesat ke arah salah satu pendekar dan melakukan sesuatu yang tidak terduga


...


__ADS_2