Pendekar Harimau Suci

Pendekar Harimau Suci
Kematian Gu Qingshan


__ADS_3

'Jurus Pedang Kembar~Bayangan Kematian '


Dalam pandangan Gu Qingshan, Sosok Ming An tiba-tiba bertambah menjadi lima orang dan melesat ke arahnya sambil mengayunkan pedang


Gu Qingshan meraung keras dan mengeluarkan tenaga dalamnya lebih besar lagi untuk mengahadapi kelima Ming An tersebut


***


"Bagaimana mungkin " Gu Qingshan berkata dengan nada tercekat, wajahnya dipenuhi rasa ketidakpercayaan dengan darah yang meluap dari mulutnya


Sementara itu, ditubuhnya menancap sebilah pedang yang tepat mengenai jantungnya


Ming An berdiri dihadapannya dengan tenang, tangannya menggenggam pedang yang menancap di dada Gu Qingshan dengan mantap


"Jadi ini kekuatanmu yang sebenarnya ?!" Gu Qingshan berkata dengan lemah setelah merasakan vitalitas mulai meninggalkan tubuhnya


Ming An tidak menjawab pertanyaannya dan justru berkata "Seharusnya kau tidak melakukan ini semua "


"Kau benar " Gu Qingshan tersenyum kecut dan berkata dengan nada mencela diri sendiri "Jurus luar biasa apa?, Teknik Terlarang apa? dihadapan kekuatan yang sesungguhnya, semua hanyalah lelucon "


"Apakah semua ini sepadan ?" Ming An berkata sambil melepaskan pedang dari tubuh Gu Qingshan dan mundur satu langkah ke belakang


Gu Qingshan jatuh dan berlutut dengan lemah setelah pedang tersebut dicabut dari tubuhnya


Ia kemudian menatap Ming An "Apa kau benar-benar telah melupakan semuanya ?"

__ADS_1


"Aku tidak pernah melupakan semuanya " Ming An menggelengkan kepala dan berkata "Tapi aku tidak mengerti kenapa kau rela menukar nyawamu untuk seseorang yang jelas-jelas telah mengkhianatimu "


Gu Qingshan terdiam, kemudian menjawab dengan lirih "Dia adalah cintaku, bahkan jika dia benar-benar mengkhianatiku, aku harus membalas dendam atas kematiannya "


Setelah mengatakan itu, tubuh pria paruh baya tersebut ambruk ke tanah


Ming An menatap tubuh tak bernyawa pria paruh baya tersebut dengan pandangan kompleks, pikirannya melayang kepada sosok seorang perempuan cantik, namun memiliki senyum licik yang tergantung di wajahnya


Ia kemudian menggelengkan kepala sambil menghela nafas


***


"Apa kau sudah siap ?" Zhou Yu bertanya ke arah Dai Li


Dai Li tidak menjawab, melainkan menatap gubuknya dengan tatapan sedih


Setelah banyak bercerita tentang satu sama lain selama keduanya tinggal bersama, ia sedikit banyak mengetahui keistimewaan gubuk tersebut


Sebagai sebagai tempat tinggal sekaligus perekam momen kehidupan Dai Li bersama kakek dan neneknya, bisa dibayangkan betapa pentingnya gubuk itu di hati pemuda tersebut


Awalnya Zhou Yu juga merasa tidak pantas untuk mengajak Dai Li berkelana bersamanya dan pergi meninggalkan gubuk tersebut


Namun membayangkan Dai Li hidup sebatang kara di tengah hutan, Zhou Yu tiba-tiba membayangkan dirinya sendiri yang menjalani kehidupan tersebut, sehingga membuat hatinya merasa tidak nyaman


Dengan alasan itu, Zhou Yu akhirnya mengajak Dai Li untuk pergi bersamanya menuju dunia luar

__ADS_1


Awalnya ia ragu bahwa Dai Li akan setuju dengan ajakannya, namun di luar dugaan Zhou Yu, pemuda tersebut mengangguk tanpa ragu-ragu setelah mendengar ajakannya


Dai Li menghela nafas dan bertanya dengan pelan "Apakah aku bisa kembali lagi ke sini suatu saat nanti ?"


"Kau bisa kembali ke sini kapanpun kau mau " Zhou Yu menjawab dengan nada pasti, ia kemudian menambahkan "Dan tidak ada yang bisa membatasi kebebasanmu "


Setelah mendengar jawaban Zhou Yu, Dai Li tersenyum lega


Keduanya kemudian membereskan barang bawaan masing-masing dan segera berangkat meninggalkan gubuk tersebut


***


Di tengah perjalanan


"Apakah dunia luar sangat menyenangkan ?" Dai Li bertanya dengan santai


Alis Zhou Yu berkerut dan menjawab dengan nada rendah "Sebenarnya dunia luar tidak semenyenangkan seperti yang kau pikirkan, apalagi situasi saat ini "


"Sepertinya kau punya banyak masalah di sana ya " Dai Li berkata tanpa menoleh


Zhou Yu menaikan alisnya dan bertanya "Kenapa kau berpikir begitu ?"


"Entahlah, mungkin perasaanku saja " Dai Li mengangkat bahunya dan menjawab "Tapi selain komentarmu yang selalu buruk, aku selalu merasa bahwa suasana hatimu juga ikut memburuk ketika berbicara tentang dunia luar "


Zhou Yu menoleh, meskipun ia tidak bisa melihat wajah pihak lain, namun ia seolah bisa membayangkan wajah tenang Dai Li di kepalanya

__ADS_1


Sudut mulut pemuda bertopeng tersebut sedikit naik ke atas


***


__ADS_2