
Mendengar perkataan Retya yang ada di atas tembok kota, prajurit wanita itu menjadi marah.
Sebenarnya prajurit wanita ini adalah bagian dari 5 senjata Marquis Gerda yang terkenal, Linster si tombak petir.
Marquis Gerda memiliki 5 jendral hebat yang membantunya di medan perang, 5 orang ini memiliki kekuatan yang sangat kuat serta kesetiaan mereka juga tidak perlu diragukan lagi, 5 sosok ini di sebut sebagai 5 senjata Marquis Gerda.
Semua orang mengakui bakat dan kemampuannya di medan perang, meskipun dirinya adalah seorang wanita tapi tidak ada yang berani meremehkannya. Apalagi ia sudah sering mengikuti perang bersama Marquis Gerda, ia akhirnya berhasil naik dan dipercaya menjadi tangan kiri sang Marquis setelah ia memenangkan sebuah pertarungan besar untuk Marquis.
Ia datang kesini sebab Marquis Gerda sangat khawatir waktu mendapatkan surat dari anak perempuannya, ketika mengetahui bahwa anaknya hampir di tangkap para bandit, Marquis Gerda segera menghancurkan meja kerja di rumahnya dan mengirim sosok dari 5 senjatanya yang paling dipercaya secara langsung yaitu Linster agar menjaga Fila kembali ke wilayahnya.
Tetapi apa yang tidak pernah dipikirkan oleh Fila, para prajurit Baron berani membuatnya menunggu di depan tembok kota. Padahal semua bangsawan lain memperlakukan mereka penuh rasa hormat, bahkan Duke dan Grand Duke sekalipun tidak berani melakukan hal seperti ini kepada mereka, jadi Linster sudah sangat marah.
Linster menarik nafas dan hanya berpikir bahwa Retya mungkin tidak tahu identitasnya asli atau palsu, oleh karena itu Linster mengambil token yang memiliki lambang seekor beruang emas yang merupakan lambang dari Marquis Gerda.
Token seperti ini adalah bukti identitas seorang bangsawan, kali ini Linster yakin bahwa Retya sudah mengetahui identitasnya "Aku ulangi sekali lagi, aku adalah bagian dari 5 senjata Marquis Gerda, Linster si tombak petir. Cepat buka gerbangnya dan biarkan aku membawa kembali Nona Fila secepat mungkin".
Namun apa yang mengejutkan Linster adalah Retya yang ada di atas tembok kota sama sekali tidak panik saat melihat token di tangannya, bahkan Retya terlihat sangat tidak peduli "Lalu? Tidak peduli apakah kau itu tombak petir, api atau apapun, selama tuan kami belum tiba maka kalian hanya bisa menunggu disana. Bukan hanya itu, sekalipun yang datang Marquis Gerda sendiri, tanpa izin tuan kami maka ia tidak bisa melewati gerbang kota kami".
Kali ini Linster membeku akibat terkejut, ia sedikit tidak percaya terhadap perkataan Retya.
Setiap kali seseorang melihat token di tangannya ini, mereka pasti membungkuk hingga berlutut yang menunjukkan rasa hormat mereka, tapi kenapa penjaga kota di wilayah Baron ini masih berani bersikap sombong? Bahkan penjaga tembok kota ini berani mengejek nama tuannya yaitu Marquis Gerda secara langsung.
Linster menyimpan token tersebut penuh kemarahan, pada awalnya ia masih bisa menahan sikapnya namun sejak penjaga gerbang ini berani mengejek nama Marquis Gerda, Linster tidak bisa diam lagi.
__ADS_1
Setelah menyimpan token tersebut, Linster menatap ke arah Retya penuh rasa dingin "Sangat baik, aku belum pernah menemukan orang berani dan bodoh sepertimu. Nampaknya tuan mu juga sama bodohnya sebab tidak bisa melatih prajuritnya dengan baik, bahkan prajuritnya tidak mengerti untuk bersikap sopan terhadap perwakilan bangsawan yang lebih tinggi. Aku sangat penasaran, seberapa bodoh tuan yang bisa memiliki prajurit seperti--"
"Brak!".
Sebelum Linster bisa menyelesaikan perkataannya, Retya sudah melompat dari atas gerbang kota dan berdiri dihadapan Linster.
Retya menarik pedang miliknya sambil menatap Linster bersama para prajuritnya dengan aura membunuh yang sangat kuat "Wanita gila, apa tadi yang kau katakan terhadap tuanku? Dengar ini baik-baik, tidak ada seorangpun yang boleh mengejek tuanku. Sejak kau berani mengejek tuanku, itu berarti kau sudah harus siap mati!".
Pada awalnya Linster terkejut terhadap aura membunuh Retya, tapi sebagai 5 senjata Marquis Gerda yang sudah melalui banyak medan perang, Linster segera menekan rasa terkejutnya.
"Sepertinya kau juga bukan seorang prajurit normal, paling tidak, prajurit sekuat dirimu seharusnya tidak hanya bekerja untuk seorang Baron. Kalau begitu biarkan aku melihat, apakah kekuatanmu sama seperti cara bicaramu yang terlihat sombong barusan!", kata Linster yang mengambil sebuah tombak perak di tangannya, mata Linster menatap dengan tajam menuju Retya.
Retya tidak berbicara lebih banyak lagi, sosoknya bergegas maju menuju Linster dan menebas pedangnya tanpa ragu.
"Tang!".
Tetapi ketika pedang mereka bertabrakan, Linster sangat terkejut sebab ia merasakan kekuatan yang menakutkan menabrak pedangnya.
Linster mundur 2 langkah akibat tebasan pedang tersebut, Retya memanfaatkan kesempatan itu untuk menebas Linster lagi.
Pedang dan tombak terus bertabrakan, tiap kali 2 senjata itu saling bertarung maka Linster selalu dipukul mundur.
Menahan pedang Retya, Linster harus mengakui bahwa kecepatan Retya cukup baik, namun apa yang paling menakutkan dari Retya adalah kekuatan serangannya.
__ADS_1
Setiap kali ia menahan serangan pedang Retya, Linster merasa bahwa Retya merupakan orang yang memiliki kekuatan terbesar yang pernah ia lawan.
Linster yang melompat mundur lagi menyadari bahwa di belakangnya adalah pasukan Marquis Gerda yang ia bawa, dengan cara ini Linster sudah tidak bisa mundur lagi.
Menarik nafasnya, Linster berkata sambil tersenyum "Aku harus mengakui bahwa kau memiliki kekuatan yang sangat kuat, tapi kau melupakan sebuah hal yaitu aku memiliki julukan sebagai tombak petir yang berarti aku lebih ahli di kecepatan".
Bersamaan dengan perkataan Linster, jejak petir dapat terlihat melalui matanya, Retya tahu bahwa Linster sudah mulai memakai kemampuan khususnya.
Lagipula setiap orang di dunia ini pasti memiliki 1 atau lebih kemampuan khusus, Linster ini pasti memiliki kemampuan khusus yang berhubungan terhadap petir dan kecepatan.
Meskipun mengetahui hal tersebut, Retya melangkah maju dan menebas Linster seperti sebelumnya, ia berencana mencoba seberapa besar peningkatan kekuatan Linster setelah memakai kemampuan khususunya.
"Tang!".
Suara tabrakan senjata kembali terdengar,.tapi kali ini orang yang dipukul mundur adalah Retya.
Retya mundur sejauh 4 langkah dengan sedikit terkejut, ia dipukul mundur bukan karena kekuatan Linster menjadi lebih besar darinya, namun kecepatan Linster menjadi sangat menakutkan.
Pada tabrakan pedang dan tombak tadi, gerakan Linster sangat cepat hingga bisa memukul tebasan nya sebanyak 5 kali memakai tombak. Retya harus mengakui bahwa Linster barusan melakukan 5 tusukan tombak hanya dengan waktu kurang dari sedetik, julukan tombak petir memang sangat sesuai dengan kekuatannya.
Sosok Linster menghilang, lalu ia sudah muncul di depan Retya.
Linster menusuk tombaknya secepat mungkin menuju Retya sebelum ia bisa menyadarinya "Tidak peduli seberapa kuat dirimu, selama tombak ku bisa membunuh musuh sebelum ia bisa menyadarinya, maka aku adalah orang yang menjadi pemenangnya!".
__ADS_1