PERJUANGAN MENJADI RAJA

PERJUANGAN MENJADI RAJA
BAB 282 : AKHIR RAJA ALBERT


__ADS_3

Raja Albert yang berdiri di atas gerbang ibukota tersenyum, untungnya ia merebut mesin pembuka gerbang ibukota tepat waktu. Jika tidak ada masalah, mereka pasti berhasil menutup gerbang timur Ibukota.


Walaupun mereka kemungkinan besar tetap kalah, tapi selama Myro gagal membuka gerbang kota memakai pemberontak, ia pasti harus mengorbankan banyak sekali pasukannya supaya mampu merebut tembok timur Ibukota Kerajaan Orc-Goblin.


Selama bisa membuat Myro mengalami kerugian besar, Raja Albert merasa itu sudah cukup.


Ketika semua orang berpikir gerbang timur ibukota akan menutup, sebuah tombak besi tiba-tiba terbang.


"Brak!".


Semua orang menatap ke arah gerbang timur ibukota penuh rasa kaget sebab gerbang yang hampir menutup berhenti, lebih tepatnya sebuah tombak besi terletak di antara celah gerbang kota yang hampir tertutup.


Tombak itu terbuat dari besi yang cukup kuat sampai-sampai dapat menghentikan gerbang kota yang hampir tertutup. Tombak besi berada di tengah-tengah 2 gerbang kota yang sedang ditutup, karena keberadaan tombak besi di tengah-tengah maka gerbang yang tadinya tinggal selangkah lagi untuk ditutup harus tergganggu. Kecuali Raja Albert atau pasukannya melepas tombak tersebut, tidak mungkin bagi mereka menutup gerbang kota sekarang.


Retya yang kaget menatap ke arah belakang, lebih tepatnya ia penasaran siapa yang melempar tombak barusan.


Melihat ke belakang, Retya dan semua orang yang lain menemukan Myro mengangkat tangannya yang menunjukkan ia barusan melempar tombak, sebuah senyuman muncul di wajah Myro "Maju! Jangan buang kesempatan yang aku berikan!".


"Baik tuan!", teriak Retya dan Pasukan Kemenangan yang berhasil tiba di gerbang timur ibukota.


Untungnya tombak Myro dilempar sangat akurat hingga terletak tepat di tengah-tengah gerbang, kalau ia salah arah sedikitpun, tombak pasti tidak akan menghentikan gerbang kota yang akan menutup.


Meskipun celah di gerbang kota yang terbuka akibat tombak cukup kecil, paling banyak hanya 2 orang yang mampu melewatinya pada suatu waktu.


Namun bagi Retya dan Muteki, celah sebesar itu lebih dari cukup.


Raja Albert yang terdapat di atas tembok kota menggertakkan giginya, mereka gagal menutup gerbang kota. Siapa yang berpikir Myro akan melempar tombak besi untuk mengganggu gerbang kota yang hampi tertutup, Raja Albert tidak pernah memikirkan tindakan tersebut.


Menarik nafasnya, Raja Albert berteriak "Jangan panik! Segera hentikan musuh yang mencoba melewati celah gerbang! Lalu lepaskan tombak besi dari celah gerbang supaya kita dapat menutupnya lagi! Cepat sebelum banyak pasukan musuh telah melewati gerbang kota!".

__ADS_1


Mendengar teriakan Raja Albert, 500 penjaga istana bergegas menuju gerbang kota, mereka berusaha melepas tombak besi Myro yang berada di celah gerbang serta membunuh siapapun yang mencoba melewati celah tersebut.


Celah ini hanya dapat dilewati oleh 2 orang pada suatu waktu, oleh karena itu 500 penjaga istana mempunyai kepercayaan diri untuk menghentikan siapapun yang berani melewatinya.


Tidak peduli seberapa kuat Pasukan Kemenangan ataupun prajurit dari pegunungan utara, mereka mampu membunuh 2 orang dengan waktu kurang dari sedetik tanpa masalah sebab mereka terdiri dari 500 orang.


Tetapi mereka tidak pernah berpikir, sosok 2 orang paling awal yang muncul dari celah gerbang bukan 2 prajurit normal melainkan Retya bersama Muteki.


Melihat 500 pasukan yang mengepung mereka, Retya tersenyum "Muteki, apakah kau mampu mengatasi pasukan sebanyak ini? Apabila kau tidak bisa, aku sarankan untuk mundur!".


"Bukankah kau terlalu meremehkan ku, Retya?", kata Muteki membuka matanya dan menarik katana yang ada di pinggang "500 pasukan sama sekali tidak cukup bagi katana milikku!".


Retya dan Muteki tersenyum, pertarungan berdarah antara mereka melawan 500 penjaga istana mulai terjadi.


Penjaga istana terkejut saat setengah dari tubuh Retya berubah menjadi hitam serta pedang Muteki yang dipenuhi aura putih aneh, 2 orang ini berubah menjadi monster.


Meskipun mereka tidak bisa membunuh 500 orang secara langsung, mereka berhasil mengulur waktu sampai lebih banyak Pasukan Kemenangan dan prajurit pegunungan utara yang melewati celah di gerbang.


Retya yang dipenuhi darah bersama Muteki tidak membuang waktu, mereka bergegas menuju ke bagian atas gerbang kota dimana mesin pembuka gerbang berada.


Walaupun tombak Myro berhasil mempertahankan celah pada gerbang, celahnya terlalu kecil.


Jika 50.000 Pasukan Kemenangan dan 20.000 prajurit pegunungan utara berencana melewati celah itu, mereka mungkin membutuhkan waktu berjam-jam karena hanya 2 orang yang dapat lewat pada 1 waktu.


Oleh karena itu, mereka harus merebut mesin pembuka gerbang kota supaya gerbang ibukota dapat dibuka sepenuhnya.


"Yang mulia, harap mundur!", teriak 500 penjaga istana lain yang masih hidup.


Lagipula Raja Albert membawa 1000 penjaga istana bersamanya, 500 penjaga istana sudah mati di tangan Retya dan Muteki bersama pasukannya.

__ADS_1


Meskipun Retya dan Muteki hanya memimpin ratusan pasukan, Raja Albert mengerti 500 penjaga istana sama sekali bukan lawan mereka.


Tidak, 2000 penjaga istana sekalipun bukan lawan 2 pasukan ini sebab kekuatan pemimpin mereka sangat menakutkan.


Retya siap menebas pedangnya dan Muteki telah memegang katana nya, mereka siap mengalahkan semua penjaga istana dan membunuh Raja Albert apabila diperlukan untuk mengakhiri perang ini.


Raja Albert menatap sekitarnya dimana terdapat pasukan Orc yang masih sibuk menekan Goblin yang memberontak, lalu di depannya yang dijaga oleh penjaga istana.


Menghela nafas, Raja Albert melangkah maju "Sudah cukup, tidak ada gunanya untuk terus bertarung! Kalian adalah pasukan yang setia, tidak seharusnya kalian mati secara tidak berguna seperti ini akibat sifat keras kepalaku".


"Yang mulia--", penjaga istana terkejut dengan Raja Albert yang maju menuju pasukan musuh.


Namun ketika mereka berencana menghentikannya, Raja Albert mengangkat tangannya untuk menghentikan mereka, ia menatap Retya dan Muteki yang berdiri diam mengawasinya sambil tetap memegang senjata mereka "Aku Raja Albert mengakui kekalahan ku dari Count Kemenangan! Aku menyerah! Aku tidak keberatan apa yang terjadi kepadaku atau hukuman apa yang Count Kemenangan berikan, tapi pasukan Orc dan penjaga istana sama sekali tidak bersalah! Mereka bertarung akibat bujukan ku, jadi aku harap Count Kemenangan bisa memberikan keringanan hukuman pada mereka".


Suara langkah kaki terdengar dari belakang Retya dan Muteki.


Retya dan Muteki berbalik untuk menemukan Myro yang berjalan mendekati di bawah pengawalan Ren dan Yorou.


Sejak Retya serta Muteki berhasil melewati gerbang kota lalu menuju ibukota, Myro tahu peperangan sudah berakhir.


Oleh karena itu, Myro memutuskan melewati gerbang lebih dulu bersama Ren dan Yorou agar mempunyai kesempatan berbicara bersama Raja Albert.


Retya dan Muteki berlutut, aura ganas di seluruh tubuh mereka menghilang sangat cepat.


Bukan hanya mereka, semua Pasukan Kemenangan dan prajurit dari pegunungan utara ikut berlutut.


Myro melambaikan tangannya "Kalian boleh berdiri, tidak perlu terlalu sopan".


Setelah itu Myro berjalan dan berhenti tepat di depan Raja Albert "Aku dapat memberikan kesempatan bagi pasukan Orc dan penjaga istana yang memutuskan menyerah, setidaknya aku tidak akan memberikan mereka hukuman mati! Tapi sebagai raja, kau pasti tidak dapat menghindar dari hukuman akhir berupa kematian! Meskipun tahu akhir dari menyerah adalah kematian, apakah kau tetap tidak keberatan untuk menyerah?".

__ADS_1


Raja Albert menatap Myro sebelum melepas mahkotanya dengan senyum sedih "Apakah aku memiliki pilihan lain? Aku kalah, jadi memang sudah seharusnya aku dihukum mati! Ini adalah akhir dari Raja Albert dan Kerajaan Orc-Goblin! Kau menang, sesuai dengan julukan yang kau miliki, Count Kemenangan!".


__ADS_2