PERJUANGAN MENJADI RAJA

PERJUANGAN MENJADI RAJA
BAB 205 : PERUBAHAN KEADAAN KOTA RAYDE


__ADS_3

Walaupun Kartaz berusaha menutupi informasi mengenai Carla yang mati di atas tembok kota, tetapi pada akhirnya berita tersebut masih diketahui oleh pihak musuh.


Bagaimanapun Carla tertusuk di atas tembok kota, oleh karena itu beberapa anggota pasukan musuh ada yang melihat kejadian pembunuhan Carla.


Berita menyebar dengan cepat, pada awalnya beberapa anggota pasukan Torte dan Pube masih tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang Grand Duke mati semudah itu?


Namun setelah melihat tidak ada gerakan dari tembok Kota Rayde serta Carla yang tidak terlihat lagi, semua orang tahu berita tersebut benar.


Jadi pada hari ke 2 dari pengepungan Kota Rayde, perang meledak.


Semua orang berpikir musuh akan menyerang Kota Rayde, tapi yang mengejutkan adalah bukan Kota Rayde yang di serang musuh melainkan pasukan Jendral Torte dan divisi ke 5 saling bertabrakan.


Lagipula mereka sama-sama berencana merebut Kota Rayde, masalahnya tujuan mereka berbeda. Karena alasan itu, 2 kekuatan yang saling berhadapan mulai bertarung.


Kenapa mereka tidak menyerang Kota Rayde lebih dulu? Jawabannya Kota Rayde yang sekarang terlalu lemah hingga tidak bisa membuat mereka khawatir, pasukan di Kota Rayde terdiri dari sekitar 20.000 prajurit yang sangat sedikit dihadapan ratusan ribu prajurit mereka.


Apalagi Kota Rayde sekarang kehilangan Carla yang membuat semangat pasukan pertahanan kota turun. Meskipun Loir ditunjuk sebagai pengganti Carla, tapi semangat prajurit yang menurun masih terjadi.


Jika bukan karena adanya Tarka dan Kartaz di atas tembok kota, para prajurit mungkin tidak mempunyai semangat bertarung lagi yang menunjukkan seberapa besar semangat mereka berkurang akibat kehilangan Carla.


Karena Kota Rayde bukan musuh utama mereka lagi, Jendral Torte dan Pube menganggap pasukan di sisi berlawanan jauh lebih kuat yang sangat berisiko apabila terus dibiarkan, alasan tersebut menyebabkan perang di antara mereka meledak.

__ADS_1


"Apa? Kalian sama sekali tidak bisa menangkap pengkhianat Giro? Sebenarnya apa yang kalian makan? Menangkap 1 orang yang terjebak di kota sekalipun kalian tidak sanggup, kalian masih berani menyebut diri kalian sebagai pasukan elit pertahanan Kota Rayde?", teriakan marah Kartaz kembali terdengar di atas tembok kota.


Lebih tepatnya Kartaz terus marah tanpa henti kepada para prajurit yang mengejar Giro setiap jamnya sebab mereka selalu kembali dengan kegagalan. Di bawah kemarahan Kartaz, para prajurit hanya menundukkan kepala mereka penuh rasa bersalah sebab mereka benar-benar gagal.


Melihat Kartaz terus memarahi prajurit, Loir yang telah bangun sejak kemarin memegang pundak Kartaz sambil berwajah sedih "Kartaz, cukup! Pasukan juga lelah, biarkan mereka beristirahat dulu sekarang! Bagaimanapun mereka telah berusaha yang terbaik mencari si pengkhianat Giro, tidak ada gunanya terus menyalahkan mereka".


Kartaz menatap Loir sebelum mengangguk "Tuan Loir sudah berkata seperti itu, maka Kartaz tidak akan memarahi mereka lagi. Kalian dengar itu? Segera berterima kasih atas kebaikan Tuan Loir!".


"Tuan Loir, terima kasih! Kami pasti menemukan pengkhianat yang berani membunuh Nona Carla!", teriak para prajurit yang gagal penuh rasa tegas. Mereka memang berterima kasih atas kebaikan Loir yang tidak marah kepada mereka, tapi di sisi lain mereka merasa semakin bersalah akibat gagal melakukan tugas untuk membalas kebaikan Loir.


Prajurit itu pergi ke tempat tinggal mereka masing-masing, bagaimanapun mereka telah sibuk mencari Giro sepanjang malam hingga tidak tidur.


"Tidak perlu, baik itu Kakek Tarka, Jendral Kartaz, Torner, dan semua prajurit terus berjaga di atas tembok kota tanpa beristirahat. Sebagai Grand Duke Rayde yang baru, bagaimana mungkin aku bisa beristirahat meninggalkan kalian?", kata Loir tegas meskipun tubuhnya sangat lemah sekarang.


Banyak pasukan di sekitar tersentuh karena perkataan Loir, bahkan Kartaz menangis "Tuan Loir, anda sudah dewasa! Nona Carla tidak salah memilih anda sebagai penerus berikutnya!".


"Kau seorang jendral, kenapa kau menangis di depan para prajurit mu?", kata Loir memegang pundak Kartaz agar tidak terus menangis "Kalau dipikir-pikir, kemana Earl Myro? Dari tadi aku sama sekali tidak melihatnya!".


"Apabila kau mencari Nak Myro, ia pergi sejak tadi pagi!", kata Tarka mengingat ia bertemu Myro pada pagi hari "Ketika aku tanya apakah ia akan pergi ke gerbang kota, Nak Myro menjawab bahwa ia mempunyai pekerjaan lain yang harus dilakukan".


"Pekerjaan lain?", tanya Loir aneh, ia tidak mengerti apa yang dapat Myro lakukan di kota ini "Lupakan, mungkin Earl Myro hanya takut musuh menyerang. Dilihat bagaimanapun juga, kita tidak mempunyai kesempatan untuk menang, tidak aneh Earl Myro yang tidak terlalu dekat bersama kita memutuskan pergi. Belum lagi kita pernah mencoba membunuhnya, ia pasti tidak akan membantu kita sampai ikut di keadaan hidup dan mati. Kalian semua, terus berjaga! Walaupun musuh sedang saling bertarung sekarang, jangan sampai hal itu membuat kalian lengah! Ada kemungkinan musuh menyerang kita kapanpun, semua prajurit harus siap berperang!".

__ADS_1


"Baik, Tuan Loir!", teriak semua orang tegas.


Tarka melihat ke arah Loir sebelum mengarahkan penglihatannya di Kota Rayde "Apakah benar Nak Myro merasa takut? Bagaimana mungkin seekor singa takut menghadapi keadaan, aku sudah berkali-kali menilai seseorang dan jarang salah. Aku yakin, Nak Myro akan menunjukkan sesuatu yang mengejutkan kepada kita nanti".


...----------------...


Di sisi lain Myro sedang berjalan-jalan di sekitar Kota Rayde bersama Yorou, sedangkan 100 pengawalnya berjaga pada jalan sekitar sambil bersembunyi sehingga seseorang tidak akan mengetahui keberadaan mereka dengan mudah.


Hampir semua toko di jalan Kota Rayde tutup, lagipula sekarang merupakan keadaan perang yang membuat semua pedagang atau penduduk tidak berani membuka toko mereka.


Myro berjalan ke sebuah toko pandai besi dan mengetuknya hati-hati.


Sebuah lubang berbentuk segi empat terbuka pada pintu kayu toko, 1 pasang mata tajam menatap Myro "Siapa kau? Apakah kau tidak lihat toko kami tutup? Apabila kau mencoba membeli senjata, cari toko lain yang tetap buka sana! Kami tidak segila itu untuk membuka di waktu perang!".


Sebelum lubang pada pintu toko kembali menutup, Myro tersenyum "Aku tidak berpikir, kalian berani memanggil tuan kalian sendiri sebagai orang gila! Cepat buka pintunya, aku memiliki tugas penting untuk diberikan kepada kalian".


"Tuan?", kata orang dibalik pintu ragu-ragu.


Ia mengamati Myro hati-hati dan menyadari sesuatu, lubang pada pintu langsung menutup, setelah itu pintu perlahan-lahan terbuka.


"Ternyata tuan, kenapa anda tidak mengatakannya dari awal? Aku, kepala cabang markas Kota Rayde siap membantu tuan!", kata pria yang tiba-tiba muncul dari balik pintu toko yang baru terbuka.

__ADS_1


__ADS_2