PERJUANGAN MENJADI RAJA

PERJUANGAN MENJADI RAJA
BAB 43 : SIAPA PENGKHIANATNYA?


__ADS_3

Myro membuka matanya dan menyadari bahwa hari sudah pagi, ia berdiri dari tempat tidurnya dan mengganti pakaiannya menjadi baju besi lagi.


Kemarin mereka hampir tidak tidur sepanjang malam sebab pangeran ke 4 melakukan pemeriksaan besar-besaran terhadap para petinggi, terutama Luin. Namun seperti yang Ren jelaskan bahwa pangeran ke 4 sama sekali tidak bisa menemukan bukti apapun atau jejak pengkhianatan, oleh karena itu pemeriksaan kemarin malam berakhir tanpa hasil.


Masalahnya dengan tidak ditemukan pemberontak maka hal ini membuat pangeran ke 4 merasa khawatir, ia tidak memperbolehkan peperangan lagi sebelum pemberontak berhasil ditemukan agar kejadian kemarin tidak terjadi lagi.


Myro yang baru bangun dari tidurnya memakai kemampuan dunia miliknya lagi, kali ini Myro memanggil seorang prajurit Kavaleri Mongol normal lagi.


Selama beberapa hari setelah memanggil Ren, setiap kali Myro melakukan pemanggilan maka ia mendapatkan anggota Kavaleri Mongol yang baru. Meskipun tidak unik seperti Ren, setidaknya hal ini masih jauh lebih baik daripada mendapatkan pengikut yang tidak bisa bertarung seperti pedagang atau apapun, lagipula mereka berada di tengah medan perang sekarang.


Myro berjalan pergi dari tendanya dan membiarkan prajurit Kavaleri Mongol itu pergi ke Falka untuk melaporkan, bagaimanapun Falka merupakan pemimpin Kavaleri Mongol milik Myro sehingga setiap Kavaleri Mongol yang baru harus melapor padanya.


Setelah Myro berjalan ke tempat berkumpul mereka yang merupakan para petinggi pasukan Myro seperti Ibu Myro, Ferbas, Ren dan Falka.


Myro menemukan bahwa ibunya dan Ren sudah ada di tempat tersebut. Mereka sedang duduk di sekeliling sebuah api unggun, Ibu Myro terlihat sedang memasak sesuatu di atas api unggun tersebut.


"Apakah kau sudah bangun? Ibu sudah membuat sarapan, karena ada banyak bahan disini sehingga ibu membuat bubur ayah, sebentar lagi bubur ini jadi sehingga kau bisa menunggunya", kata Ibu Myro yang sedang sibuk memasak.


Myro mengangguk dan duduk di kursi kosong dekat api unggun tersebut, sedangkan Ren hanya sedikit menunduk hormat kepada Myro sebelum lanjut membaca bukunya.


Melihat buku yang sedang dibaca Ren adalah buku sejarah, Myro tidak bisa untuk tidak bertanya "Apakah cerita pada buku itu menarik?".


"Sebenarnya cerita pada buku ini tidak begitu menarik", kata Ren mejelaskan sambil tetap membaca buku tersebut.


"Tidak menarik? Lalu kenapa kau membacanya?", tanya Myro penasaran.

__ADS_1


"Tuan, tidak ada salahnya membaca banyak buku sejarah. Di setiap sejarah, terdapat banyak sekali kesalahan yang dilakukan orang-orang dulu, kita membacanya agar tidak melakukan kesalahan yang sama dengan mereka", kata Ren terus membaca.


Ibu Myro berjalan mendekat dengan 2 mangkuk bubur di tangannya "Ini bubur kalian, Ren, letakkan dulu buku milikmu ketika makan".


"Terima kasih, Nona Risa", kata Ren yang meletakkan bukunya di samping.


"Terima kasih, ibu", kata Myro yang juga mengambil mangkuk bubur tersebut.


Melihat 2 orang yang mulai makan, Ibu Myro sedikit tersenyum dan mengambil mangkuk buburnya sendiri sebelum mulai makan juga.


Setelah menghabiskan semua bubur di mangkuk itu, Myro tidak bisa untuk tidak bertanya lagi "Kemana Ferbas dan Falka? Apakah mereka tidak sarapan bersama kita?".


"Ferbas sarapan bersama para prajurit, menurutnya ini adalah strategi terbaik untuk tetap dekat bersama para prajurit. Sedangkan untuk Falka, ia sibuk berlatih. Bagaimanapun Falka sudah pernah menjelaskan kepada tuan bahwa ia harus berlatih paling tidak 7 jam sehari, jika tidak maka kemampuannya akan menjadi berkarat. Padahal tidak berlatih sebanyak itu juga tidak akan membuat kemampuannya begitu berkarat", kata Ren.


Myro sedikit mengangguk "Lalu, bagaimana dengan apa yang kau katakan kemarin? Bukankah kau sekarang berencana memberitahuku siapa pengkhianatnya?".


Ren berdiri dari tempat duduknya, ia melihat ke arah Ibu Myro yang ada di samping sebelum berkata "Nona Risa, anda juga bisa ikut apabila tertarik namun semua yang terjadi setelah ini harus dirahasiakan dari orang lain. Lebih tepatnya, jika rahasia ini sampai ke pangeran ke 4 ataupun para petinggi yang lain maka masalah besar pasti terjadi".


Ibu Myro melambaikan tangannya "Kalian bisa pergi, bagaimanapun kekuatan Ren sudah cukup untuk melindungi Myro. Selama beberapa hari berlatih ini, aku merasa kekuatanku sudah kembali sebanyak 70%, oleh karena itu aku harus terus berlatih agar kembali kuat seperti sebelumnya".


Ren tidak keberatan terhadap keputusan Ibu Myro "Tuan, kalau begitu ayo pergi".


"Kemana?", tanya Myro yang juga berdiri dari kursinya.


"Tentunya kita harus menemui pengkhianat ini secara langsung", kata Ren yang mulai berjalan pergi.

__ADS_1


Walaupun Myro masih merasa sangat bingung, ia mengikuti Ren tanpa banyak bertanya lagi, Myro yakin bahwa Ren sama sekali tidak merencanakan sesuatu yang buruk padanya.


...----------------...


Myro berdiri diam di tempatnya dengan terkejut, ia tidak pernah berpikir bahwa Ren membawa dirinya pergi ke tenda Jendral Limo.


Saat ini Myro dan Ren sudah ada di tenda yang menjadi ruangan pribadi milik Jendral Limo.


Mereka berdiri di depan Jendral Limo yang sibuk mengerjakan banyak kertas di mejanya. Lagipula ada banyak sekali hal yang harus diurus saat memimpin pasukan baik itu senjata, zirah dan makanan untuk para pasukan selama perang, hal ini tentunya membuat Limo menjadi sibuk.


Apa yang Myro tidak mengerti adalah alasan Ren membawanya kesini, tidak peduli bagaimana Myro berpikir maka Limo ini pasti tidak mungkin mengkhianati pangeran ke 4 sebab ia adalah orang kepercayaan kakek pangeran ke 4.


Selain itu, Limo sudah berada di posisi yang sangat tinggi di militer Kerajaan Azeroth, tidak mungkin ia setuju untuk membunuh pangeran karena bujukan pangeran atau orang lain sebab hal itu pasti menghancurkan karirnya di militer jika diketahui oleh orang lain.


Limo meletakkan alat tulisnya di meja sebelum berkata "Maaf membuat kalian menunggu, aku memiliki banyak sekali pekerjaan beberapa hari ini sehingga aku harus menyelesaikan hal ini dulu agar bisa berbicara dengan kalian. Tapi sangat aneh bahwa kalian datang untuk menemui ku, kenapa kalian datang kesini?".


Ren melihat ke arah 2 penjaga yang berdiri di depan pintu tenda ini "Apabila jendral tidak keberatan, bisakah membiarkan 2 penjaga yang ada di pintu tenda ini untuk pergi lebih dulu. Aku dan tuanku memiliki hal yang sangat penting tentang pengkhianat kemarin, oleh karena itu untuk sekarang maka semakin sedikit orang yang mendengar, hal itu akan menjadi semakin baik".


"Kalian sudah menemukan pengkhianatnya? Sangat hebat!", kata Limo yang berdiri sambil menatap dengan penuh penghargaan "Kalian yang menjaga pintu, kalian bisa pergi dulu untuk sekarang! Aku memiliki sesuatu yang penting untuk dibicarakan disini".


"Jendral, bagaimana dengan menjaga anda--", kata pasukan itu ragu.


"Dengan kekuatanku, apakah aku bisa dibunuh semudah itu?", tanya Limo.


Melihat jawaban tegas Limo, para prajurit itu hanya bisa sedikit membungkuk sebelum pergi.

__ADS_1


Limo kembali menatap Ren sambil bertanya penuh rasa penasaran "Jadi Nona Ren dan Tuan Myro, siapa pengkhianatnya kemarin?".


__ADS_2