PERJUANGAN MENJADI RAJA

PERJUANGAN MENJADI RAJA
BAB 220 : KEKALAHAN DIVISI 4


__ADS_3

Tidak ada lagi waktu untuk menghindari panah di depan wajahnya, jadi Bofer mengangkat pedangnya dan menebas panah tersebut.


"Brak!".


Bofer dipukul mundur sejauh 4 langkah akibat kekuatan ledakan panah, tapi setidaknya ia berhasil menebas panah menjadi 2 bagian sehingga hidupnya tidak lagi terancam.


Ketika Bofer baru menghela nafas dan berencana menurunkan pedang yang ia letakkan di depan wajahnya untuk menghalangi anak panah barusan, sesuatu yang mengejutkan terjadi.


"Stab!".


Anak panah yang lain menusuk dirinya tepat di pundak, bahkan baju zirah besi yang selalu ia banggakan ditusuk sangat mudah oleh anak panah itu.


Darah jatuh dari pundak Bofer yang tertusuk panah, ia jatuh ke tanah akibat gaya dorong panah dan membuka matanya lebar-lebar penuh rasa tidak percaya.


Di antara pasukan kavaleri musuh, ia telah melihat Falka yang sangat hebat memanah. Di panah ke 1, Bofer yakin panah itu adalah milik Falka.


Lalu siapa yang menembak panah ke 2? Serangan panah ke 2 mirip dengan panah ke 1, kecuali target mereka yang berbeda. Panah ke 1 menembak kepala, bertujuan mengalihkan perhatiannya.


Ketika Bofer menghentikan panah ke 1, maka panah ke 2 memanfaatkan perhatiannya yang dialihkan supaya dapat menusuk pundak kanan Bofer.


Kenapa pundak kanan? Alasan musuh pasti untuk menganggu tangan kanan Bofer yang memegang pedang, saat pundaknya tertusuk panah, Bofer tidak lagi mampu bertarung seperti sebelumnya.


Masalahnya 2 panah ini sangat kuat, di antara seluruh Kavaleri Mongol yang hebat memanah, Bofer yakin cuma Falka yang bisa melakukannya sebab Bofer mempunyai pengamatan yang tajam. Ia telah mengamati Falka bersama Kavaleri Mongol yang memanah divisi 4 sebelumnya.


Walaupun Kavaleri Mongol hebat menahan, tapi tidak ada seorangpun yang dapat membunuhnya sendirian. Paling tidak 5 Kavaleri Mongol harus bergabung supaya dapat membunuhnya memakai panah.


Tetapi ada 1 pengecualian, yaitu Falka. Setiap kali Falka menembak panah, Bofer merasakan krisis hidup dan mati yang membuatnya semakin yakin.


Apakah Falka mampu menembak 2 panah selama 1 detik? Tidak mungkin, tidak peduli seberapa hebat seseorang, memanah tidak secepat itu.


Seseorang harus mengambil anak panah, meletakkannya di busur, membidik ke arah musuh, sebelum mulai menembak. Semua gerakan di atas tidak mungkin dilakukan hanya sedetik.

__ADS_1


Meskipun dipenuhi rasa terkejut dan sakit dari pundaknya, Bofer berdiri secepat mungkin.


Ia melihat ke arah Falka yang mendekat, kali ini Falka membidik busur ke arah dirinya lagi dan menembak tanpa ragu.


Bofer melompat ke samping untuk menghindari panah Falka, ia tidak berani menebas panah Falka lagi sebab tangan kanannya terluka sampai-sampai tidak bisa memegang pedang dengan benar.


Namun ketika Bofer sedang berada di udara dan baru berhasil menghindari panah Falka, semua kebingungan yang ada di kepalanya barusan terjawab.


Falka yang bergegas menuju dirinya menggerakkan kepala menuju samping, di posisi kepala Falka barusan, sebuah panah lewat dan menusuk tepat di tubuh Bofer.


"Stab!".


Lagi-lagi zirah besi Bofer tidak berguna, ia mendarat di tanah dengan sebuah panah tambahan yang menusuk perutnya.


Bofer merasakan panah barusan berhasil menusuk organ pentingnya, tapi ia tidak peduli terhadap rasa sakit dan krisis hidup mati akibat panah pada perutnya.


Ia menatap orang di belakang Falka, paling tidak sebelum mati, Bofer harus tahu siapa yang membunuhnya.


Melihat di belakang Falka, Bofer menemukan seorang anak muda yang menurunkan busurnya.


Mengamati Myro yang mengamatinya juga dengan tajam, Bofer memuntahkan seteguk darah lagi sebelum tubuhnya jatuh ke tanah "Bagaimana mungkin ia mampu menembak ku melalui jarak lebih dari 1000 meter? Tidak mung--".


Tanpa menunggu kata-katanya selesai, tubuh Bofer jatuh ke tanah.


Panah ke 2 milik Myro yang menusuk dirinya ternyata berhasil menembak tepat di jantung Bofer, tidak ada lagi kesempatan baginya hidup.


Bukan cuma Bofer yang terkejut, hampir semua orang di medan perang kaget.


Seberapa banyak pemanah yang dapat menembak dari jarak 1000 meter dengan akurat? Hampir tidak ada! Mungkin hanya para pemanah terbaik di seluruh kerajaan.


Herfu di sisi lain menilai Myro semakin tinggi, sebagai pejabat militer tingkat atas kerajaan, Herfu mengetahui lebih jelas mengenai seberapa hebat kemampuan memanah Myro barusan.

__ADS_1


Di seluruh Kerajaan Azeroth, kemampuan memanah Myro bisa berada di urutan 10 besar.


Jangan lupa Myro baru berusia kurang dari 20 tahun sedangkan sebagian besar dari mereka yang berada di atas Myro telah berusia di atas 30 hingga 40 tahun.


Di sisi lain, Falka menghentikan kudanya sebelum mengangguk kepada Myro "Kemampuan memanah tuan tidak buruk, setidaknya tuan mencapai setengah dari kemampuan memanah ku. Padahal tuan baru berlatih kurang dari 10 tahun, jika tuan terus berlatih selama 20 tahun, aku takut diriku sekalipun tidak dapat menjadi lawan tuan lagi".


Myro menatap tangannya yang memerah akibat menarik tali busur terlalu kuat, bagaimanapun ia harus menembak sejauh 1000 meter yang membuat Myro harus memakai seluruh kekuatannya untuk menarik tali busur.


Pada awalnya Myro sama sekali tidak berencana memanah, tapi semua ini adalah saran Falka.


Karena Ren menunjukkan keberhasilannya dan Feld yang melatih kecerdasan, strategi dan kelicikan Myro selama pelatihan lebih dari 5 tahun ini. Falka tidak berencana untuk kalah, lagipula sejak mereka mengalahkan Kerajaan Kavaleri, Myro terus berlatih tanpa henti baik itu kemampuan bertarung atau pengetahuan.


Di bawah pelatihan Falka, Retya, Lopen, Aclan meskipun cuma sebentar, Myro bisa bertarung hampir menggunakan semua senjata.


Ia belajar memanah dari Falka, pedang dari Retya, pedang dan perisai dari Aclan serta pertarungan tangan kosong dari Lopen.


Meskipun semua kemampuan senjata Myro tidak sehebat Falka, Retya, Aclan dan Lopen, tapi hanya Myro setidaknya mencapai setengah kemampuan mereka masing-masing di semua bidang.


Retya pasti menang bertarung menggunakan pedang melawan Myro, tapi jika itu menggunakan panah, Retya pasti kalah sebab ia tidak bisa memakai panah.


Begitu juga Aclan, Lopen atau Falka sendiri, mereka tidak ahli menggunakan semua semua senjata seperti Myro yang langsung dilatih oleh para ahli di bidang masing-masing yang membuat Myro bisa memanfaatkan senjata apapun.


Myro yang sangat senang atas keberhasilan dari latihannya yang ditunjukkan dari mengalahkan Bofer segera berteriak sambil mengangkat busurnya tinggi-tinggi "Menyerah kalian, para pemberontak! Jendral pemberontak Bofer telah jatuh, tidak ada gunanya lagi terus melakukan perlawanan!".


Para prajurit Myro kembali sadar, mereka semua mengangkat senjata mereka dan ikut berteriak senang "Aaaaa! Kemenangan!".


"Earl Myro berhasil menjatuhkan jendral musuh!".


"Menyerah! Siapapun pemberontak yang tetap mengangkat senjata mereka akan dibunuh!".


Di sisi yang lain, pasukan musuh mulai panik. Mereka kehilangan jendral yang memimpin mereka, sebagian besar pasukan divisi 4 masih menatap tubuh Bofer yang mati penuh rasa tidak percaya "Tidak mungkin! Bagaimana bisa Jendral Bofer dikalahkan semudah ini?".

__ADS_1


Ren yang telah menyiapkan strategi menutup kipas lipatnya, kali ini strateginya tidak lagi berguna sebab perang telah berakhir lebih cepat.


Tanpa Bofer, divisi 4 kehilangan semangat mereka untuk memberontak.


__ADS_2