
"Apakah pasukan di Benteng Trock masih akan melawan? Tanpa makanan, bukankah mereka sama sekali tidak bisa bertahan di Benteng Trock? Saat ini kita hanya perlu mengepung mereka, setelah 4 sampai 5 hari maka semua orang di Benteng Trock sudah kehabisan tenaga akibat kelaparan! Saat waktu itu tiba, kita hanya perlu mereka dan mengakhiri perang ini", kata Luin yang melangkah maju, ia masih mencoba terlihat bersinar agar pangeran ke 4 tidak melupakan dirinya.
Melihat Luin ini, Ren menggelengkan kepalanya "Aku tahu bahwa kau berusaha terlihat cerdas di depan pangeran ke 4, tapi paling tidak kau harus menggunakan sedikit kecerdasan milikmu itu! Apakah kau pikir orang-orang di Benteng Trock hanya akan berdiri diam sampai mati kelaparan? Jika mereka tahu bahwa pada akhirnya mereka akan mati kelaparan, apakah kau berpikir mereka hanya menunggu keajaiban datang seperti makanan jatuh dari langit? Kapten Jerat, apabila kau berada di posisi Ritke maka apa yang akan kau lakukan?".
Jerat merasa terkejut bahwa Ren tiba-tiba bertanya pada dirinya, ketika semua orang menatap dirinya maka Jerat berkata berdasarkan pengalamannya di medan perang "Jika aku tahu bahwa pada akhirnya aku dan pasukan ku akan mati kelaparan, lebih baik menyerah musuh serta mati di medan perang. Sebagai seorang prajurit, mati akibat melawan musuh serta berjuang untuk tanah air jauh lebih baik daripada mati karena kelaparan dan tidak melawan. Aku tidak tahu bagaimana keputusan Ritke, namun aku yakin sebagai sesama pemimpin di medan perang maka ia pasti membuat keputusan yang sama".
"Oleh karena itu!", kata Ren yang membuka kipas lipat di tangannya "Kemungkinan besar musuh akan menyerang malam ini, ketika semua prajurit sudah tidur maka mereka pasti menyerang! Jika aku menjadi Ritke maka target utama penyerangan ini adalah pangeran ataupun persediaan makanan kita, mereka berusaha membuat serangan kejutan kepada kita pada malam hari!".
"Sebelum Ritke melakukan serangan itu, maka kita harus membuat sambutan yang hangat untuk mereka! Biarkan pasukan Benteng Trock berpikir bahwa mereka berhasil mengejutkan kita dengan serangan mereka, padahal mereka sebenarnya sudah melompat di jebakan yang kita buat".
Semua orang menjadi bersemangat, bahkan senyuman percaya diri Ren membuat semua orang juga menjadi percaya diri.
Bahkan Myro tidak bisa untuk tidak semakin mengagumi Ren, ia seperti selalu bisa melihat masa depan yang akan terjadi di medan perang.
"Selama musuh tidak berada di Benteng Trock maka kita pasti menang, tapi jika Nona Ren memberikan kami bantuan strategi maka kemenangan pasti bisa lebih cepat dan mengurangi jumlah korban", kata pangeran ke 4 yang berusaha mencari bantuan dari Ren lagi.
"Aku sudah membantu kalian sehingga aku tidak akan bekerja setengah jalan!", kata Ren "Setidaknya sampai berhasil merebut seluruh Kerajaan Kavaleri, aku tidak keberatan untuk membantu kalian".
__ADS_1
...----------------...
Pada malam hari, Ritke sudah mengumpulkan seluruh pasukannya dengan senjata lengkap di lapangan Benteng Trock.
Saat ini hari sudah sangat gelap, bahkan sebagian besar api di perkemahan pasukan Kerajaan Azeroth sudah mati yang menunjukkan bahwa sebagian besar prajurit disana sudah tertidur kecuali mereka yang sedang berjaga.
Wakil Ritke bertanya dengan khawatir "Jendral, apakah tidak masalah bagi kita untuk menyerang musuh? Selama kita pergi dari Benteng Trock maka pasukan kita kehilangan perlindungan dari benteng, hal itu pasti membuat pasukan kita menjadi semakin lemah".
Ritke masih berdiri dengan tegak, walaupun cuaca pada malam hari sangat dingin tapi itu tidak mempengaruhi Ritke sama sekali.
"Nampaknya kau masih belum mengerti keadaan kita sekarang", kata Ritke dengan tegas "Apabila kita terus menunggu di benteng maka kita hanya akan mati kelaparan, ketika tubuh seluruh prajurit melemah akibat kelaparan maka pasukan musuh pasti memanfaatkan kesempatan itu untuk mengalahkan kita. Oleh karena itu, kita hanya bisa menyerang sebelum para prajurit mulai kelaparan!".
"Selama kita lebih beruntung lagi, maka kita mungkin bisa mengambil kepala pangeran yang memimpin musuh! Apabila pangeran mati maka itu pasti menjadi kemenangan kita, tanpa pangeran maka semua pasukan musuh pasti kehilangan arah. Semua alasan ini yang membuat aku memutuskan untuk menyerang malam ini, sekarang akan menjadi pertarungan terakhir kita untuk menentukan pemenang dan yang kalah".
Melihat bahwa Ritke sudah memikirkan semua ini dengan baik, wakilnya tidak banyak berbicara lagi dan hanya berdiri di belakang. Pasukan di Benteng Trock tidak memiliki kuda kecuali Rite dan wakilnya, jadi hampir sebagian besar pasukan disini merupakan infantri.
Ritke menarik pedangnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi hingga disinari cahaya bulan, Ritke menemukan bahwa waktunya sudah tepat yang membuat ia melambaikan pedangnya ke depan "Seluruh pasukan serangan, hari ini kita akan membalas tindakan mereka yang sudah membakar semua persediaan kita, ambil balik persediaan makanan miliki musuh! Jika diperlukan maka ambil kepala pangeran, siapapun yang berhasil membawa kepala pangeran kembali maka aku tidak keberatan untuk memberinya gelar Viscount dan membiarkan ia menguasai 1 kota waktu bertemu raja nanti!".
__ADS_1
"Aaaaa!", seluruh pasukan menjadi bersemangat saat mendengar bahwa mereka bisa menjadi bangsawan.
Perlahan-lahan gerbang besi yang melindungi Benteng Trock terbuka, sekitar 2000 pasukan bergegas maju menuju perkemahan pangeran ke 4 dengan kecepatan tercepat mereka.
Dengan memanfaatkan kegelapan malam maka mereka bisa mendekati perkemahan musuh dengan hati-hati, lalu setelah mereka pergi semakin dekat maka musuh sepertinya menyadari mereka.
"Brak!".
Suara alarm bergema di seluruh perkemahan pangeran ke 4, meskipun begitu Ritke sama sekali tidak panik sebab mereka sudah sangat dekat dari perkemahan, oleh karena itu sebelum pasukan musuh bisa bangun maka ia pasti sudah mulai membunuh mereka "Kalian sudah tidak memiliki waktu lagi untuk bersiap! Ini adalah kemenangan kami".
Ritke mendorong tembok kayu ringan perkemahan pangeran ke 4 dengan tendangan kuda miliknya, lalu 2000 orang mengikuti Ritke untuk menyerang pada tenda yang ada di sekitar.
Tanpa ragu sedikitpun, Ritke menyerang sebuah tenda milik musuh tapi menemukan bahwa ia tidak menusuk seorang prajurit pun, lebih tepatnya di tenda itu sama sekali tidak memiliki pasukan musuh.
Pada awalnya Ritke hanya merasa sedikit aneh, namun setelah ia menyerang 10 tenda sekaligus dan masih belum menemukan pasukan musuh maka wajah Ritke ia berubah.
Ia menatap ke sekitar untuk menemukan bahwa prajuritnya yang lain juga tidak bisa menemukan jejak pasukan musuh di tempat ini, hampir seluruh perkemahan ini sudah menjadi kosong.
__ADS_1
Sebagai seorang jendral besar yang sudah mengikuti banyak peperangan, Ritke langsung mengerti apa yang terjadi disini sehingga ia berteriak dengan panik ke pasukan di sekitanya "Semua pasukan lari dari sini! Perkemahan ini hanya sebuah jebakan untuk menjebak serta membunuh kita!".