PERJUANGAN MENJADI RAJA

PERJUANGAN MENJADI RAJA
BAB 209 : TUJUAN CARLA


__ADS_3

Rilia menemukan dirinya telah dikepung, siapa yang berpikir rencana terbaik miliknya hancur dengan mudah oleh ibu serta kakaknya.


"Ibu, kau benar-benar menakutkan! Baik dulu ataupun sekarang, kau masih sangat cerdas dan licik", kata Rilia mengakui kekalahannya "Tetapi bolehkah aku bertanya sedikit?".


"Silahkan! Untuk anakku yang paling cantik, ibu akan memberimu jawabannya", kata Carla mengangguk.


Rilia menarik nafas sebelum bertanya "Giro, kenapa kau mengkhianati pangeran ke 7? Bukankah kau merupakan orang kepercayaannya? Selain itu, ibu, nampaknya kau sudah mengetahui rencana ku dari awal. Kalau begitu, kenapa kau tidak langsung menghentikan ku? Sekarang seluruh wilayah Grand Duke Rayde menjadi kacau, jika kau menghentikan ku dari awal maka semua ini tidak akan terjadi bukan?".


"Giro, kau bisa menjawab pertanyaannya lebih dulu", kata Carla memberitahu Giro di sampingnya.


"Baik, Nona Carla!", jawab Giro hormat dan melangkah maju sedikit "Putri Rilia, aku mengakui bahwa kau merupakan orang yang cerdas. Padahal kau baru berusia 10 tahun, namun kau telah mewarisi kecerdasan dan kelicikan yang ibumu miliki. Tetapi kau kekurangan 1 hal akibat usiamu, kau mempunyai kecerdasan tapi tidak dengan pengalaman".


"Hati dan pikiran manusia dapat berubah-ubah kapanpun, di bawah manfaat serta keuntungan. Pada awalnya aku setia kepada pangeran ke 7 dan menjadi mata-mata terdekat keluarga Grand Duke Rayde memakai bantuan mu. Tapi suatu hari, Tuan Muda Loir datang menemui ku. Ia memberitahu mengenai Nona Carla yang menawarkan ku jabatan penguasa kota serta uang apabila berhasil membantu rencananya. Dihadapan keuntungan itu, aku tidak mampu menolak".


"Baik anda ataupun pangeran ke 7 sama-sama memiliki kelemahan fatal, kalian cerdas namun tidak mengerti perasaan pengikut kalian. Kami mungkin takut akan kekuasaan yang kalian miliki, meskipun begitu selama ada kesempatan menjadi lebih kaya dan berkuasa, seseorang dapat berkhianat kapanpun. Ibumu yang cerdas dan mempunyai pengalaman di politik membantu ayahmu dulu, jauh lebih mengerti daripada pikiran seorang wanita cerdas berusia 10 tahun".


"Baiklah, aku rasa jawaban Giro cukup", kata Carla mengangguk "Sekarang aku akan menjawab pertanyaan mu yang lain. Menurutmu kenapa aku tidak menghentikan tindakanmu dari awal dan membiarkan kekacauan di wilayah Grand Duke Rayde terjadi? Apakah kau belum mengerti jawabannya, anakku Rilia? Aku memanfaatkan kalian untuk membersihkan pemberontakan Torte!".


Rilia membuka matanya lebar-lebar penuh rasa tidak percaya, ibunya berani menggunakan tangan pangeran ke 7 untuk membersihkan pemberontakan Torte dengan memanfaatkan dirinya yang bisa menarik pangeran "Divisi 5 jauh lebih kuat daripada pasukan Torte, bukankah ibu akan mengalami kerugian yang lebih besar jika melawan divisi 5?".

__ADS_1


"Siapa yang mengatakan hal tersebut?", kata Carla tersenyum percaya diri "Divisi 5 baru selesai bertarung melawan pasukan Torte. Walaupun Torte tidak bisa mengalahkan divisi 5, bukankah divisi 5 mengalami kerugian dan kelelahan juga?".


"Meskipun lelah dan mendapatkan banyak korban, divisi 5 tetap memiliki kesempatan mengalahkan Kota Rayde! Kemungkinan besar ada 70.000 pasukan divisi 5 yang bertahan dari melawan pasukan Torte, apakah ibu tidak takut mereka menghancurkan Kota Rayde?", kata Rilia tersenyum mengejek. Tidak peduli seberapa hebat Tarka, ia hanya mempunyai 20.000 pasukan penjaga Kota Rayde.


Apalagi divisi 5 bukan dipimpin oleh orang sembarangan melainkan jendral Pube yang terkenal juga, walaupun kemampuannya di bawah Tarka tapi tidak terlalu jauh berbeda.


"Apakah kau berpikir ibu tidak membuat persiapan apapun, adikku?", kata Loir dingin, kepedulian sebagai seorang kakak sebelumnya telah lama menghilang "Kakek selalu peduli terhadap kita, terutama kau merupakan anak perempuan yang paling dipedulikan kakek. Berdasarkan sifat kakek tersebut, apakah kau tidak merasa aneh saat mengetahui kakek tidak datang ke pesta ulang tahunmu? Meskipun kami tidak mengundang kakek, jangan lupa kakek adalah jendral perbatasan utara, bagaimana mungkin ia tidak mengetahui acara ulang tahunmu dari bangsawan atau pejabat lain yang diundang?".


Rilia tiba-tiba membeku, ia menatap ke arah tembok kota penuh rasa panik "Tidak mungkin, apakah kakek sekarang--".


...----------------...


Pube mengamati tembok Kota Rayde dengan wajah suram, strategi Tarka sangat beracun.


Karena ia harus mengalihkan perhatian Tarka, Pube mengirim pasukannya tanpa ragu sehingga sekitar 10.000 pasukan miliknya sudah mati di medan perang sedangkan Tarka paling banyak hanya kehilangan 2000 pasukan, ia mengalami kerugian 5 kali lipat.


"Jendral Pube, semangat pasukan kita menurun akibat kehilangan pasukan yang besar! Bukankah kita harus beristirahat dulu dan membuat strategi sebelum menyerang lagi?", tanya wakil Pube panik, ia merasa tidak perlu melakukan peperangan segila ini tanpa persiapan.


"Tidak, tunggu sebentar lagi! Rilia pasti sudah membunuh atau menangkap Loir, selama berita itu menyebar ke pasukan Kota Rayde maka kita pasti menang!", kata Pube tegas, pasukannya saat ini tinggal 60.000 prajurit namun Pube memilih terus menyerang.

__ADS_1


Ia tidak mempunyai pilihan lain, selama ia mundur maka Raja Azeroth V mungkin sudah menyadari mereka dan menjatuhkan hukuman mati untuk divisi 5.


Selama divisi 1 atau 2 dikirim, bahkan jika divisi 4 dan 5 bergabung, mereka pasti kalah.


Hal itu menunjukkan seberapa menakutkan kekuatan divisi 1 atau 2 yang mempunyai angka lebih di depan dari mereka.


Melihat Pube tidak mendengarkan sarannya, wakil Pube menggelengkan kepala lalu tidak berbicara lagi, ia cuma berdiri diam di belakang Pube sambil melihat rekannya yang terus mati di Kota Rayde dengan sakit hati.


Bagaimanapun semua prajurit di divisi 5 seperti raja, wakil Pube merasa sedih kehilangan rekan-rekannya.


Sewaktu perang terus berlanjut, seorang prajurit berlari ke depan Pube sambil berlutut, ia terlihat sangat panik "Jendral Pube, berita gawat!".


"Berita gawat?", kata Pube "Apa yang terjadi?".


Prajurit itu berkata dengan mulut gemetar ketakutan "Di barisan belakang pasukan kita, sekitar 500 meter dari posisi kita sekarang terdapat 80.000 pasukan yang bergerak cepat, kami yakin mereka menuju Kota Rayde".


"Apa? 80.000 pasukan? Siapa? Pasukan siapa itu?", wajah Pube berubah sebab jumlah musuh lebih besar darinya.


Belum lagi pasukan Pube telah berperang selama berhari-hari tanpa istirahat, jika mereka di serang sekarang dari belakang maka pasukannya pasti hancur.

__ADS_1


"Laporan kepada jendral, berdasarkan bendera yang mereka bawa, 80.000 pasukan itu berasal dari Jendral Perbatasan Utara, Jendral Herfu! Selain itu ada 10.000 pasukan Infanteri Salju yang memperkuat asal pasukan tersebut!", teriak prajurit tersebut.


Wajah Pube dan seluruh petinggi militer divisi 5 berubah, 80.000 pasukan yang menyerang dari belakang sudah sangat buruk, apalagi pasukan yang menyerang mereka kali ini adalah Jendral Herfu yang terkenal akan kemampuannya.


__ADS_2