PERJUANGAN MENJADI RAJA

PERJUANGAN MENJADI RAJA
BAB 145 : PERTARUNGAN YANG MENENTUKAN


__ADS_3

Sesuai dengan rencana penasihat putra mahkota sebelumnya, ada banyak prajurit yang datang ke Benteng Rulfes untuk bekerja sama.


Pada siang hari, sudah ada lebih dari 500 prajurit yang bergabung dengan Benteng Rulfes. Hal ini tidak bisa untuk tidak membuat putra mahkota senang, bahkan ketika ia sedang tidur maka putra mahkota memiliki senyum lebar di wajahnya.


Berbeda dari putra mahkota yang tidur penuh rasa senang, penasihatnya berada di ruang belajar sambil mengerjakan tumpukan dokumen yang ada di atas meja.


Sebagian dokumen ini mencatat mengenai masalah para prajurit yang baru bergabung, para prajurit ini berasal dari 3 kota yang ada di sekitar.


Sebagai penasihat, ia tidak sebodoh putra mahkota.


Peperangan Myro melawan pasukan gabungan 3 kota sangat aneh, padahal Myro memiliki kesempatan membunuh seluruh prajurit gabungan, tapi Myro membiarkan mereka melarikan diri.


Ia tidak percaya pasukan Myro kurang terlatih sehingga menyebabkan hal tersebut, pasukan di bawah tangan Myro adalah pasukan yang sudah mengalahkan Kavaleri Serigala Jendral Golder, bagaimana mungkin pasukan Myro sama sekali tidak terlatih? Apabila benar begitu, Golder pasti tidak kalah.


Namun tidak peduli seberapa keras ia berpikir, penasihat tidak mengerti tujuan dari Myro.


Tidak ada keuntungan sedikitpun bagi Myro melepaskan pasukan gabungan 3 kota, kecuali Myro adalah senjata tersembunyi milik Kerajaan Orc-Goblin di Kerajaan Azeroth. Tetapi penasihat tahu bahwa hal itu tidak mungkin, Raja Orc tidak memiliki kecerdasan sebesar itu untuk meletakkan mata-mata hebat seperti Myro di Kerajaan Orc-Goblin.


Karena tidak bisa memikirkan rencana Myro, penasihat hanya menggelengkan kepalanya dan berhenti membuat waktu memikirkan hal tersebut.


Pada akhirnya seiring waktu, rencana Myro pasti terlihat. Ia hanya perlu menunggu sampai waktu itu tiba, lalu menyiapkan rencana mencegahnya.


...----------------...


Di gerbang Benteng Rulfes, para penjaga yang ada di atas tembok kota terlihat sangat lelah.

__ADS_1


Sebenarnya mereka sudah tidur pada siang hari dan mendapatkan giliran jaga sekarang yaitu pada malam hari, tapi meskipun sudah beristirahat cukup, mereka masih merasa lelah akibat keadaan malam hari.


Obor yang ada di atas tembok kota terus menyinari sekitar, namun akibat kegelapan malam maka tidak ada banyak hal yang bisa dilihat di sekitar tembok kota kecuali musuh tiba-tiba melakukan serangan besar-besaran.


"Ada pasukan yang mendekat!", teriak seorang prajurit Orc yang hampir tertidur, tapi sebelum menutup matanya ia menemukan ada beberapa ratus orang yang mendekat.


Kapten penjaga tembok kota membuka matanya, ia menatap ke arah pasukan yang semakin dekat dari tembok benteng mereka "Berhenti, siapa kalian? Apakah kalian tidak tahu bahwa Benteng Rulfes sedang berada di keadaan darurat militer, siapapun yang melangkah mendekati benteng tanpa izin akan dibunuh!".


Pemimpin dari sekitar 400 pasukan yang mendekat berteriak "Ada kesalahpahaman, kami Orc dan Goblin yang kalah dari Kota Horme, kami disini datang memberikan bantuan kepada Benteng Rulfes! Selain itu, aku membawa rekan-rekan prajurit Kota Horma untuk membantu!".


Kapten itu tidak langsung percaya melainkan mengangkat obornya sedikit agar 400 pasukan yang mendekat terlihat lebih jelas.


Menurut pengamatan kapten, ada sekitar 100 Orc dan 300 goblin di pihak itu. Beberapa dari anggota mereka terluka, sepertinya mereka langsung pergi ke Benteng Rulfes setelah kalah dari perang melawan Myro.


Kapten sama sekali tidak merasa aneh sebab 500 pasukan baru yang datang dari siang juga terluka, mereka memiliki mata merah penuh dendam terhadap Myro. Oleh karena itu, mereka tidak kembali ke kota mereka melainkan segera menuju Benteng Rulfes.


Pemimpin Orc yang baru datang dari Kota Horme tersenyum pahit "Rekanku, kami datang kesini tanpa kembali ke kota lagi. Aku tahu kalian curiga kepada kami, aku dan rekan-rekanku tidak keberatan menunggu sampai pagi. Tapi paling tidak kalian bisa memberi kami makanan beserta tenda bukan? Aku tidak mungkin membiarkan rekan-rekan ku tidur di tanah bersalju seperti ini, terutama para goblin, mereka bisa mati kedinginan".


Sebagai sesama Orc, kapten tentunya tidak sekejam itu untuk membiarkan rekan mereka yang jauh-jauh datang dari kota lain mati kelaparan ataupun kedinginan.


"Bawa beberapa makanan dan tenda kepada rekan kita", kata kapten kepada prajurit di belakangnya.


"Kapten, penasihat sudah memberitahu kita untuk tidak membuka gerbang pada malam hari, tidak peduli apapun yang terjadi--", kata prajurit tersebut mengingatkan kaptennya.


Tapi sebelum kapten selesai berbicara, seorang prajurit Orc lain menjadi dingin "Apa yang kau katakan? Apakah kau tidak keberatan membiarkan rekan kita mati di tanah bersalju besok pagi?".

__ADS_1


Melihat rekannya yang marah, prajurit itu ragu-ragu "Aku tidak bermaksud seperti itu, penasihat yang memberitahu--".


Kapten melambaikan tangannya "Cukup, aku tahu perkataan penasihat itu tidak salah, tapi aku tidak bisa membiarkan rekan-rekan kita mati kelaparan di tengah salju setelah datang jauh-jauh kesini untuk memberikan bantuan, lakukan apa yang aku katakan".


Karena kapten sudah membuat keputusan, prajurit itu hanya bisa pergi melakukan tindakan bersama prajurit yang lain, mereka membawa makanan ke para prajurit Kota Horme yang sudah menunggu.


...----------------...


Penasihat baru berencana pergi tidur setelah melakukan pekerjaan harian miliknya, tapi ketika ia baru akan tidur, sebuah suara menganggu mimpinya.


Tiba-tiba penasihat melompat terkejut dari tempat tidurnya sebab ia bisa mendengar suara gerbang kota yang terbuka, padahal ia tidak memberikan izin apapun.


Sebagai penasihat, ia tentunya memiliki beberapa kecerdasan hingga bisa dipercaya putra mahkota.


Sejak mendengar suara gerbang kota yang terbuka, penasihat sudah mengerti semua rencana Myro dan tujuan ia membiarkan banyak pasukan gabungan dari 3 kota yang melarikan diri.


Melompat dari tidurnya, penasihat berlari ke arah gerbang kota penuh rasa panik "Kita sudah dijebak, siapa yang berpikir Myro itu sangat licik sampai-sampai memakai strategi seperti ini!".


...----------------...


Beberapa prajurit Benteng Rulfes membawa makanan serta tenda bagi para prajurit dari Kota Horme, meskipun prajurit kota lain tidak boleh datang ke Benteng Rulfes pada malam hari, tapi setidaknya mereka bisa mendapatkan makanan dan tenda yang sangat membantu mereka bertahan sampai siang hari.


Pemimpin pasukan Kota Horme melangkah maju bersama pasukannya, pemimpin itu menggenggam tangan orang yang membawa makanan di posisi paling depan sambil menangis "Terima kasih, terima kasih, apabila kalian tidak memberikan bantuan maka kami pasti mati kelaparan disini. Terima kasih atas kebaikan kalian".


Sebelum pasukan dari Benteng Rulfes merasa senang, pemimpin pasukan Kota Horme berkata dingin "Aku pasti sangat berterima kasih apabila kalian sebaik ini dari awal kepada para penduduk, tapi sekarang sudah terlambat!".

__ADS_1


Di waktu bersamaan, pasukan dari Kota Horme menarik senjata yang sudah mereka sembunyikan dan menusuk para Orc Goblin yang membawa makanan serta tenda ini.


Pertarungan yang menentukan sudah di mulai.


__ADS_2